HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY
Matanya berkaca-kaca. Kalau tidak ada kekuatan
iman dalam dada ia mungkin telah memilih sirna dari
dunia. Ujian yang ia derita sangat berbeda dengan
orang-orang seusianya. Banyak yang memandangnya
sukses. Hidup berkecukupan. Punya pekerjaan yang
terhormat dan bisa dibanggakan. Bagaimana tidak, ia
mampu meraih gelar master teknik dari sebuah institut
teknologi paling bergengsi di negeri ini. Dan kini ia
dipercaya duduk dalam jajaran pengajar tetap di
universitas swasta terkemuka di ibukota Propinsi Jawa
Tengah: Semarang.
Tidak hanya itu, ia juga pernah mendapatkan
penghargaan sebagai dosen paling berdedikasi di
kampusnya. Ia sangat disegani oleh sesama dosen dan
dicintai oleh mahasiswanya. Ia juga disayang oleh
keluarga dan para tetangganya. Bagi perempuan
seusianya, nyaris tidak ada yang kurang pada dirinya.
Sudah berapa kali ia mendengar pujian tentang
kesuksesannya. Hanya ia seorang yang tahu bahwa
sejatinya ia sangat menderita.
Ada satu hal yang ia tangisi setiap malam. Setiap kali
bermunajat kepada Sang Pencipta siang dan malam. Ia
menangisi takdirnya yang belum juga berubah. Takdir
sebagai perawan tua yang belum juga menemukan
jodohnya. Dalam keseharian ia tampak biasa dan ceria.
Ia bisa menyembunyikan derita dan sedihnya dengan
sikap tenangnya.
Ia terkadang menyalahkan dirinya sendir kenapa
tidak menikah sejak masih duduk di S.l dahulu? Kenapa
tidak berani menikah ketika si Gugun yang mati-matian
mencintainya sejak duduk di bangku kuliah itu
mengajaknya menikah? Ia dulu memandang remeh
Gugun. Ia menganggap Gugun itu tidak cerdas dan tipe
lelaki kerdil. Sekarang si Gugun itu sudah sukses jadi
pengusaha cor logam dan baja di Klaten. Karyawannya
banyak dan anaknya sudah tiga. Gugun sekarang juga
punya usaha Travel Umroh di Jakarta. Setiap kali
bertemu, nyaris ia tidak berani mengangkat muka.
Kenapa juga ketika selesai S.l ia tidak langsung
menikah? Kenapa ia lebih tertantang masuk S.2 di ITB
Bandung? Padahal saat itu, temannya satu angkatan siYuyun menawarkan kakaknya yang sudah buka kios
pakaian dalam di Pasar Bringharjo Jogja. Saat itu kenapa
ia begitu tinggi hati. Ia masih memandang rendah
pekerjaan jualan pakaian dalam. Sekarang kakaknya
Yuyun sudah punya toko pakaian dan sepatu yang
lumayan besar di Jogja. Akhirnya ia menikah dengan
seorang santriwati dari Pesantren Al Munawwir, Krapyak.
Dan sekarang telah membuka SDIT di Sleman. Apa
sebetulnya yang ia kejar? Kenapa waktu itu ia tidak juga
cepat dewasa dan menyadari bahwa hidup ini berproses.
Ia meneteskan airmata.
Dulu banyak mutiara yang datang kepadanya ia
tolak tanpa pertimbangan. Dan kini mutiara itu tidak
lagi datang. Kalau pun ada seolah-olah sudah tidak lagi
tersedia untuknya. Hanya bebatuan dan sampah yang
kini banyak datang dan membuatnya menderita batin
yang cukup dalam.
Matanya berkaca-kaca. Ketika ia sadar harus rendah
hati. Ketika ia sadar prestasi sejati tidaklah semata-mata
prestasi akademik. Ketika ia sadar dan ingin mencari
pendamping hidup yang baik. Baik bagi dirinya dan juga
bagi anak-anaknya kelak. Ketika ia sadar dan ingin
menjadi Muslimah seutuhnya. Ketika ia menyadari,
semua yang ia temui kini, adalah jalan terjal yang panjang
yang menguji kesabarannya.
Umurnya sudah tidak muda lagi. Tiga puluh empat
tahun. Teman-teman seusianya sudah ada yang memiliki
anak dua, tiga, empat, bahkan ada yang lima. Adik-adik
tingkatnya, bahkan mahasiswi yang ia bimbing
skripsinya sudah banyak yang nikah. Sudah tidakterhitung berapa kali ia menghadiri pernikahan
mahasiswinya. Dan ia selalu hanya bisa menangis iri
menyaksikan mereka berhasil menyempurnakan separo
agamanya.
Hari ini ia kembali diuji. Seseorang akan datang.
Datang kepada orangtuanya untuk meminangnya. Ia
masih bimbang harus memutuskan apa nanti. Ia sudah
sangat tahu siapa yang akan datang. Dan sebenarnya ia
juga sudah tahu apa yang harus ia putuskan. Meskipun
pahit ia merasa masih akan bersabar meniti jalan terjal
dan panjang sampai ia menemukan mutiara yang ia
harapkan. Tapi bagaimana ia harus kembali memberikan
pemahaman kepada ayah-ibunya yang sudah mulai
renta?
Hand phone-nya berdering. Dengan berat ia angkat,
"Zahrana?" Suara yang sangat ia kenal. Suara Bu
Merlin, atasannya di kampus. Bu Merlin, atau lengkapnya
Ir. Merlin Siregar M.T., adalah Pembantu Dekan I.
Ia orang kepercayaan Pak Karman. Sejak SMA ia di
Semarang, jadi logat Bataknya nyaris hilang. Bahasa
Jawanya bisa dibilang halus.
"Iya Bu Merlin." Jawabnya dengan airmata menetes
di pipinya.
"Saya dan rombongan Pak Karman sudah sampai
Pedurungan. Dua puluh menit lagi sampai."
"Iya Bu Merlin." Jawabnya hambar, dengan suara
serak.
"Suaramu kok sepertinya serak. Sudahlah Rana,
bukalah hatimu kali ini. Pak Karman memiliki apa yangdiinginkan perempuan. Dia sungguh-sungguh berkenan
menginginkanmu."
"Iya Bu Merlin, semoga keputusan yang terbaik
nanti bisa saya berikan."
"Baguslah kalau begitu. Gitu dulu ya. O ya jangan
lupa dandan yang cantik."
Klik. Tanpa salam.
Kali ini yang datang melamarnya bukan orang
sembarangan. Pak H. Sukarman, M.Sc., Dekan Fakultas
Teknik, orang nomor satu di fakultas tempat dia
mengajar. Duda berumur lima puluh lima tahun. Status
dan umur baginya tidak masalah. Sudah bertitel haji.
Kredibilitas intelektualnya tidak diragukan. Materi tak
usah ditanyakan. Di Semarang saja ia punya tiga pom
bensin. Namun soal kredibilitas moralnya, susah Zahrana
untuk memaafkannya. Repotnya, jika ia menolak ia
sangat susah untuk menjelaskan. Ia harus berkata
bagaimana.
Ia telah membicarakan hal ini pada kedua sahabat
karibnya. Si Lina, yang kini jualan buku-buku Islami di
Tembalang. Dan si Wati yang kini jadi isteri lurah
Tlogosari Kulon. Lina berpendapat untuk tidak mengambil
risiko dengan menerima orang amoral seperti Pak
Karman itu. Apapun titel dan jabatannya. Moral adalah
nyawa orang hidup. Jika moral itu hilang dari seseorang,
ia ibarat mayat yang bergentayangan. Itu pendapat Lina.
Sedangkan Wati lain lagi, menurutnya sudah saatnya
ia tidak melangit. Mencari manusia setengah malaikat
itu hal yang mustahil. Selama Pak Karman masih shalat
dan puasa ya terima saja. Apalagi ia orang terpandang.Dan juga kesempatan seperti ini tidak selalu datang.
Terakhir Wati bilang, "Siapa tahu dengan menikah
denganmu, Pak Karman berubah. Dan di hari tuanya ia
sepenuhnya membaktikan umurnya untuk kebaikan.
Bukankah itu bagian dari dakwah yang agung pahalanya?"
Ia belum bisa mengambil keputusan. Kata-kata Wati
selalu terngiang-ngiang di telinganya. Ia nyaris
memutuskan untuk menerima saja lamaran Pak Karman.
Namun jika ia teringat apa yang dilakukan Pak Karman
pada beberapa mahasiswi yang dikencaninya diam-diam,
ia tak mungkin memaafkan. Jika sudah demikian tibatiba
wajah keriput kedua orangtuanya muncul dengan
sebuah pertanyaan, "Kowe mikir opo Nduk? Kowe
ngenteni opo? Dadine kapan kowe kawin, Nduk?"1
***
Lima menit sebelum rombongan Pak Karman
datang, Zahrana berbicara kepada kedua orangtuanya.
Ia minta kepada mereka pengertiannya jika ia nanti
mengambil keputusan yang mungkin tidak melegakan
mereka berdua. Diberitahu seperti itu kedua orangtuanya
menangkap apa yang akan terjadi. Dan mereka kembali
pasrah dalam kekecewaan. Namun mereka tetap
berharap akan terjadi hal yang membahagiakan. Mereka
berdoa, kali ini semoga keputusan putri semata wayang
mereka lain dari sebelum-sebelumnya. Semoga hatinya
terbuka. Segera menikah. Dan segera lahir cucu yang
jadi penerus keturunan.
1 Kamu mikir apa, Anakku? Kamu menunggu apa? Kapan kamu menikah,
Anakku?la meneguhkan jiwa, menata hati. la juga memprediksi
gaya bahasa yang akan disampaikan pihak Pak
Karman. Dan menyiapkan bahasa yang tepat untuk
menjawab. la juga tidak lupa menyiapkan hidangan yang
pantas untuk menghormati tamu. Ruang tamu telah ia
rapikan. Bunga-bunga ia tata, dan sarung bantal ia ganti
dengan yang baru. Tuan rumah harus bisa menjaga
kehormatan. Dan ia kembali meneguhkan prinsipnya
dalam menghadapi siapapun: harus tenang, bicara yang
tepat, rendah hati dan santun. Itulah senjata para
pemenang. Dan ia harus menang. Ia teringat perkataan
Napoleon Hill,
"Kebijakan yang sesungguhnya, biasanya tampak
melalui kerendahan hati dan tidak banyak cakap."
Ia kini tampak tegar. Tak ada lagi airmata. Mental
yang ia siapkan adalah mental seorang dosen pembimbing
yang siap maju sidang membela mahasiswanya
mempertahankan skripsinya. Ia sangat yakin akan
kekuatannya.
Ia berdandan secukupnya. Ia pakai jilbab hijau
muda kesayangannya. Sangat serasi dengan gamis
bordir hijau tua bermotif bunga melati putih kecil-kecil.
Hanya dirinya dan kedua orangtuanya yang akan
menyambut. Ia merasa tak perlu mengundang para
kerabat. Sebab seperti yang telah lalu, jika terjadi hal
yang tidak memuaskan hanya akan jadi gunjingan
panjang tak berkesudahan. Ia tak ingin itu terjadi lagi.
Ia ingin para kerabat diundang hanya untuk yang
sudah jadi. Yang tak ada ruang bagi mereka berbincang
kecuali kebaikan. Kali ini yang ia undang justru duaorang ibu-ibu yang biasa membantu keluarganya
selama ini.
Rombongan Pak Karman datang tepat jam setengah
lima sore. Tidak main-main. Empat mobil. la harus
mengakui kehebatan Bu Merlin mengorganisir ini semua.
Juga keberhasilan Bu Merlin memprovokasi Pak Karman
untuk nekat seperti ini. Ayah ibunya tampak kaget. Tidak
menduga yang datang akan sebanyak ini dan seserius
ini. Untung ruang tamu rumah orangtuanya cukup luas.
Hanya tiga orang yang tidak dapat tempat duduk.
Terpaksa duduk di beranda.
la yakin tujuan Bu Merlin baik, hanya saja Bu Merlin
tidak tahu visi hidupnya saat ini. Bukan sekadar materi
dan kedudukan yang ia harapkan dari calon suaminya.
la mencari calon suami yang bisa dijadikan imam. Imam
yang menjadi bagian tak terpisahkan dalam ibadahnya
kala mengarungi kehidupan. Karena itulah posisinya
benar-benar sulit kali ini. Bu Merlinlah yang selama ini
banyak membantunya di kampus. Dia jugalah yang dulu
memberi bocoran adanya lowongan dosen di kampusnya.
Rombongan telah duduk tenang. Pak Karman
menyukur bersih kumis dan cambangnya. Ia tampak
lebih muda dari biasanya. Koko biru muda dan peci hitam
membuatnya tampak alim. Seorang lelaki setengah baya,
mengaku sebagai adiknya Pak Karman, namanya Pak
Darmanto mengawali pembicaraan. Unggah-ungguh
dan basa-basi berjalan. Ia sendiri lebih banyak diam. Tak
bicara jika tidak perlu bicara. Ibunya yang biasanya
memang cerewet yang banyak mengimbangi bicara.
Sesekali ada lelucon-lelucon yang menghangatkansuasana. Makanan dan minuman dikeluarkan oleh dua
orang ibu-ibu yang rapi berkerudung.
"Tape ketan ini dibuat oleh anakku, si Zahrana ini
dengan penuh cinta. Siapa yang memakannya insya
Allah awet muda." Ibunya melucu sambil mempersilakan
tamu-tamunya menikmati hidangan seadanya. Mendengar
hal itu spontan Pak Karman berkomentar dengan
gaya lucu,
"Sebelum yang lain mengambil saya dulu yang harus
mencicipi. Agar awet muda dan bisa menyunting
bidadari."
Spontan perkataan itu disambut tertawa semua yang
hadir, kecuali dirinya. Entah kenapa perkataan itu
menurutnya tidak lucu. Perkataan itu seperti sampah
yang hendak dijejalkan ke telinganya. Bagaimana
mungkin ia hidup bersama orang yang suaranya saja
tidak mau ia dengar.
Lima belas menit basa-basi akhirnya Pak Darmanto,
juru bicara Pak Karman, masuk pada inti kedatangan,
"...dan maksud kedatangan kami adalah untuk
menyambung persaudaraan dan kekeluargaan dengan
keluarga Bapak Munajat. Kami bermaksud menyunting
putri Bapak Munajat, yaitu Dewi Zahrana untuk saudara
kami Bapak H. Sukarman, M.Sc. Alangkah bahagianya
jika maksud dan tujuan kami dikabulkan."
Ayahnya menjawab dengan suara rentanya yang
terbata-bata,
"Pertama....tama, ka...kami sekeluarga menyampaikan
rasa terima kasih atas silaturrahminya. Kami jugabahagia. Bagi ka..kami lamaran ini adalah suatu bentuk
penghormatan. Dan jika bisa kami akan membalasnya
dengan penghormatan yang le..lebih baik. Namun
masalah jodoh hanya Allahlah yang mengatur. Putri kami
sudah sangat dewasa. Dia lebih berpendidikan daripada
kami berdua. Dia bisa memutuskan sendiri mana yang
baik baginya. Itu yang bisa kami sampaikan."
Masalah sudah jelas. Semua tamu melihat ke
arahnya. la tahu bola sekarang ada di tangannya. Dialah
sekarang yang paling berkuasa di majelis itu. la berusaha
untuk tenang. Setenang ketika ia membantu argumen
mahasiswa yang dibelanya dalam sidang skripsi,
"Saya pernah mendengar Baginda Nabi Muhammad
Saw., pernah bersabda, 'Al 'ajalatu minasy syaithan.
Tergesa-gega itu datangnya dari setanl' Saya tidak mau
tergesa-gesa. Saya tidak mau mengecewakan siapapun.
Termasuk diri saya sendiri. Maka perkenankan saya
untuk menjawabnya tiga hari ke depan. Saya akan
langsung sampaikan kepada Pak Karman yang saya
hormati. Maafkan jika saya tidak bisa menjawab
sekarang."
Ada sedikit gurat kekecewaan di wajah Pak Darmanto
dan Pak Karman. Namun keduanya tidak bisa
bersikap apapun kecuali setuju. Bu Merlin tersenyum
tanda setuju. Yang lain bisa memahami dan memaklumi.
Hanya Pak Munajat, ayahnya yang meneteskan airmata
mendengar jawaban putrinya itu. Ia sudah tahu ke mana
arah perkataan putrinya itu.
Menjelang Maghrib rombongan itu pamit. Zahrana
langsung ke kamarnya mengatur kata yang tepat untukdisampaikan pada Pak Karman. Ia tersenyum, dengan
senyum yang susah diartikan.
* * *
"Kamu masih nunggu yang bagaimana lagi, Nduk?
Pak Karman memang agak tua, tapi ia berpendidikan
dan kaya. Dia juga bisa tampak muda." Kata ibunya
yang sudah tahu keputusannya.
"Saya tidak menunggu yang bagaimana-bagaimana
Bu. Saya menunggu lelaki saleh yang pas di hati saya.
Itu saja." Jawab Zahrana.
"Lha Pak Karman itu apa masih kurang saleh. Dia
sudah haji. Sudah menyempurnakan rukun Islam. Kita
saja belum." Bantah ibunya.
Ia merasa, memang agak susah memahamkan
ibunya bahwa kesalehan tidak dilihat dari sudah haji atau
belum. Tidak dilihat dari pakai baju koko atau tidak.
Tidak bisa dilihat dari pakai peci putih atau peci yang
lainnya. Betapa banyak penjahat di negeri ini yang
bertitel haji. Setiap tahun haji justru untuk menutupi
kejahatannya. Atau malah berhaji untuk melakukan
kejahatan di musim haji. Ibunya tidak akan nyambung
dia ajak dialog masalah itu.
"Pokoknya menurutku Pak Karman masih kurang.
Saya sangat tahu siapa dia, soalnya saya satu kampus
dengannya. Nanti kalau ada yang cocok pasti saya
menikah Bu."
Begitu mendengar dari jawabannya ada perkataan
"pokoknya", sang ibu langsung diam dengan raut muka
sedih. Dalam hati ia istighfar jika telah melukai ibunya.Tapi ia tidak mau asal menikah. Menikah adalah ibadah,
tidak boleh asal-asalan. Harus dikuati benar syarat
rukunnya. Meskipun ia tahu ia sudah jadi perawan tua
yang sangat terlambat menikah, namun ia tidak mau
gegabah dalam memilih ayah untuk anak-anaknya
kelak.
Zahrana masuk kamar dan menulis surat jawaban
untuk Pak Karman dengan komputernya. Bahasanya
tegas dan lugas:
Kepada
Yth. Bpk. H. Sukarman, M.S.c
Di Semarang
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Semoga Bapak senantiasa sehat dan berada dalam
naungan hidayah-Nya.
To the point saja, tanpa mengurangi rasa hormat saya
kepada Bapak, saya ingin menyampaikan bahwa saya
belum bisa menerima pinangan Bapak. Semoga Bapak
mendapatkan yang lebih baik dari saya. Mohon maklum
dan mohon maaf jika tidak berkenan.
Wassalam,
Dewi Zahrana
la lalu menge-print surat itu dan memasukkannya
ke dalam amplop putih. Ia akan minta bantuan seorang
mahasiswanya untuk menyampaikan hal itu kepada PakKarman besok pagi. Dan ia sudah berketetapan akan
mengambil cuti satu minggu. Sebab jawaban itu pasti
tidak diinginkan oleh Pak Karman. Bahkan pasti sangat
mengecewakan Pak Karman. Untuk menjaga hal yang
tidak baik, lebih baik ia tidak masuk kampus. Dan
kembali masuk jika suasana kembali seperti sediakala.
Apa yang ia rencanakan berjalan. Dan apa yang ia
prediksi terjadi.
Dua hari kemudian ia mendapatkan SMS dari Pak
Karman:
"Suratmu sudah aku terima. Kamu pasti tahu bahwa
jawabanmu sangat mengecewakan aku!"
Ia membaca jawaban itu dengan hati tidak enak.
Entah kenapa ia merasakan ada aroma jahat dalam setiap
huruf-hurufnya dan susunan kalimatnya.
Lalu ia mendapat SMS dari Bu Merlin:
"Hari ini saya dicacimaki Pak Karman gara-gara
jawabanmu. Saya sungguh kecewa dengan kamu!"
Airmatanya meleleh.
"Maafkan aku Bu Merlin," lirihnya dengan hati perih.
Ia merasakan dunia ini begitu sempit. Dinding-dinding
kamarnya seakan hendak menggenjetnya. Atap kamarnya
seakan mau rubuh menimpanya. Ia hanya bisa
pasrah kepada-Nya dan memohon kekuatan untuk tetap
kuat dan tegar di jalan-Nya.
* * *
Firasatnya benar. Lima hari setelah ia mengirim
jawaban itu, Bu Merlin datang ke rumahnya. Saat itu ia
masih mengambil cuti. Bu Merlin datang dengan mimik
serius. Mimik yang ditakuti oleh para bawahannya,
apalagi para mahasiswa. Pembantu Dekan I di kampusnya
itu berkata,
"Zahrana, kamu memang bebas menentukan
pilihanmu. Namun terus terang saya tidak mengerti apa
maumu. Saya tak perlu berdusta padamu, saya sangat
kecewa padamu. Padahal saya telah berusaha melaku-
kan yang terbaik, untukmu dan juga untuk Pak Karman.
Namun agaknya ini semua berantakan karena keangkuhanmu."
"Bu tolong ibu juga mengerti saya. Saya telah
berusaha menata hati dan jiwa untuk menerima Pak
Karman. Saya tidak mau karena saya sudah terlambat
menikah, lantas saya menikah untuk seolah-olah bahagia.
Saya tidak mau batin saya justru menderita. Karena saya
benar-benar tidak bisa menerima Pak Karman. Saya
tidak mau, setelah menikah sosok Pak Karman justru jadi
monster yang menghantui saya setiap saat. Saya sama
sekali tidak bisa mencintainya Bu. Meskipun sebutir
zarrah. Ibu kan juga seorang perempuan. Saya mohon
ibu bisa memaklumi." Zahrana menjawab panjang lebar
dengan mengajak bicara dari hati ke hati.
"Kalau masalahnya sudah cinta. Tak ada orang di
muka bumi ini yang bisa memaksa. Meskipun saya kecewa
saya tetap menginginkan yang terbaik untukmu. Sejak
mengenalmu aku tahu kau orang baik. Begini Zahrana,
saya lihat gelagat Pak Karman berniat memecatmu
dengan satu tuduhan serius yang akan sangat mempermalukanmu.
Ia mengisyaratkan hal itu kemarin setelah
membaca suratmu. Sekadar saran dariku lebih baik kau
mundur dengan terhormat daripada dipecat! Jika marah
Pak Karman bisa lupa bumi di mana ia berpijak."
"Apa Bu? Mundur?" Jawab Zahrana dengan nada
kaget.
"Iya Zahrana. Sebaiknya kau mengundurkan diri
saja. Itu saranku sebagai orang yang sangat paham peta
politik di kampus.""Tidak Bu. Jika terjadi ketidakadilan, akan saya lawan
sampai titik darah penghabisan!"
"Zahrana, kamu ternyata tidak tahu benar peta
politik kampus. Tidak tahu benar siapa Pak Karman. Jika
kau nekat itu ibarat ulo marani gitik. Ibarat ular mendekat
untuk dipukul sampai mati. Mundurlah dulu. Bertiaraplah
sementara waktu. Ini yang kulihat baik
untukmu. Saya berjanji suatu saat nanti jika saya ada
kemampuan, kamu akan saya tarik lagi ke kampus. Kali
ini percayalah padaku. Saya tidak rela orang sebaik kamu
jadi bulan-bulanan kesewenang-wenangan yang sudah
saya cium dari sekarang."
Zahrana akhirnya paham dengan apa yang disampaikan
Bu Merlin. Dari nada dan tuturkata yang
disampaikan ia melihat ada kesungguhan dan ketulusan.
Namun ia belum bisa mengambil sikap dengan cepat.
Sekali lagi ia harus tenang dan tidak gegabah,
"Baiklah Bu. Saya mengerti. Akan saya pikirkan
matang-matang saran Ibu. Saya sangat berterima kasih."
"Saya harap begitu. Kalau begitu saya pamit dulu.
Masih ada urusan yang harus saya kerjakan." Kata Bu
Merlin.
* * *
Zahrana sadar Bu Merlin masih tetap menyimpan
rasa sayang padanya, meskipun ia telah mengecewakannya.
Bu Merlin juga tetap setia pada prinsip hidupnya:
Memaksimalkan manfaat meminimalisir konflik. Jika
masih ada jalan menghindari konflik, maka jalan itulah
yang harus ditempuh.Setelah Bu Merlin pergi Zahrana langsung mengendarai
sepeda motornya ke rumah Lina, temannya paling
akrab sejak di SMP sampai Perguruan Tinggi. la perlu
orang yang bisa diajak bicara memutuskan masalahnya.
"Apa sejahat itu Pak Karman?" tanya Lina pada
Zahrana.
"Aku tak ingin membicarakan kejahatannya. Yang
jelas apa yang sebaiknya kulakukan setelah mendengar
saran Bu Merlin."
"Yang paling penting menurutku adalah, apa
kaupercaya dengan apa yang disampaikan Bu Merlin?"
Zahrana menjawab dengan memandang lekat-lekat
teman karibnya itu,
"Sampai saat ini saya belum pernah dibohongi Bu
Merlin. Saya percaya padanya."
"Kalau begitu masalahnya jelas. Pak Karman itu
sedang sangat tersinggung dan marah besar karena kamu
tolak. Dia merasa tidak nyaman berada satu atap
denganmu di kampus. Dan Bu Merlin melihat dia akan
membuat perhitungan denganmu."
"Jadi?"
"Kalau aku jadi kau, aku memilih mengundurkan
diri dengan baik-baik, daripada dipecat dengan
membawa nama tercemar. Pak Karman tentu lebih kuat
posisinya daripada kamu. Ingat dia orang nomor satu di
Fakultas tempat kamu mengajar."
"Aku tahu. Tetapi jika aku keluar, lantas nanti apa
yang harus aku katakan pada ayah dan ibu?"
"Kau kayak anak kecil aja. Cari pekerjaan baru.
Dengan begitu kau bisa berdalih degan seribu alasan
yang menyejukkan mereka. Bisa kaukatakan tidak
kerasan lagi di kampus. Cari pengalaman baru dan lain
sebagainya."
Akhirnya ia mantap untuk mengundurkan diri.
"Kau benar Lin. Besok aku akan mengundurkan
diri."
"Nanti kubantu cari pekerjaan yang cocok untukmu."
"Kau memang sahabatku yang baik Lin."
***
Pagi itu Zahrana datang ke kampus dengan
membawa dua pucuk surat pengunduran dirinya. Satu
untuk rektor dan satu untuk dekan. Pak Karman sedang
rapat dengan rektor. Itu kesempatan baginya untuk
mengemasi barang-barangnya. Teman-temannya
sesama dosen banyak yang kaget.
"Kami tahu dari Ibu Merlin bahwa kamu menolak
lamaran Pak Karman. Apa karena itu terus kamu juga
harus mundur dari kampus?" tanya Pak Didik, dosen
mata kuliah struktur beton yang meja kerjanya paling
dekat dengannya.
"Saya hanya ingin cari suasana baru dan pengalaman
baru. Mungkin saya akan mencoba kerja di sebuah
perusahaan." Jawab Zahrana sekenanya sambil merapikan
berkas-berkasnya.
"Apa ini benar-benar sudah keputusan final?"
"Ya. Final."
"Kami tak berhak menahanmu. Meskipun kami
sangat kehilangan kamu jika kamu keluar. Tidak banyak
pengajar yang seahli kamu. Jika nanti kamu ingin
kembali ke kampus ini jangan segan-segan. Kami para
dosen akan men-support-mu."
"Terima kasih Pak Didik. Maafkan saya jika selama
ini banyak berbuat salah."
"Sama-sama."
Setelah barang-barangnya rapi. la meletakkan surat
pengunduran dirinya di meja kerja Pak Karman. Lalu
mencari mahasiswi yang bisa membantunya mengangkat
barang. Di koridor ia bertemu dengan mahasiswi
berjilbab hitam.
"Nina!"
"Ya Bu Rana."
"Bisa bantu saya sebentar?"
"Bisa Bu."
"Kalau begitu cari tiga teman, dan segera ke ruang
kerja saya. Saya minta bantuannya sedikit."
"Baik Bu."
Ia lalu balik ke ruang kerjanya.
"Pak Didik?"
"Ya Bu Rana."
"Saya minta tolong, surat pengunduran ini disampaikan
ke Pak Rektor begitu saya pergi. Data-data saya di
komputer ini nanti diselamatkan ya Pak. Trus saya minta
tolong dicarikan taksi."
"O bisa Bu."Lima menit kemudian tiga orang mahasiswi berjilbab,
dan dua orang mahasiswa datang. Kepada mereka
Zahrana menjelaskan bahwa dirinya akan mengundurkan
diri dari kampus itu.
"Kenapa Bu?" tanya Nina, mahasiswinya yang aktif
di Lembaga Pers Kampus.
"Tidak apa-apa. Hanya ingin cari suasana baru saja."
"Tidak karena tekanan seseorang kan Bu?" tanya
mahasiswa berbaju biru tua kotak-kotak.
"Tidak. Ini murni keinginan Ibu. Mana ada yang
berani menekan Ibu tho San." Jawab Zahrana pada
mahasiswa bernama Hasan.
"Kalau ibu mundur, skripsi saya bagaimana Bu?"
tanya mahasiswa itu lagi.
"O tenang San. Nanti kamu menghubungi Bu
Merlin dan Pak Didik ya. Mereka akan membantumu,
insya Allah."
"Saya masih boleh konsultasi pada ibu tho. Meskipun
ibu tidak di kampus ini lagi?"
"Boleh San. Kalian semua ibu persilakan dolan ke
rumah ibu kapan saja." Kata Zahrana sambil memandang
wajah mahasiswanya satu per satu.
Zahrana lalu meminta mereka mengangkat barangbarangnya
ke luar gedung. Tak lama taksi datang.
Zahrana pun meninggalkan kampus itu dengan
membawa seluruh barang-barangnya.
Begitu selesai rapat, Pak Karman kembali ke ruang
kerjanya. Keputusannya sudah mantap yaitu memecat
Zahrana dengan beberapa tuduhan serius, di antaranya:
tidak disiplin. "Perawan tua itu harus diberi pelajaran!"
Geramnya dalam hati. Ketika ia duduk di kursinya ia
menangkap sepucuk surat tergeletak di atas meja
kerjanya. Ia baca surat itu. Kemarahannya seketika
meluap, "Kurang ajar!"
Ia seperti petinju yang nyaris meng-KO lawan, tibatiba
malah dipukul KO. Ia sama sekali tidak memperhitungkan
Zahrana akan membuat keputusan nekat itu.
Namun ia tetap akan membuat perhitungan dengan satusatunya
dosen Fakultas Teknik yang masih gadis itu.
* * *
Tak perlu waktu lama bagi Zahrana untuk mendapatkan
pekerjaan baru. Dari seorang teman ia
mendapatkan informasi bahwa STM Al Fatah Mranggen,
Demak, sedang membutuhkan seorang guru baru yang
profesional untuk mendongkrak prestasi. STM Al Fatah
berada di payung Yayasan Pesantran Al Fatah. Pesantren
besar yang terkenal di Mranggen. Ia mengajukan
lamaran dan hari itu juga ia diterima.
Kepala sekolahnya yang masih keturunan pendiri
Pesantren Al Fatah sangat senang. Pengalaman mengajar
Zahrana ketika mengajar di FT universitas swasta
terkemuka di Semarang adalah jaminan kualitas.
Sejak hari itu Zahrana mengajar siswa-siswa yang
sebagian besar adalah santri. Ia berusaha mendalami
kultur dan budaya santri. Sebab sejak kecil ia belum
pernah menjadi santri sama sekali. Ia merasakan nuansa
yang berbeda antara mengajar santri dan mengajar
mahasiswa. Ada tantangan tersendiri mengajar santri
yang masih banyak menganggap ilmu eksak tidak
penting, yang menganggap "ilmu umum" lainnya juga
tidak penting.
Dianggap tidak penting, karena para santri berpikiran
bahwa ilmu eksak dan "ilmu umum", kelak tidak
akan ditanyakan di akhirat. Bagi mereka, yang terpenting
adalah "ilmu agama", karena ilmu itulah yang akan
dibawa hingga akhirat nanti. Pikiran yang perlu diluruskan.
Dan Zahrana tertantang untuk meluruskannya.
la merasa mengajar di lingkungan pesantren lebih
menenteramkan. Entah kenapa? Apa karena dekat
dengan banyak ulama? Atau karena memang di
pesantren tempat ia mengajar tidak ada manusia seperti
Pak Karman yang dalam pandangannya sangat-sangat
durjana. Hari-harinya ia lalui dengan lebih tenang dan
tenteram. Ilmu S.2-nya ia rasa tidak benar-benar hilang
tanpa guna. Sebab ia juga diterima sebagai konsultan
sebuah perusahaan properti. Ia juga masih sering
didatangi mahasiswanya.
Yang masih sering datang adalah mahasiswanya
yang bernama Hasan. Tugas Akhir Hasan memang di
bawah bimbingannya. Namun setelah ia keluar, tugas
pembimbingan diambil alih oleh Bu Merlin. Hasan dan
teman-temannya masih suka datang untuk konsultasi
dan meminjam referensi. Ia merasa senang dengan kedatangan
mereka. Ia merasa mereka seperti adiknya sendiri.
Suatu siang ayahnya bertanya, mengapa ia meninggalkan
kampus dan memilih mengajar di STM Al
Fatah yang gajinya jauh lebih kecil. Ia menjawab,
"Ingin mencari ketenangan dengan dekat kiai dan
para santri."
Ayahnya hanya mendesah tanda tidak setuju.
Namun ia kemudian berusaha menghibur,
"Yang kedua Yah, Zahrana berharap mengajar di
lingkungan pesantren jadi jalan bagi Zahrana menemukan
jodoh Zahrana. Bertahun-tahun di kampus jodoh
yang Zahrana harap tidak juga datang."
Wajah ayahnya itu sedikit cerah,
"Semoga harapanmu terkabul. Kalau perlu kamu
harus berani minta tolong pada Pak Kiai. Siapa tahu
beliau bisa membantu menemukan jodohmu."
"Iya Yah. Mohon doanya terus."
"Tanpa kamu minta pun kami terus mendoakanmu
siang dan malam, Anakku."
"Terima kasih Ayah."
***
Malam itu setelah memeriksa tugas-tugas anak
didiknya Zahrana membuka komputer. Ia hendak
berselancar di dunia maya internet. Ia ingin melihat
apakah ada email yang masuk. Apakah ada berita yang
menarik. Dan ia mau membuat blog. Siapa tahu dengan
membuat blog ia bisa menemukan jodohnya.
Baru saja menyalakan komputer hp-nya berdering
beberapa kali. Ada tiga SMS yang masuk. Ia membukanya:
"Sedang apa perawan tua?"
"Ternyata jadi perawan tua itu indah."
"Jangan-jangan jilbabmu itu kedok untuk menutupi
daging tuamu yang sudah busuk di kerubung lalat!"
Zahrana tersentak dan geram. Sebuah teror. Teror
paling primitif, dengan kata-kata yang merendahkan dan
menyakitkan. la periksa nomornya. Nomor yang tidak
ia kenal. la nyaris membalas SMS itu dengan kata-kata
yang sama pedasnya. Tapi ia urungkan. Ia sudah bisa
menduga kira-kira dan mana SMS itu berasal. Akhirnya
ia memilih diam. Diam tanpa pernah menganggap SMS
itu ada. Ia merasa diam adalah senjata paling ampuh.
Menanggapi omongan orang gila berarti ikut jadi gila.
Menanggapi sikap orang dungu berarti ikut jadi dungu.
Internetnya sudah konek. Lima email dari temantemannya
sesama dosen. Semuanya menyayangkan
keputusannya meninggalkan kampus. Dan semuanya
mendoakan semoga sukses dengan pilihannya.
Hp-nya kembali berdering. Dua kali. Ia buka,
"Apa kabar Perawan Tua?"
"Kelapa itu semakin tua semakin banyak santannya.
Banggalah jadi perawan tua!"
Ia meneteskan airmata. Tubuhnya bergetar. Hatinya
sakit. Tapi ia harus menang. Diam adalah senjata
pamungkasnya untuk menang. Ia tidak akan meladeni
kata-kata yang tidak mencerminkan datang dari orang
terdidik itu. Akhirnya, ia matikan hp-nya. Ia memilih
asyik berselancar di dunia maya.
Ia buka alamat emailnya yang lain. Ada dua email.
Yang satu dari sebuah komunitas milis, memanggilnya
untuk ikut milis. Dan satunya dari Pak Didik. Ia jadi
bertanya ada apa dengan Pak Didik. Baru kali ini Pak
Didik mengirim email kepadanya. la buka email itu:
Subjeknya: SEBUAH TAWARAN, JIKA BERKENAN.
Baru dikirim beberapa jam yang lalu.
la lalu membacanya dengan sedikit rasa penasaran.
Tawaran apa yang dimaksud Pak Didik, yang celananya
selalu di atas mata kaki itu?
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Semoga Ibu Zahrana sukses dan berbahagia selalu.
Amin. Sebelumnya mohon maaf jika email saya ini
mengganggu. Sebenarnya sudah lama saya ingin
mengirim email ini tapi terhambat karena beberapa
sebab. Hari ini saya merasa hari yang tepat saya
mengirim email ini untuk memberikan sebuah tawaran
kepada Ibu Zahrana. Maaf terpaksa saya sampaikan
lewat email, sebab jika saya sampaikan langsung secara
lisan takut terjadi salah paham. Karena bahasa tulisan
bisa diedit sementara bahasa lisan tidak.
Bu Zahrana, setelah mengetahui lebih detil tentang
Ibu. Juga apa yang Ibu cari selama ini saya memberanikan
diri mengajukan diri. Mengajukan diri untuk
menjadi suami ibu. Maaf, to the point saja Bu. Saya
menawarkan kepada ibu, sekali lagi maaf jika dianggap
lancang, untuk menjadi isteri kedua saya. Saya yakin
isteri saya bisa menerimanya nanti.
Saya akan berusaha adil sebagai suami. Terus terang
sebenarnya yang saya harapkan adalah seorang isteri
yang educated dan cerdas seperti Bu Zahrana. Bukan
yang bisanya cuma arisan seperti isteri saya saat ini.
Tapi karena sudah punya dua anak, tidak mungkin saya
meninggalkan dia.
Saya yakin dengan kita membina rumah tangga
bersama, kita bisa bersinergi. Kita bisa saling memberi
dan memaksimalkan potensi. Ini harapan saya. Semoga
ibu berkenan dengan harapan ini.
Saya kira cukup sekian dulu surat ini. Jika ada salah
kata motion maaf. Tawaran saya ini mohon tidak diartikan
sebagai pelecehan. Sama sekali saya tidak bermaksud
seperti itu. Saya bermaksud kita saling memberi
manfaat. Itu saja. Akhirul kalam,
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Hormat saya,
Didik Hamdani, M.T.
Zahrana membaca email itu dengan tubuh bergetar,
mata berkaca-kaca. la tidak tahu apa yang ia rasakan.
Yang jelas bukan bahagia. Ia merasa betapa tidak mudah
menjadi gadis yang terlambat menikah. Dan betapa susah
menjadi wanita.
Jika Pak Didik itu tidak memiliki isteri, katakanlah
duda sekalipun, tawaran itu mungkin akan sedikit
menjadi jendela harapan di hatinya. Tapi ia harus
dijadikan yang kedua. Ia tidak tega. Ia tidak tega pada
perasaan yang akan dialami isteri Pak Didik. Dan ia juga
tidak tega pada perasaan kedua orangtuanya. Mereka
semua tidak siap untuk itu. Bahkan jika mau jujur, ia
sendiri "belum siap", atau lebih tegasnya "tidak siap"
menjadi isteri kedua. Sakit rasanya. Bagaimanapun ia
adalah wanita biasa. Ia adalah perempuan Jawa pada
umumnya, yang benar-benar "tidak siap", atau lebih
tepatnya "tidak mau" dijadikan istri kedua. Atau "tidak
mau" dimadu.
la membayangkan, alangkah tersiksanya, misalnya,
bila ia menerima tawaran Pak Didik itu, ternyata isterinya
tidak setuju. Isterinya itu lantas melabraknya dan
mengatakan kepadanya,
"Hai perawan tua tengik, memang di dunia ini sudah
tidak ada lelaki sehingga kamu tega merampas suami
orang! Dasar perawan tua! Suka merusak pager ayu
orang saja!"
Ia tidak tahu akan menjawab apa.
Maka begitu ia selesai membaca email itu, yang ia
lakukan adalah men-delete-nya tanpa me-reply sama
sekali. Ia menganggap email itu tak pernah ada.
Matanya masih berkaca-kaca.
* * *
Pabila laluan seakan sukar,Bagai tak terdaya untuk terus bertahan, Namun kasihMu menyedarkan, Aku tak pernah sendirian...
Followers
Monday, November 17
Thursday, November 13
Lirik - Maaf tuk berpisah

maaf tuk berpisah
Album : optimis sajalah
Munsyid : tashiru
Kau tahu tentang hatiku yang tak pernah bisa melupakanmu
Kau tahu tentang diriku yang selalu mengenangmu selamanya
Kini kusadari Bahwa semua itu
Adalah salah, juga keliru
Akan membuat hati menjadi ternodai
Maafkanlah segala khilaf yang telah kita terlewati
Telah membawamu kedalam jalan yang melupakan tuhan
Kita memang harus berpisah
Tuk menjaga diri
Untuk kembali mngarungi hidup
Dalam ridho ilahi
Kutahu bahwa dirimu
Mendambakan kasih suci yang sejati
Kuyakin bahwa dirimu
Merindukan kasih sayang yang hakiki
Kini kusadari Bahwa semua itu
Adalah salah, juga keliru
Akan membuat hati menjadi ternodai
Dan bila takdirnya kita bersama
Pastilah Allah akan menyatukan kita..
Diari - Maaf tuk berpisah

huh... letih gak jawab exam tadi. macam biasa je jawab, biasalah ada yang susah dan ada yang senang. Alhamdulillah, apa-apa pun bersyukur dapat jawab dengan baik.
emm.. haa teringin nak cerita, malam-malam sebelum ni aku ada layan satu nasyid ni time aku tengah study. Bila fikir-fikirkan balik kan, lagu nasyid ni macam alasan yang baik untuk diluahkan kepada pasangan yang masih belum ada apa-apa ikatan. Korang mesti tahu kan maksud aku.
biasalah.. kalau lelaki ni susah sikit nak buat ayat yang baik untuk diluahkan. takut orang yang dengar nanti tak paham.hmm..
emm.. aku bagi korang baca liriknya..
harap boleh dijadikan pedoman..
maaf tuk berpisah
Album : optimis sajalah
Munsyid : tashiru
Kau tahu tentang hatiku yang tak pernah bisa melupakanmu
Kau tahu tentang diriku yang selalu mengenangmu selamanya
Kini kusadari Bahwa semua itu
Adalah salah, juga keliru
Akan membuat hati menjadi ternodai
Maafkanlah segala khilaf yang tlah kita terlewati
Telah membawamu kedalam jalan yang melupakan tuhan
Kita memang harus berpisah
Tuk menjaga diri
Untuk kembali mngarungi hidup
Dalam ridho ilahi
Kutahu bahwa dirimu
Mendambakan kasih suci yang sejati
Kuyakin bahwa dirimu
Merindukan kasih sayang yang hakiki
Kini kusadari Bahwa semua itu
Adalah salah, juga keliru
Akan membuat hati menjadi ternodai
Dan bila takdirnya kita bersama
Pastilah Allah akan menyatukan kita..
haa.. macam mana? best tak.. pandai-pandailah korang macam mana nak paham maksud di sebalik lirik kat atas ni. aku just nak beri peringatan je. dalam Al-Quran pun Allah yang Maha Agung ada berfirman:
"Siapa yang lebih baik perkataannya daripada orang-orang yang mengajak berubudiah kepada Allah lalu dia beramal soleh dan dia berkata "sesungguhnya aku daripada orang-orang yang bertaqwa".."
saling ingat-memperingati untuk diri sendiri jua..
Monday, October 27
Sirah - ABU AYYUB AL ANSHARY
ABU AYYUB AL ANSHARY
(Dimakamkan di bawah pilar kota Konstantinopel)
Sahabat yang mulia ini bernama :KHALID BIN ZAID BIN KULAIB dari Bani Najjar.
Gelarnya Abu Ayyuh, dan golongan Anshar. Siapakah di antara kaum muslimin yang belum
mengenal Abu Ayyub Al-Anshary?
Nama dan derajatnya dimuliakan Allah di kalangan makhluk, baik di Timur mahupun
di Barat. Kerana Allah telah memilih rumahnya di antara sekalian rumah kaum muslimin, untuk
tempat tinggal Nabi-Nya yang mulia, ketika beliau baru tiba di Madinah sebagai Muhajir. Hal ini
cukup membanggakan bagi Ayu Ayyub.
Bertempatnya Rasulullah di rumah Abu Ayyub merupakan kisah manis untuk diulangulang
dan enak untuk dikenang-kenang.
Setibanya Rasulullah di Madinah, beliau disambut dengan hati terbuka oleh seluruh
penduduk, beliau dielu-elukan dengan kemuliaan yang belum pernah diterima se orang tamu
atau utusan manapun. Seluruh mata tertuju kepada beliau memancarkan kerinduan seorang
kekasih kepada kekasihnya yang baru tiba. Mereka membuka hati lebar-lebar untuk menerima
kasih sayang Rasulullah. Mereka buka pula pintu rumah masing-masing, supaya kekasih mulia
yang drindukan itu sudi bertempat tinggal di rumah mereka.
Sebelum sampai di kota Madinah, beliau berhenti lebih dahulu di Quba selama beberapa
hari. Di kampung itu beliau membangun masjid yang pertama-tama didirikan atas dasar taqwa.
Sesudah itu beliau meneruskan perjalanan ke kota Yatsrib mengendarai unta. Para pemimpin
Yatsrib berdiri sepanjang jalan yang akan dilalui beliau untuk kedatangannya. Masing-masing
berebut meminta Rasulullah tinggal di rumahnya. Kerana itu Sayyid demi Sayyid menghadang
dan memegang tali untuk beliau untuk membawanya ke rumah mereka.
“Ya, Rasulullah! Sudilah Anda tinggal di rumah saya selama Anda menghendaki.
Akomodasi. dan keamanan Anda terjamin sepenuhnya.” kata mereka berharap.
Jawab Rasulullah, “Bià rkanlah unta itu berjalan ke mana dia mahu, kerana dia sudah
mendapat perintah.”
Unta Rasulullah terus berjalan diikuti semua mata, dan diharap-harapkan seluruh hati.
Bila untuk melewati sebuah rumah, terdengar keluhan putus asa pemiliknya, kerana apa yang
diangan-angankannya ternyata hampa.
Unta terus berjalan melenggang seenaknya. Orang banyak mengiringi di belakang.
Mereka ingin tahu siapa yang beruntung rumahnya ditempati tamu dan kekasih yang mulia ini.
Sampai di sebuah lapangan, iaitu di muka halaman rumah Abu Ayyub Al-Anshary unta
itu berlutut. Rasulullah tidak segera turun dan punggung unta. Unta itu disu ruhnya berdiri dan
berjalan kembali. Tetapi setelah berkeliling-keliling, untuk berlutut kembali di tempat semula.
Abu Ayyub mengucapkan takbir kerana sangat gembira. Dia segera mendekati
Rasulullah dan melapangkan jalan bagi beliau. Diangkatnya barang-barang beliau dengan kedua
tangannya, bagaikan mengangkat seluruh perbendaharaan dunia. Lalu dibawanya ke rumahnya
Rumah Abu Ayyub bertingkat tingkat atas dikosongkan dan dibersihkannya untuk
tempat tiniggal Rasulullah. Tetapi Rasuluulah lebih suka tinggal di bawab. Abu Ayyub menurut
saja di mana beliau senang. Setelah malam tiba, Rasulullah masuk ke kamar tidur. Abu Ayyub
dan isteninya naik ke tingkat atas. Ketika suami isteri itu menutupkan pintu, Abu Ayyub berkata kepada isterinya,
“Celaka....! Mengapa kita sebodoh ini. Pantaskah Rasulullab bertempat di
bawah, sedangkan kita berada lebib tinggi dari beliau” Pantaskah kita berjalan di atas beliau?
Pantaskah kita mengalingi antara Nabi dan Wahyu? Niscaya kita celaka!”
Kedua suami isteri itu bingung, tidak tahu apa yang harus diperbuat Tidak berapa lama
berdiam diri, akhirnya mereka memilih kamar yang tidak setentang dengan kamar Rasulullah
Mereka berjalan benjingkit-jingkit untuk menghindarkan suara telapak kaki mereka. Setelah hari subuh, Abu Ayyub berkata kepada Rasulullah kami tidak mahu terpejam sepicing pun malam
ini. Baik aku mahupun ibu Ayyub”
“Mengapa begitu?” tanya Rasulullah
“Aku ingat, kami berada di atas sedangkan Rasulullah Yang kami muliakan berada di
bawah. Apabila bergerak sedikit saja, abu berjatuhan mengenai Rasulullah. Di samping itu kami
mengalingi Rasulullah dengan wahyu,” kata Abu Ayyub menjelaskan “Tenang sajalah, hai Abu
Ayyub. Saya lebih suka bertempat tinggal di bawah, kerana akan banyak tamu yang datang
berkunjung.”
Kata Abu Ayyub, “Akhirnya saya mengikuti kemahuan Rasulullah. Pada suatu malam
yang dingin, bejana kami pecah di tingkat atas, sehingga airnya tumpah. Kain lap hanya ada
sehelai, kerana itu air yang kami keringkan dengan baju, kami sangat kuatir kalau air mengalir
ke tempat Rasulullah. Saya dan Ibu Ayyub bekerja keras mengeringkan air sampai habis. Setela
hari Subuh saya pergi menemui Rasulullah.
Saya berkata kepada beliau, “Sungguh mati, saya segan bertempat tinggal di atas,
sedangkan Rasulullah tinggal di bawah”.
Kemudian Abu Ayyub menceritakan kepada beliau perihal bejana yang pecah itu.
Kerana itu Rasulullah memperkenankan kami pindah ke bawah dan beliau pindah ke atas.
Rasulullah tinggal di rumah Abu Ayyub kurang lebih tujuh bulan. Setelah masjid
Rasulullah selesai dibangun, beliau pindah ke kamar-kamar yang dibuatkan untuk beliau dan
para isteri beliau sekitar masjid. Sejak pindah dari rumah Abu , Rasulullah menjadi tetangga
dekat bagi Abu Ayyub. Rasulullah sangat menghargai Abu Ayyub suami isteri sebagai tetangga
yang baik.
Abu Ayyub mencintai Rasulullah sepenuh hati. Sebaliknya beliau mencintainya pula,
sehingga mereka saling membantu setiap kesusahan masing-masing. Rasulullah memandang
rumah Abu Ayyub seperti rumah sendiri.
Ibnu ‘Abbas pernah bercerita sebagai berikut:
Pada suatu hari di tengah hari yang amat panas, Abu Bakar pergi ke masjid, lalu bertemu
dengan ‘Umar ra.
“Hai, Abu Bakar! Mengapa Anda keluar di saat panas begini?”, tanya Umar.
Jawab Abu Bakar, “Saya lapar!”
Kata ‘Umar, “Demi Allah! Saya juga lapar.”
Ketika mereka sedang berbincang begitu, tiba-tiba Rasuluflah muncul.
Tanya Rasulullah, “Hendak kemana kalian di saat panas begini?”
Jawab mereka, ‘Demi Allah! Kami mencari makanan kerana lapar.”
Kata Rasulullah, ‘Demi Allah yang jiwaku di tangan Nya! Saya juga lapar. Nah! Marilah
ikut saya.”
Mereka bertiga berjalan bersama-sama ke rumah Abu Ayyub Al-Anshary. Biasanya Abu
Ayyub selalu menyediakan makanan setiap hari untuk Rasulullab. Bila beliau terlambat atau
tidak datang, makanan itu dihabiskan oleh keluarga Abu Ayyub. Setelah mereka tiba di pintu,
Ibu Ayyub keluar menyongsonu mereka.
‘Selamat datang, ya Nabiyallah dan kawan-kawan!” kata Ibu Ayyub.
“Kemana Abu Ayyub?” tanya Rasulullah.
Ketika itu Abu Ayyub sedang bekerja di kebun kurma dekat rumah. Mendengar suara
Rasulullah, dia bergegas menemui beliau.
“Selamat datang, ya Nabiyallah dan kawan-kawan!” kata Abu Ayyub.
Abu Ayyub langsung menyambung bicaranya, “Ya, Nabiyallah! Tidak biasanya Anda
datang pada waktu sepert sekarang.
Jawab Rasulullah “Betul. hai Abu Ayyub!
Abu Ayyub pergi ke kebun, lalu dipotongnya setandan kurma. Dalam setandan itu
terdapat kurma yang sudah kering, yang basah, dan yang setengah masak.
Kata Rasulullah, “Saya tidak menghendaki engkau memotong kurma setandan begini.
Alangkah baiknya jika engkau petik saja yang sudah kering.”
Jawab Abu Ayyub, “Ya, Rasulullah! Saya senang jika Anda suka mencicipi buah kering,
yang basah, dan yang setengah masak. Sementara itu saya sembelih kambing un tuk.Anda
bertiga.”
Kata Rasulullah, “Jika engkau menyembelih, jangan disembelih kambing yang sedang
menyusui.”
“Abu Ayyub menangkap seekor kambing, lalu disembelihnya. Dia berkata kepada Ibu
Ayyub, “Buat adonan roti. Engkau lebih pintar membuat roti.”
Abu Ayyub membagi dua sembelihannya. Separuh digulainya dan separuh lagi
dipanggangnya Setelah masak, maka dihidangkannya ke hadapan Rasulullah dan sahabat
beliau. Rasulullah mengambil sepotong gulai kambing, kemudian diletakkannya di atas sebuah
roti yang belum dipotong.
Kata beliau, “Hai Abu Ayyub! Tolong antarkan ini kepada Fatimah. Sudah beberapa hari
ini dia tidak mendapat makanan seperti ini.”
Selesai makan, Rasulullah berkata, “Roti, daging, kurma kering, kurma basah, dan
kurma setengah masak.”— Air mata beliau mengalir ke pipinya.
Kemudian beliau bersabda ‘Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya! SesungguhnYa
beginilah ni’mat yang kalian minta nanti di hari kiamat. Maka apabila kalian memperoleh yang
seperti in bacalah “Basmalah” lebih dahulu sebelum kalian makan. Bila sudah kenyang, baca
tahmid: “Segala puji bagi Allah yang telah mengenyang kan kami dan memberi kami ni’mat.”
Kemudian Rasulullah saw. bangkit hendak pulang. Beliau berkata kepada Abu Ayyub,
‘Datanglah besok ke rumah kami!”
Sudah menjadi kebiasaan bagi Rasulullah, apabila Seseorang berbuat baik kepadanya,
beliau segera membalas dengan yang lebih baik. Tetapi Abu Ayyub tidak mendengar perkataan
Rasulullah kepadanya. Lalu dikata oleh ‘Umar, “Rasulullah menyuruh Anda datang besok ke
rumahnya.”
Kata Abu Ayyub, “Ya, saya patuhi setiap perintah Rasulullah.”
Keesokan harinya Abu Ayyub datang ke rumah Ra sulullah. Beliau memberi Abu Ayyub
seorang gadis kecil untuk pembantu rumah tangga. Kata Rasulullah, ‘Perla kukanlah anak ini
dengan baik, hai Abu Ayyub! Selama dia di tangan kami, saya lihat anak ini baik.”
Abu Ayyub pulang ke rumahnya membawa seorang gadis kecil.
“Untuk siapa ini, Pak Ayyub?” tanya Ibu Ayyub.
“Untuk kita. Anak kita diberikan Rasulullah kepada kita,”jawab Abu Ayyub.
“Hargailah pemberian Rasulullah. Perlakukan anak ini lebih daripada sekedar suatu
pemberian’ “ kata Ibu Ayyub.
“Memang! Rasulullah berpesan supaya kita bersikap baik terhadap anak ini,” kata Abu
Ayyub. “Bagaimana selayaknya sikap kita terhadap anak ini, supaya pesan beliau terlaksana?”
tanya Ibu Ayyub.
“Demi Allah! Saya tidak melihat sikap yang lebih baik, melainkan memerdekakannya,”
jawab Abu Ayyub.
“Kakanda benar-benar mendapat hidayah Allah. Jika kakanda setuju begitu, baiklah kita
merdekakan dia,” kata Ibu Ayyub menyetujui.
Lalu gadis kecil itu mereka merdekakan.
ltulah sebagian bentuk nyata celah-celah kehidupan Abu Ayyub setelah dia masuk
Islam. Kalau dipaparkan celah-celah kehidupannya dalam peperangan, kita akan tercengang
dibuatnya. Sepanjang hayatnya Abu Ayyub hidup dalam peperangan. Sehingga dikatakan
orang, “Abu Ayyub tidak pernah absen dalam setiap peperangan yang dihadapi kaum muslimin
sejak masa Rasulullah sampai dia wafat di masa pemerintahan Mu ‘awiyah. Kecuali bila dia
sedang bertugas dengan suatu tugas penting yang lain.’’
Peperangan terakhir yang ikutinya, ialah ketika Mu awiyah mengerahkan tentara
muslimin merebut kota Konstantinopel. Abu Ayyub seorang prajurit yang patuh dan setia.
Ketika itu dia telah berusia lebih delapan puluh tahun. Suatu usia yang boleh dikatakan usia
akhir tua. Tetapi usia tidak menghalanginya untuk bergabung dengan tentara muslimin di
bawah bendera Yazid bin Mu’awiyah. Dia tidak menolak mengharufngi laut, membelah ombak
untuk berperang fi sabilillah. Tetapi belum berapa lama dia berada di medan tempur
menghadapi musuh, Abu Ayyub jatuh sakit. Abu Ayyub terpaksa istirahat di perkemahan, tidak
dapat melanjutkan peperangan kerana fisiknya sudah lemah.
Ketika Yazid mengunjungi Abu Ayyub yang sakit, panglima ini bertanya, “Adakah
sesuatu yang Anda kehendaki, hai Abu Ayyub?”
Jawab Abu Ayyub, ‘Tolong sampaikan salam saya kepada seluruh tentara muslimin.
Katakan kepada mereka, Abu Ayyub berpesan supaya kalian semuanya terus maju sampai ke
jantung daerah musuh. Bawalah saya beserta kalian. Kalau saya mati, kuburkan saya dekat pilar
kota Konstantinopel!”
Tidak lama sesudah ia berkata demikian, Abu Ayyub menghembuskan nafasnya yang
terakhir. Dia wafat menemui Tuhannya di tengah-tengah kancah pertempuran.
Tentara muslimin memperkenankan keinginan sahabat Rasulullah yang mulia ini.
Mereka berperang dengan gigih, menghalau musuh dari satu medan ke medan tempur yang
lain. Sehingga akhirnya mereka berhasil mencapai pilar-pilar kota Konstantinopel, sambil
membawa jenazah Abu Ayyub.
Dekat sebuah pilar kota Konstantinopel niereka menggali kuburuan, lalu mereka
makamkan jenazah Abu Ayyub di sana, sesuai dengan pesan Abu Ayyub.
Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Ayyub. Dia tidak ingin mati
kecuali dalam barisan termpur yang sedang berperang fi sabillah. Sedangkan usianya telah
mencapai delapan puluh tahun. Radhiyallahu ‘anhu. Amin!!!
(Dimakamkan di bawah pilar kota Konstantinopel)
Sahabat yang mulia ini bernama :KHALID BIN ZAID BIN KULAIB dari Bani Najjar.
Gelarnya Abu Ayyuh, dan golongan Anshar. Siapakah di antara kaum muslimin yang belum
mengenal Abu Ayyub Al-Anshary?
Nama dan derajatnya dimuliakan Allah di kalangan makhluk, baik di Timur mahupun
di Barat. Kerana Allah telah memilih rumahnya di antara sekalian rumah kaum muslimin, untuk
tempat tinggal Nabi-Nya yang mulia, ketika beliau baru tiba di Madinah sebagai Muhajir. Hal ini
cukup membanggakan bagi Ayu Ayyub.
Bertempatnya Rasulullah di rumah Abu Ayyub merupakan kisah manis untuk diulangulang
dan enak untuk dikenang-kenang.
Setibanya Rasulullah di Madinah, beliau disambut dengan hati terbuka oleh seluruh
penduduk, beliau dielu-elukan dengan kemuliaan yang belum pernah diterima se orang tamu
atau utusan manapun. Seluruh mata tertuju kepada beliau memancarkan kerinduan seorang
kekasih kepada kekasihnya yang baru tiba. Mereka membuka hati lebar-lebar untuk menerima
kasih sayang Rasulullah. Mereka buka pula pintu rumah masing-masing, supaya kekasih mulia
yang drindukan itu sudi bertempat tinggal di rumah mereka.
Sebelum sampai di kota Madinah, beliau berhenti lebih dahulu di Quba selama beberapa
hari. Di kampung itu beliau membangun masjid yang pertama-tama didirikan atas dasar taqwa.
Sesudah itu beliau meneruskan perjalanan ke kota Yatsrib mengendarai unta. Para pemimpin
Yatsrib berdiri sepanjang jalan yang akan dilalui beliau untuk kedatangannya. Masing-masing
berebut meminta Rasulullah tinggal di rumahnya. Kerana itu Sayyid demi Sayyid menghadang
dan memegang tali untuk beliau untuk membawanya ke rumah mereka.
“Ya, Rasulullah! Sudilah Anda tinggal di rumah saya selama Anda menghendaki.
Akomodasi. dan keamanan Anda terjamin sepenuhnya.” kata mereka berharap.
Jawab Rasulullah, “Bià rkanlah unta itu berjalan ke mana dia mahu, kerana dia sudah
mendapat perintah.”
Unta Rasulullah terus berjalan diikuti semua mata, dan diharap-harapkan seluruh hati.
Bila untuk melewati sebuah rumah, terdengar keluhan putus asa pemiliknya, kerana apa yang
diangan-angankannya ternyata hampa.
Unta terus berjalan melenggang seenaknya. Orang banyak mengiringi di belakang.
Mereka ingin tahu siapa yang beruntung rumahnya ditempati tamu dan kekasih yang mulia ini.
Sampai di sebuah lapangan, iaitu di muka halaman rumah Abu Ayyub Al-Anshary unta
itu berlutut. Rasulullah tidak segera turun dan punggung unta. Unta itu disu ruhnya berdiri dan
berjalan kembali. Tetapi setelah berkeliling-keliling, untuk berlutut kembali di tempat semula.
Abu Ayyub mengucapkan takbir kerana sangat gembira. Dia segera mendekati
Rasulullah dan melapangkan jalan bagi beliau. Diangkatnya barang-barang beliau dengan kedua
tangannya, bagaikan mengangkat seluruh perbendaharaan dunia. Lalu dibawanya ke rumahnya
Rumah Abu Ayyub bertingkat tingkat atas dikosongkan dan dibersihkannya untuk
tempat tiniggal Rasulullah. Tetapi Rasuluulah lebih suka tinggal di bawab. Abu Ayyub menurut
saja di mana beliau senang. Setelah malam tiba, Rasulullah masuk ke kamar tidur. Abu Ayyub
dan isteninya naik ke tingkat atas. Ketika suami isteri itu menutupkan pintu, Abu Ayyub berkata kepada isterinya,
“Celaka....! Mengapa kita sebodoh ini. Pantaskah Rasulullab bertempat di
bawah, sedangkan kita berada lebib tinggi dari beliau” Pantaskah kita berjalan di atas beliau?
Pantaskah kita mengalingi antara Nabi dan Wahyu? Niscaya kita celaka!”
Kedua suami isteri itu bingung, tidak tahu apa yang harus diperbuat Tidak berapa lama
berdiam diri, akhirnya mereka memilih kamar yang tidak setentang dengan kamar Rasulullah
Mereka berjalan benjingkit-jingkit untuk menghindarkan suara telapak kaki mereka. Setelah hari subuh, Abu Ayyub berkata kepada Rasulullah kami tidak mahu terpejam sepicing pun malam
ini. Baik aku mahupun ibu Ayyub”
“Mengapa begitu?” tanya Rasulullah
“Aku ingat, kami berada di atas sedangkan Rasulullah Yang kami muliakan berada di
bawah. Apabila bergerak sedikit saja, abu berjatuhan mengenai Rasulullah. Di samping itu kami
mengalingi Rasulullah dengan wahyu,” kata Abu Ayyub menjelaskan “Tenang sajalah, hai Abu
Ayyub. Saya lebih suka bertempat tinggal di bawah, kerana akan banyak tamu yang datang
berkunjung.”
Kata Abu Ayyub, “Akhirnya saya mengikuti kemahuan Rasulullah. Pada suatu malam
yang dingin, bejana kami pecah di tingkat atas, sehingga airnya tumpah. Kain lap hanya ada
sehelai, kerana itu air yang kami keringkan dengan baju, kami sangat kuatir kalau air mengalir
ke tempat Rasulullah. Saya dan Ibu Ayyub bekerja keras mengeringkan air sampai habis. Setela
hari Subuh saya pergi menemui Rasulullah.
Saya berkata kepada beliau, “Sungguh mati, saya segan bertempat tinggal di atas,
sedangkan Rasulullah tinggal di bawah”.
Kemudian Abu Ayyub menceritakan kepada beliau perihal bejana yang pecah itu.
Kerana itu Rasulullah memperkenankan kami pindah ke bawah dan beliau pindah ke atas.
Rasulullah tinggal di rumah Abu Ayyub kurang lebih tujuh bulan. Setelah masjid
Rasulullah selesai dibangun, beliau pindah ke kamar-kamar yang dibuatkan untuk beliau dan
para isteri beliau sekitar masjid. Sejak pindah dari rumah Abu , Rasulullah menjadi tetangga
dekat bagi Abu Ayyub. Rasulullah sangat menghargai Abu Ayyub suami isteri sebagai tetangga
yang baik.
Abu Ayyub mencintai Rasulullah sepenuh hati. Sebaliknya beliau mencintainya pula,
sehingga mereka saling membantu setiap kesusahan masing-masing. Rasulullah memandang
rumah Abu Ayyub seperti rumah sendiri.
Ibnu ‘Abbas pernah bercerita sebagai berikut:
Pada suatu hari di tengah hari yang amat panas, Abu Bakar pergi ke masjid, lalu bertemu
dengan ‘Umar ra.
“Hai, Abu Bakar! Mengapa Anda keluar di saat panas begini?”, tanya Umar.
Jawab Abu Bakar, “Saya lapar!”
Kata ‘Umar, “Demi Allah! Saya juga lapar.”
Ketika mereka sedang berbincang begitu, tiba-tiba Rasuluflah muncul.
Tanya Rasulullah, “Hendak kemana kalian di saat panas begini?”
Jawab mereka, ‘Demi Allah! Kami mencari makanan kerana lapar.”
Kata Rasulullah, ‘Demi Allah yang jiwaku di tangan Nya! Saya juga lapar. Nah! Marilah
ikut saya.”
Mereka bertiga berjalan bersama-sama ke rumah Abu Ayyub Al-Anshary. Biasanya Abu
Ayyub selalu menyediakan makanan setiap hari untuk Rasulullab. Bila beliau terlambat atau
tidak datang, makanan itu dihabiskan oleh keluarga Abu Ayyub. Setelah mereka tiba di pintu,
Ibu Ayyub keluar menyongsonu mereka.
‘Selamat datang, ya Nabiyallah dan kawan-kawan!” kata Ibu Ayyub.
“Kemana Abu Ayyub?” tanya Rasulullah.
Ketika itu Abu Ayyub sedang bekerja di kebun kurma dekat rumah. Mendengar suara
Rasulullah, dia bergegas menemui beliau.
“Selamat datang, ya Nabiyallah dan kawan-kawan!” kata Abu Ayyub.
Abu Ayyub langsung menyambung bicaranya, “Ya, Nabiyallah! Tidak biasanya Anda
datang pada waktu sepert sekarang.
Jawab Rasulullah “Betul. hai Abu Ayyub!
Abu Ayyub pergi ke kebun, lalu dipotongnya setandan kurma. Dalam setandan itu
terdapat kurma yang sudah kering, yang basah, dan yang setengah masak.
Kata Rasulullah, “Saya tidak menghendaki engkau memotong kurma setandan begini.
Alangkah baiknya jika engkau petik saja yang sudah kering.”
Jawab Abu Ayyub, “Ya, Rasulullah! Saya senang jika Anda suka mencicipi buah kering,
yang basah, dan yang setengah masak. Sementara itu saya sembelih kambing un tuk.Anda
bertiga.”
Kata Rasulullah, “Jika engkau menyembelih, jangan disembelih kambing yang sedang
menyusui.”
“Abu Ayyub menangkap seekor kambing, lalu disembelihnya. Dia berkata kepada Ibu
Ayyub, “Buat adonan roti. Engkau lebih pintar membuat roti.”
Abu Ayyub membagi dua sembelihannya. Separuh digulainya dan separuh lagi
dipanggangnya Setelah masak, maka dihidangkannya ke hadapan Rasulullah dan sahabat
beliau. Rasulullah mengambil sepotong gulai kambing, kemudian diletakkannya di atas sebuah
roti yang belum dipotong.
Kata beliau, “Hai Abu Ayyub! Tolong antarkan ini kepada Fatimah. Sudah beberapa hari
ini dia tidak mendapat makanan seperti ini.”
Selesai makan, Rasulullah berkata, “Roti, daging, kurma kering, kurma basah, dan
kurma setengah masak.”— Air mata beliau mengalir ke pipinya.
Kemudian beliau bersabda ‘Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya! SesungguhnYa
beginilah ni’mat yang kalian minta nanti di hari kiamat. Maka apabila kalian memperoleh yang
seperti in bacalah “Basmalah” lebih dahulu sebelum kalian makan. Bila sudah kenyang, baca
tahmid: “Segala puji bagi Allah yang telah mengenyang kan kami dan memberi kami ni’mat.”
Kemudian Rasulullah saw. bangkit hendak pulang. Beliau berkata kepada Abu Ayyub,
‘Datanglah besok ke rumah kami!”
Sudah menjadi kebiasaan bagi Rasulullah, apabila Seseorang berbuat baik kepadanya,
beliau segera membalas dengan yang lebih baik. Tetapi Abu Ayyub tidak mendengar perkataan
Rasulullah kepadanya. Lalu dikata oleh ‘Umar, “Rasulullah menyuruh Anda datang besok ke
rumahnya.”
Kata Abu Ayyub, “Ya, saya patuhi setiap perintah Rasulullah.”
Keesokan harinya Abu Ayyub datang ke rumah Ra sulullah. Beliau memberi Abu Ayyub
seorang gadis kecil untuk pembantu rumah tangga. Kata Rasulullah, ‘Perla kukanlah anak ini
dengan baik, hai Abu Ayyub! Selama dia di tangan kami, saya lihat anak ini baik.”
Abu Ayyub pulang ke rumahnya membawa seorang gadis kecil.
“Untuk siapa ini, Pak Ayyub?” tanya Ibu Ayyub.
“Untuk kita. Anak kita diberikan Rasulullah kepada kita,”jawab Abu Ayyub.
“Hargailah pemberian Rasulullah. Perlakukan anak ini lebih daripada sekedar suatu
pemberian’ “ kata Ibu Ayyub.
“Memang! Rasulullah berpesan supaya kita bersikap baik terhadap anak ini,” kata Abu
Ayyub. “Bagaimana selayaknya sikap kita terhadap anak ini, supaya pesan beliau terlaksana?”
tanya Ibu Ayyub.
“Demi Allah! Saya tidak melihat sikap yang lebih baik, melainkan memerdekakannya,”
jawab Abu Ayyub.
“Kakanda benar-benar mendapat hidayah Allah. Jika kakanda setuju begitu, baiklah kita
merdekakan dia,” kata Ibu Ayyub menyetujui.
Lalu gadis kecil itu mereka merdekakan.
ltulah sebagian bentuk nyata celah-celah kehidupan Abu Ayyub setelah dia masuk
Islam. Kalau dipaparkan celah-celah kehidupannya dalam peperangan, kita akan tercengang
dibuatnya. Sepanjang hayatnya Abu Ayyub hidup dalam peperangan. Sehingga dikatakan
orang, “Abu Ayyub tidak pernah absen dalam setiap peperangan yang dihadapi kaum muslimin
sejak masa Rasulullah sampai dia wafat di masa pemerintahan Mu ‘awiyah. Kecuali bila dia
sedang bertugas dengan suatu tugas penting yang lain.’’
Peperangan terakhir yang ikutinya, ialah ketika Mu awiyah mengerahkan tentara
muslimin merebut kota Konstantinopel. Abu Ayyub seorang prajurit yang patuh dan setia.
Ketika itu dia telah berusia lebih delapan puluh tahun. Suatu usia yang boleh dikatakan usia
akhir tua. Tetapi usia tidak menghalanginya untuk bergabung dengan tentara muslimin di
bawah bendera Yazid bin Mu’awiyah. Dia tidak menolak mengharufngi laut, membelah ombak
untuk berperang fi sabilillah. Tetapi belum berapa lama dia berada di medan tempur
menghadapi musuh, Abu Ayyub jatuh sakit. Abu Ayyub terpaksa istirahat di perkemahan, tidak
dapat melanjutkan peperangan kerana fisiknya sudah lemah.
Ketika Yazid mengunjungi Abu Ayyub yang sakit, panglima ini bertanya, “Adakah
sesuatu yang Anda kehendaki, hai Abu Ayyub?”
Jawab Abu Ayyub, ‘Tolong sampaikan salam saya kepada seluruh tentara muslimin.
Katakan kepada mereka, Abu Ayyub berpesan supaya kalian semuanya terus maju sampai ke
jantung daerah musuh. Bawalah saya beserta kalian. Kalau saya mati, kuburkan saya dekat pilar
kota Konstantinopel!”
Tidak lama sesudah ia berkata demikian, Abu Ayyub menghembuskan nafasnya yang
terakhir. Dia wafat menemui Tuhannya di tengah-tengah kancah pertempuran.
Tentara muslimin memperkenankan keinginan sahabat Rasulullah yang mulia ini.
Mereka berperang dengan gigih, menghalau musuh dari satu medan ke medan tempur yang
lain. Sehingga akhirnya mereka berhasil mencapai pilar-pilar kota Konstantinopel, sambil
membawa jenazah Abu Ayyub.
Dekat sebuah pilar kota Konstantinopel niereka menggali kuburuan, lalu mereka
makamkan jenazah Abu Ayyub di sana, sesuai dengan pesan Abu Ayyub.
Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Ayyub. Dia tidak ingin mati
kecuali dalam barisan termpur yang sedang berperang fi sabillah. Sedangkan usianya telah
mencapai delapan puluh tahun. Radhiyallahu ‘anhu. Amin!!!
Tuesday, October 21
Sirah - ABU UBAIDAH BIN JARRAH
ABU UBAIDAH BIN JARRAH
Wajahnya selalu berseri. Matanya bersinar. Tubuhnya tinggi kurus. Bidang bahunya
kecil. Setiap mata senang melihat kepadanya. Dia selalu ramah tamah, sehingga setiap orang
merasa simpati kepadanya.
Di sampmg sifatnya yang lemah lembut, dia sangat tawadhu’ (rendah hati) dan sangat
pemalu. Tetapi bila menghadapi suatu urusan penting, dia sangat cekatan ba gaikan singa jantan
bertemu musuh.
Dialah kepercayaan ummat Muhammad. Namanya‘Amir bin ‘Abdillah bin Jarrah Al-
Fihry Al-Qurasyi”, dipanggil “Abu ‘Ubaidah”;
‘Abdullah bin ‘Umar pernah bercerita tentang sifat sifat yang mulia, katanya: “Ada tiga
orang Quraisy yang sangat cemerlang wajahnya, tinggi akhlak dan sangat pe malu. Bila
berbicara, mereka tidak pernah dusta. Dan apabila orang berbicara kepada mereka, mereka tidak
cepat-cepat mendustakan. Mereka itu ialah: Abu Bakar Shiddiq, ‘Utsman bin ‘Affan, dan Abu
‘U’baidah bin Jarrah.”
Abu ‘Ubaidah termasük kelompok pertama masuk Islam. Dia masuk Islam ditangan Abu
Bakar Shiddiq, sehari sesudah Abu Bakar masuk Islam. Waktu itu beliau menemui Rasulullah
saw. bersama-sama dengan ‘Abdur Rah man bin ‘Auf, ‘Utsman bin Mazh’un dan Arqam bin Abi
Arqam untuk mengucapkan syahadat di hadapan beliau. Kerana itu mereka tercatat sebagai
tiang-tiang pertama dalam pembangunan mahligai Islam yang agung dan indah.
Dalam kehidupannya sebagai muslim, Abu ‘Ubaidah mengalami masa penindasan yang
keras dan kaum Quraisy terhadap kaum muslimin di Makkah, sejak permulaan sampai akhir.
Dia turut menderita bersama-sama kaum muslimin yang mula-mula, merasakan tindakan
kekerasan, kesulitan dan kesedihan, yang tak pernah dirasakan oleh pengikut agama-agama lain
di muka bumi ini. Walaupun beqitu, dia tetap teguh menerima segala macam cobaan. Dia tetap
setia dan membenarkan Rasulullah pada setiap situasi dan kondisi yang berubah-ubah.
Bahkan ujian yang dialami Abu ‘Ubaidah dalam perang Badar, melebihi segala macam
kekerasan yang pernah kita alami.
Abu ‘Ubaidah turut berperang dalam perang Badar. Dia menyusup ke barisan musuh
tanpa takut mati Tetapi tentara berkuda kaum musyrikin menghadang dan mengejarnya kemana
dia lari. Terutama seorang laki-laki, mengejar Abu ‘Ubaidah dengan sangat beringas kemana
saja. Tetapi Abu ‘Ubaidah selalu menghindar dan menjauhkan diri untuk bertarung dengan
orang itu. Orang itu tidak mahu berhenti mengejarnya.
Setelah lama berputar-put akhirnya Abu ‘Ubaidah terpojok. Dia waspada menunggu
orang yang mengejarnya.
Ketika orang itu tambah dekat kepadanya, dalam posisi yang sangat tepat, Abu ‘Ubaidah
mengayunkan pedangnya tepat di kepala lawan. Orang itu jatuh terbanting dengan kepala belah
dua. Musuh itu tewas seketika dihadapan Abu ‘Ubaidah. Siapakah lawan Abu ‘Ubaidah yang
sangat beringas itu?
Di atas telah dikatakan, tindak kekerasan terhadap kaum muslimin telah melampaui
batas. Mungkin Anda ternganga bila mengetahui musuh yang tewas di tangan Abu ‘Ubaidah itu
tak lain ialah “Abdullah bin Jarrah” ayah kandung Abu ‘Ubaidah.
Abu ‘Ubaidah tidak membunuh bapaknya. Tetapi membunuh kemuysrikan yang
bersarang dalam pribadi bapaknya. Berkenaan dengan kasus Abu ‘Ubaidah tersebut, Allah swt.
berfirman sebagai tersebut
“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat,
saling berkasih-sa yang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul Nya, sekalipun
orang-orang itu bapak-bapak, atau anak anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka.
Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan
menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya
mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.
Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya.
Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahawa sesungguhnya golongan Allah itulah
golongan yang beruntung.” (Al-Mujadalah: 22)
Ayat di atas tidak menyebabkan Abu ‘Ubaidah membusungkan dada. Bahkan
menambah kokoh imannya kepada Allah dan ketulusannya terhadap agama. Orang yang
mendapat gelar ‘kepercayaan ummat Muhammad” ini ternyata menarik perhatian orang-orang
besar, bagaikan besi berani menarik logam di sekitarnya.
Muhammad bin Ja’far menceritakan, “Pada suatu ketika para utusan kaum Nasrani
datang menghadap kepada Rasulullah. Kata mereka, “Ya, Aba Qasim! Kirimlah bersama kami
seorang sahabat Anda yang Anda pandang cakap menjadi hakim tentang harta yang
menyebabkan kami berselisih sesama kami. Kami senang menerima putusan yang ditetapkan
kaum muslimin.”
Jawab Rasulullah, ‘Datanglah nanti petang, saya akan mengirimkan bersama kalian
“orang kuat yang terpercaya”
Kata ‘Umar bin Khaththab, “Saya pergi shalat Zhuhur lebih cepat dan biasa. Saya tidak
ingin tugas itu diserahkan kepada orang lain, kerana saya ingin mendapatkan gelar “orang kuat
terpercaya”. Sesudah selesai shalat Zhuhur, Rasulullah menengok ke kanan dan ke kiri. Saya
agà k menonjolkan diri supaya Rasulullah melihat saya. Tetapi beliau tidak melihat lagi kepada
kami. Setelah beliau melihat Abu ‘Ubaidah bin Jarrah, beliau memanggil seraya berkata
kepadanya, ‘Pergilah engkau bersama mereka. Adili dengan baik perkara yang mereka
perselisihkan.”
Maka pergilah Abu ‘Ubaidah dengan para utusan Nasrani tersebut, menyandang gelar “orang
kuar yang terpercaya”.
Abu ‘Ubaidah bukanlah sekedar orang kepercayaan semata-mata. Bahkan dia seorang yang
berani memikul kepercayaan yang dibebankan kepadanya. Keberan itu ditunjukkannya dalam
berbagai peristiwa dan tugas yang dipikulkan kepadanya.
Pada suatu hari Rasulullah saw. mengirim satu pasukan yang terdiri dari para sahabat
untuk menghadang kafilah Quraisy. Beliau mengangkat Abu ‘U,baidah menjadi kepala pasukan,
dan membekali mereka hanya dengan sekarung kurma. Tidak lebih dri itu.
Kerana itu Abu ‘Ubaidah membagi-bagikan kepada para prajuritnya sehari sebuah
kurma bagi seorang. Mereka mengulum kurma itu seperti menghisap gula-gula. Sesudah itu
mereka minum. Hanya begitu mereka makan untuk beberapa hari.
Waktu kaum muslimin kalah dalam perang Uhud, kaum musyrikin sedemikian bernafsu
ingin membunuh Rasulullah saw. Waktu itu, Abu ‘Ubaidah termasuk sepuluh orang yang selalu
membentengi Rasulullah. Mereka mempertaruhkan dada mereka ditembus panah kaum
musyrikin, demi keselamatan Rasulullah saw. Ketika pertempuran telah usai, sebuah taring
Rasulullah ternyata patah. Kening beliau luka, dan di pipi beliau tertancap dua mata rantai baju
besi beliau. Abu Bakar menghampiri Rasulullah hendak mencabut kedua mata rantai itu dan pipi
beliau.
Kata Abu ‘Ubaidah, “Biarlah saya yang mencabut nya!”
Abu Bakar menyilakan Abu ‘Ubaidah. Abu ‘Ubaidah kuatir kalau Rasulullah kesakitan
bila dicabutnya dengan tangan. Maka digigitnya mata rantai itu kuat-kuat de ngan giginya lalu
ditariknya. Setelah mata rantai itu tercabut, gigi Abu ‘Ubaidah tanggal satu. Kemudian digigit
nya pula mata rantai yang sebuah lagi. Setelah tercabut, gigi Abu ‘Ubaidah tanggal pula sebuah
lagi.
Kata Abu Bakar, “Abu ‘Ubaidah orang ompong yang paling cakap.”
Abu ‘Ubaidah selalu mengikuti Rasulullah berperang dalam setiap peperangan yang
dipimpin beliau, sampai beliau wafat.
Dalam musyawarah pemilihan Khalifah yang pertama (Yaumu s-saqifah), ‘Umar bin
Khaththab mengulurkan tangannya kepadà Abu ‘Ubaidah seraya berkata, “Saya memilih Anda
dan bersumpah setia dengan Anda. Kerana saya pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:.
“Sesungguhnya tiap-tiap ummat mempunyai orang dipercayai. Orang yang paling
dipercaya dan ummat ini adalah Anda (Abu ‘Ubaidah).”
Jawab Abu ‘Ubaidah, “Saya tidak mahu mendahului orang yang pernah disuruh
Rasulullah untuk mengimami kita shalat sewaktu beliau hidup (Abu Bakar). walaupun sekarang
beliau telah wafat, marilah kita imamkan juga dia.”
Akhirnya mereka sepakat memilih Abu Bakar inenjadi Khalifah Pentama, sedangkan
Abu ‘Ubaidah menjadi penasihat dan pembantu utama bagi Khalifah.
Setelah Abu Bakar, jabatan khalifah pindah ke tangan ‘Umar bin Khatthab Al-Faruq. Abu
‘Ubaidah selalu dekat dengan ‘Umar dan tidak pernah membangkang perintahnya, kecuali
sekali. Tahukah Anda, perintah Khalifah ‘Umar yang bagaimanakah yang tidak dipatuhi Abu
Ubaidah?
Peristiwa itu terjadi ketika Abu ‘Ubaidah bin Jarrah memimpin tentara muslimin
menaklukkan wilayah Syam (Syria). Dia berhasil memperoleh kemenangan demi ke menangan
berturut-turut, sehingga seluruh wilayah Syam takluk ke bawah kekuasaannya sejak dan tepi
sungai Furat di sebelah Timur sampai ke Asia Kecil di sebelah Utara
Sementara itu, di negeri Syam berjangkit penyakit menular (Tha’un) yang amat
berbahaya, yang belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga korban berjatuhan. Khalifah ‘Umar
datang dan Madinah , sengaja hendak menemui Abu ‘Ubaidah. Tetapi ‘Umar tidak dapat masuk
kota kerana penyakit yang sedang mengganas itu. Lalu ‘Umar menulis surat kepada Abu
‘Ubaidah sebagai berikut:
“Saya sangat penting bertemu dengan Saudara. Tetapi saya tidak dapat menemui
Saudara kerana wabak penyakit sedang berjangkit dalam kota. Kerana itu bila surat ini sampai
ke tangan Saudara malam hari, saya harap Saudara berangkat menemui saya di luar kota
sebelum Subuh. Dan bila surat ini sampai ke tangan siang hari, saya harap Saudara berangkat
sebelum hari petang.”
Setelah surat Khalifah tersebut dibaca Abu ‘Ubaidah, dia berkata, “Saya tahu maksud
Amirul Mu’minin memanggil saya. Beliau ingin supaya saya menyingkir dari pe nyakit yang
berbahaya ini.”
Lalu dibalasnya surat Khalifah, katanya;
“Ya, Amirul Mu’minin! Saya mengerti maksud Khalifah memanggil saya. Saya berada di tengahtenciah
tentara muslimin, sedang bertugas memimpin mereka. Saya tidak ingin meninggalkan
mereka dalam bahaya yang mengancam hanya untuk menyelamatkan diri sendiri. Saya tidak
ingin berpisah dengan mereka, sehingga Allah memberi keputusan kepada kami semua (selamat
atau binasa). Maka bila surat ini sampai ke tangan Anda, ma’afkanlah saya tidak dapat
memenuhi permintaan Anda, dan beri izinlah saya untuk tetap tinggal bersama-sama mereka.”
Setelah Khalifah ‘Umar selesai membaca surat tersebut, beliau menangis sehingga air
matanya meleleh ke pipinya. Kerana sedih dan terharu melihat Umar menangis, maka orang
yang disamping beliau bertanya, “Ya, Amiral Mu’ minin! Apakah Abu ‘Ubaidah wafat?”
“Tidak!” jawab ‘Umar. “Tetapi dia berada di ambang kematian.”
Dugaan Khalifah tersebut tidak salah. Kerana tidak lama sesudah itu Abu ‘Ubaidah
terserang wabak yang sangat berbahaya. Sebelum kematiannya Abu ‘Ubaidah berwasiat kepada
seluruh prajuritnya:
“Saya berwasiat kepada Anda sekalin. Jika wasiat ini kalian terima dan laksanakan,
kalian tidak akan sesat dari jalan yang baik, dan senantiasa berada dalam bahagia.
“Tetaplah menegakkan shalat. Laksanakan puasa Ramadhan. Bayar sedekah (zakat).
Tunaikan ibadah haji dan ‘umrah. Hendaklah kalian saling menasihati sesama ka lian. Nasihati
pemerintah kalian, jangan dibiarkan mereka tersesat. Dan janganlah kalian tergoda oleh dunia.
Walaupun seseorang bisa berusia panjang sampai senibu tahun, namun akhinnya dia
akan menjumpai kematian seperti yang kalian saksikan ini.
“Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...” Kemudian dia menoleh kepada
Mu’adz bin Jabal.
Katanya, “Hai, Mu’adz! Sekarang engkau menjadi Imam (Panglima)!” Tidak lama
kemudian, ruhnya yang suci berangkat ke rahmatullah. Dia telah tiada di dunia fana. Jasadnya
tidak lama pula habis dimakan masa. Tetapi amal pengorbanannya akan tetap hidup selamalamanya.
Mu’adz bin Jabal berdiri di hadapan jama’ahnya, lalu dia berpidato:
“Ayyuhannaas! (Hai sekalian manusia!) Kita semua sama-sama merasa sedih kehilangan
dia (Abu ‘Ubaidah). Demi Allah! Saya tidak melihat orang yang lapang dada melebihi dia. Saya
tidak melihat orang yang lebih jauh dan kepalsuan, selain dia. Saya tidak tahu; kalau ada orang
yang lebih menyukai kehidupan akhirat melebihi dia. Dan saya tidak tahu, kalau ada orang yang
suka memberi nasihat kepada umum melebihi dia. Kerana itu marilah kita memohon rahmat
Allah baginya, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya pula kepada kita semua.
Amin!!
Wajahnya selalu berseri. Matanya bersinar. Tubuhnya tinggi kurus. Bidang bahunya
kecil. Setiap mata senang melihat kepadanya. Dia selalu ramah tamah, sehingga setiap orang
merasa simpati kepadanya.
Di sampmg sifatnya yang lemah lembut, dia sangat tawadhu’ (rendah hati) dan sangat
pemalu. Tetapi bila menghadapi suatu urusan penting, dia sangat cekatan ba gaikan singa jantan
bertemu musuh.
Dialah kepercayaan ummat Muhammad. Namanya‘Amir bin ‘Abdillah bin Jarrah Al-
Fihry Al-Qurasyi”, dipanggil “Abu ‘Ubaidah”;
‘Abdullah bin ‘Umar pernah bercerita tentang sifat sifat yang mulia, katanya: “Ada tiga
orang Quraisy yang sangat cemerlang wajahnya, tinggi akhlak dan sangat pe malu. Bila
berbicara, mereka tidak pernah dusta. Dan apabila orang berbicara kepada mereka, mereka tidak
cepat-cepat mendustakan. Mereka itu ialah: Abu Bakar Shiddiq, ‘Utsman bin ‘Affan, dan Abu
‘U’baidah bin Jarrah.”
Abu ‘Ubaidah termasük kelompok pertama masuk Islam. Dia masuk Islam ditangan Abu
Bakar Shiddiq, sehari sesudah Abu Bakar masuk Islam. Waktu itu beliau menemui Rasulullah
saw. bersama-sama dengan ‘Abdur Rah man bin ‘Auf, ‘Utsman bin Mazh’un dan Arqam bin Abi
Arqam untuk mengucapkan syahadat di hadapan beliau. Kerana itu mereka tercatat sebagai
tiang-tiang pertama dalam pembangunan mahligai Islam yang agung dan indah.
Dalam kehidupannya sebagai muslim, Abu ‘Ubaidah mengalami masa penindasan yang
keras dan kaum Quraisy terhadap kaum muslimin di Makkah, sejak permulaan sampai akhir.
Dia turut menderita bersama-sama kaum muslimin yang mula-mula, merasakan tindakan
kekerasan, kesulitan dan kesedihan, yang tak pernah dirasakan oleh pengikut agama-agama lain
di muka bumi ini. Walaupun beqitu, dia tetap teguh menerima segala macam cobaan. Dia tetap
setia dan membenarkan Rasulullah pada setiap situasi dan kondisi yang berubah-ubah.
Bahkan ujian yang dialami Abu ‘Ubaidah dalam perang Badar, melebihi segala macam
kekerasan yang pernah kita alami.
Abu ‘Ubaidah turut berperang dalam perang Badar. Dia menyusup ke barisan musuh
tanpa takut mati Tetapi tentara berkuda kaum musyrikin menghadang dan mengejarnya kemana
dia lari. Terutama seorang laki-laki, mengejar Abu ‘Ubaidah dengan sangat beringas kemana
saja. Tetapi Abu ‘Ubaidah selalu menghindar dan menjauhkan diri untuk bertarung dengan
orang itu. Orang itu tidak mahu berhenti mengejarnya.
Setelah lama berputar-put akhirnya Abu ‘Ubaidah terpojok. Dia waspada menunggu
orang yang mengejarnya.
Ketika orang itu tambah dekat kepadanya, dalam posisi yang sangat tepat, Abu ‘Ubaidah
mengayunkan pedangnya tepat di kepala lawan. Orang itu jatuh terbanting dengan kepala belah
dua. Musuh itu tewas seketika dihadapan Abu ‘Ubaidah. Siapakah lawan Abu ‘Ubaidah yang
sangat beringas itu?
Di atas telah dikatakan, tindak kekerasan terhadap kaum muslimin telah melampaui
batas. Mungkin Anda ternganga bila mengetahui musuh yang tewas di tangan Abu ‘Ubaidah itu
tak lain ialah “Abdullah bin Jarrah” ayah kandung Abu ‘Ubaidah.
Abu ‘Ubaidah tidak membunuh bapaknya. Tetapi membunuh kemuysrikan yang
bersarang dalam pribadi bapaknya. Berkenaan dengan kasus Abu ‘Ubaidah tersebut, Allah swt.
berfirman sebagai tersebut
“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat,
saling berkasih-sa yang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul Nya, sekalipun
orang-orang itu bapak-bapak, atau anak anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka.
Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan
menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya
mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.
Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya.
Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahawa sesungguhnya golongan Allah itulah
golongan yang beruntung.” (Al-Mujadalah: 22)
Ayat di atas tidak menyebabkan Abu ‘Ubaidah membusungkan dada. Bahkan
menambah kokoh imannya kepada Allah dan ketulusannya terhadap agama. Orang yang
mendapat gelar ‘kepercayaan ummat Muhammad” ini ternyata menarik perhatian orang-orang
besar, bagaikan besi berani menarik logam di sekitarnya.
Muhammad bin Ja’far menceritakan, “Pada suatu ketika para utusan kaum Nasrani
datang menghadap kepada Rasulullah. Kata mereka, “Ya, Aba Qasim! Kirimlah bersama kami
seorang sahabat Anda yang Anda pandang cakap menjadi hakim tentang harta yang
menyebabkan kami berselisih sesama kami. Kami senang menerima putusan yang ditetapkan
kaum muslimin.”
Jawab Rasulullah, ‘Datanglah nanti petang, saya akan mengirimkan bersama kalian
“orang kuat yang terpercaya”
Kata ‘Umar bin Khaththab, “Saya pergi shalat Zhuhur lebih cepat dan biasa. Saya tidak
ingin tugas itu diserahkan kepada orang lain, kerana saya ingin mendapatkan gelar “orang kuat
terpercaya”. Sesudah selesai shalat Zhuhur, Rasulullah menengok ke kanan dan ke kiri. Saya
agà k menonjolkan diri supaya Rasulullah melihat saya. Tetapi beliau tidak melihat lagi kepada
kami. Setelah beliau melihat Abu ‘Ubaidah bin Jarrah, beliau memanggil seraya berkata
kepadanya, ‘Pergilah engkau bersama mereka. Adili dengan baik perkara yang mereka
perselisihkan.”
Maka pergilah Abu ‘Ubaidah dengan para utusan Nasrani tersebut, menyandang gelar “orang
kuar yang terpercaya”.
Abu ‘Ubaidah bukanlah sekedar orang kepercayaan semata-mata. Bahkan dia seorang yang
berani memikul kepercayaan yang dibebankan kepadanya. Keberan itu ditunjukkannya dalam
berbagai peristiwa dan tugas yang dipikulkan kepadanya.
Pada suatu hari Rasulullah saw. mengirim satu pasukan yang terdiri dari para sahabat
untuk menghadang kafilah Quraisy. Beliau mengangkat Abu ‘U,baidah menjadi kepala pasukan,
dan membekali mereka hanya dengan sekarung kurma. Tidak lebih dri itu.
Kerana itu Abu ‘Ubaidah membagi-bagikan kepada para prajuritnya sehari sebuah
kurma bagi seorang. Mereka mengulum kurma itu seperti menghisap gula-gula. Sesudah itu
mereka minum. Hanya begitu mereka makan untuk beberapa hari.
Waktu kaum muslimin kalah dalam perang Uhud, kaum musyrikin sedemikian bernafsu
ingin membunuh Rasulullah saw. Waktu itu, Abu ‘Ubaidah termasuk sepuluh orang yang selalu
membentengi Rasulullah. Mereka mempertaruhkan dada mereka ditembus panah kaum
musyrikin, demi keselamatan Rasulullah saw. Ketika pertempuran telah usai, sebuah taring
Rasulullah ternyata patah. Kening beliau luka, dan di pipi beliau tertancap dua mata rantai baju
besi beliau. Abu Bakar menghampiri Rasulullah hendak mencabut kedua mata rantai itu dan pipi
beliau.
Kata Abu ‘Ubaidah, “Biarlah saya yang mencabut nya!”
Abu Bakar menyilakan Abu ‘Ubaidah. Abu ‘Ubaidah kuatir kalau Rasulullah kesakitan
bila dicabutnya dengan tangan. Maka digigitnya mata rantai itu kuat-kuat de ngan giginya lalu
ditariknya. Setelah mata rantai itu tercabut, gigi Abu ‘Ubaidah tanggal satu. Kemudian digigit
nya pula mata rantai yang sebuah lagi. Setelah tercabut, gigi Abu ‘Ubaidah tanggal pula sebuah
lagi.
Kata Abu Bakar, “Abu ‘Ubaidah orang ompong yang paling cakap.”
Abu ‘Ubaidah selalu mengikuti Rasulullah berperang dalam setiap peperangan yang
dipimpin beliau, sampai beliau wafat.
Dalam musyawarah pemilihan Khalifah yang pertama (Yaumu s-saqifah), ‘Umar bin
Khaththab mengulurkan tangannya kepadà Abu ‘Ubaidah seraya berkata, “Saya memilih Anda
dan bersumpah setia dengan Anda. Kerana saya pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:.
“Sesungguhnya tiap-tiap ummat mempunyai orang dipercayai. Orang yang paling
dipercaya dan ummat ini adalah Anda (Abu ‘Ubaidah).”
Jawab Abu ‘Ubaidah, “Saya tidak mahu mendahului orang yang pernah disuruh
Rasulullah untuk mengimami kita shalat sewaktu beliau hidup (Abu Bakar). walaupun sekarang
beliau telah wafat, marilah kita imamkan juga dia.”
Akhirnya mereka sepakat memilih Abu Bakar inenjadi Khalifah Pentama, sedangkan
Abu ‘Ubaidah menjadi penasihat dan pembantu utama bagi Khalifah.
Setelah Abu Bakar, jabatan khalifah pindah ke tangan ‘Umar bin Khatthab Al-Faruq. Abu
‘Ubaidah selalu dekat dengan ‘Umar dan tidak pernah membangkang perintahnya, kecuali
sekali. Tahukah Anda, perintah Khalifah ‘Umar yang bagaimanakah yang tidak dipatuhi Abu
Ubaidah?
Peristiwa itu terjadi ketika Abu ‘Ubaidah bin Jarrah memimpin tentara muslimin
menaklukkan wilayah Syam (Syria). Dia berhasil memperoleh kemenangan demi ke menangan
berturut-turut, sehingga seluruh wilayah Syam takluk ke bawah kekuasaannya sejak dan tepi
sungai Furat di sebelah Timur sampai ke Asia Kecil di sebelah Utara
Sementara itu, di negeri Syam berjangkit penyakit menular (Tha’un) yang amat
berbahaya, yang belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga korban berjatuhan. Khalifah ‘Umar
datang dan Madinah , sengaja hendak menemui Abu ‘Ubaidah. Tetapi ‘Umar tidak dapat masuk
kota kerana penyakit yang sedang mengganas itu. Lalu ‘Umar menulis surat kepada Abu
‘Ubaidah sebagai berikut:
“Saya sangat penting bertemu dengan Saudara. Tetapi saya tidak dapat menemui
Saudara kerana wabak penyakit sedang berjangkit dalam kota. Kerana itu bila surat ini sampai
ke tangan Saudara malam hari, saya harap Saudara berangkat menemui saya di luar kota
sebelum Subuh. Dan bila surat ini sampai ke tangan siang hari, saya harap Saudara berangkat
sebelum hari petang.”
Setelah surat Khalifah tersebut dibaca Abu ‘Ubaidah, dia berkata, “Saya tahu maksud
Amirul Mu’minin memanggil saya. Beliau ingin supaya saya menyingkir dari pe nyakit yang
berbahaya ini.”
Lalu dibalasnya surat Khalifah, katanya;
“Ya, Amirul Mu’minin! Saya mengerti maksud Khalifah memanggil saya. Saya berada di tengahtenciah
tentara muslimin, sedang bertugas memimpin mereka. Saya tidak ingin meninggalkan
mereka dalam bahaya yang mengancam hanya untuk menyelamatkan diri sendiri. Saya tidak
ingin berpisah dengan mereka, sehingga Allah memberi keputusan kepada kami semua (selamat
atau binasa). Maka bila surat ini sampai ke tangan Anda, ma’afkanlah saya tidak dapat
memenuhi permintaan Anda, dan beri izinlah saya untuk tetap tinggal bersama-sama mereka.”
Setelah Khalifah ‘Umar selesai membaca surat tersebut, beliau menangis sehingga air
matanya meleleh ke pipinya. Kerana sedih dan terharu melihat Umar menangis, maka orang
yang disamping beliau bertanya, “Ya, Amiral Mu’ minin! Apakah Abu ‘Ubaidah wafat?”
“Tidak!” jawab ‘Umar. “Tetapi dia berada di ambang kematian.”
Dugaan Khalifah tersebut tidak salah. Kerana tidak lama sesudah itu Abu ‘Ubaidah
terserang wabak yang sangat berbahaya. Sebelum kematiannya Abu ‘Ubaidah berwasiat kepada
seluruh prajuritnya:
“Saya berwasiat kepada Anda sekalin. Jika wasiat ini kalian terima dan laksanakan,
kalian tidak akan sesat dari jalan yang baik, dan senantiasa berada dalam bahagia.
“Tetaplah menegakkan shalat. Laksanakan puasa Ramadhan. Bayar sedekah (zakat).
Tunaikan ibadah haji dan ‘umrah. Hendaklah kalian saling menasihati sesama ka lian. Nasihati
pemerintah kalian, jangan dibiarkan mereka tersesat. Dan janganlah kalian tergoda oleh dunia.
Walaupun seseorang bisa berusia panjang sampai senibu tahun, namun akhinnya dia
akan menjumpai kematian seperti yang kalian saksikan ini.
“Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...” Kemudian dia menoleh kepada
Mu’adz bin Jabal.
Katanya, “Hai, Mu’adz! Sekarang engkau menjadi Imam (Panglima)!” Tidak lama
kemudian, ruhnya yang suci berangkat ke rahmatullah. Dia telah tiada di dunia fana. Jasadnya
tidak lama pula habis dimakan masa. Tetapi amal pengorbanannya akan tetap hidup selamalamanya.
Mu’adz bin Jabal berdiri di hadapan jama’ahnya, lalu dia berpidato:
“Ayyuhannaas! (Hai sekalian manusia!) Kita semua sama-sama merasa sedih kehilangan
dia (Abu ‘Ubaidah). Demi Allah! Saya tidak melihat orang yang lapang dada melebihi dia. Saya
tidak melihat orang yang lebih jauh dan kepalsuan, selain dia. Saya tidak tahu; kalau ada orang
yang lebih menyukai kehidupan akhirat melebihi dia. Dan saya tidak tahu, kalau ada orang yang
suka memberi nasihat kepada umum melebihi dia. Kerana itu marilah kita memohon rahmat
Allah baginya, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya pula kepada kita semua.
Amin!!
Friday, October 17
Sirah - THUFAIL BIN ‘AMR AD
THUFAIL BIN ‘AMR AD
“Wahai Allah! Berilah dia kemampuan yang dapat menyampaikan niat baiknya.” (Do’a
Nabi Saw.untuk Thufail.)
THUFAIL BIN ‘AMR AD adalah kepala kabilah Daus pada masa jahiliyah. Dia termasuk
bangsawan Arab yang terpandang dan seorang pemimpin yang memiliki kharisma serta
kewibawaan yang tinggi dan diperhitungkan orang. Periuknya tidak pernah turun dari tungku.
Pintu rumahnya tidak pernah tertutup bagi orang-orang yang bertanmu. Dia senang memberi
makan orang yang kelaparan, lindungi orang yang sedang ketakutan dan membantu setiap
penganggur.
Di samping itu, dia pujangga yang pintar dan cerdas, penyair yang tajam dan
berperasaan halus. Selalu tanggap terhadap yang manis dan yang pahit. Karya mempesona
bagikan sihir.
Pada suatu ketika, Thufail meninggalakan negerinya Tihamah,’ menuju Mekkah. Waktu
itu konfrontasi antara Rasulullah saw. dengan kafir Quraisy semakin nyata. Masing-masing
pihak berusaha memperoleh pengikut atau simpatisan guna memperkuat golongannya. Untuk
itu, senjata Rasulullah saw. hanya mendo’a kepada Tuhannya, disertai iman dan kebenaran yang
dibawanya. Sedangkan kaum kafir Quraisy menegakkan impian mereka dengan kekuatan
senjata, dan dengan segala macam cara untuk menghalangi orang banyak menjadi pengikut Nabi
Muhammad.
Thufail terlibat dalam kemelut ini tanpa disengajanya, kerana kedatangannya ke Makkah
itu bukan untuk melibatkan diri. Bahkan pertentangan antara Nabi Muhammad dengan kaum
Quraiys belum pernah terlintas dalam pikirannya sebelum itu.
Mengenai keterlibatannya dalam pertentangan itu, Thufail mempunyai kenangkenangan
yang tak dapat di lupakannya. Kerana itu marilah kita simak ceritanya yang unik
berikut ini:
Kedatangan saya ke Makkah kali itu mereka sambut agar luar biasa, aku ditempatkan di
sebuah rumah istimewa. Kemudian para pemimpin dan pembesar Quraisy berdatangan
menemuiku.
Kata mereka, “Hal Thufail! Kami sangat gembira Anda datang ke negeri kami, walaupun
negeri kami sedang dilanda kemelut. Orang yang menda’wahkan diri menjadi Nabi itu (Nabi
Muhammad saw.) ternyata telah merusak agama kita, merusak kerukunan kita, dan memecah
persatuan kita semua. Kami kuatir dia akan mempengaruhi Anda pula. Kemudian dengan
kepempimpinan Anda, dipengaruhinya pula kaum Anda, seperti yang terjadi pada kami.
Kerana itu janganlah Anda dekati orang itu, jangan berbicara dengannya dan jangan
pula mendengarkan kata katanya. Sebab kalau dia berbicara, kata-katanya bagaikan sihir.
Perkataannya dapat memisahkan anak dengan bapak, merenggangkan saudara sesama saudara
dan menceraikan isteri dengan suami.”
‘Demi Allah! Mereka selalu mendampingiku, dan menceritakan hal yang aneh-aneh
kepadaku, kata Thufail. Mereka menakut-nakutiku dan kaumku dengan keajaiban keajaiban
yang pernah dilakukan orang itu. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mendekati orang itu,
tidak akan berbicara dengannya dan tidak akan mendengarkan apa-apa yang dikatakannya.
Pada suatu pagi aku pergi ke masjid hendak thawaf di Ka’bah, dan mengambil berkat
dan berhala-berhala yang kami puja. Hal seperti itu biasa kami lakukan ketika kami haji.
Telingaku kusumbat dengan kapas, kerana aku takut suara Muhammad akan terdengar olehku.
Tetapi ketika masuk ke masjid, ku lihat Muhammad sedang shalat dalam Ka’bah. Tetapi
shalatnya tidak seperti shalat kami, dan ibadatnya tidak seperti ibadat kami. Aku terpesona
melihatnya. Sedikit demi sedikit aku bergerak menghampirinya tanpa sadar, sehingga akhirnya
aku dekat sekali kepadanya. Agaknya Allah swt menakdirkan supaya aku mendengar apa yang
dibacanya. Memang, ternyata kalimat-kalimat yang diucapkannya sangat indah dan bagus
sekali.
Lalu aku berkata pada diriku, “Betapa celakanya engkau, hai Thufail! Engkau seorang
pujangga dan penyair. Engkau tahu membedakan mana yang indah dan yang buruk. Apa
salahnya kalau engkau dengarkan dia bertutur ? Mana yang baik boleh engkau ambil, mana
yang buruk tinggalkan
“Aku bagaikan terpaku di tempat itu sampai Rasulullah pulang. Lalu kuikuti dia sampai
ke rumahnya. Setelah dia masuk, aku pun masuk pula. Setelah kami duduk, aku berkata
kepadanya:
“Ya, Muhammad! Sesungguhnya kaum Anda berkata kepadaku tentang diri Anda
begini dan begitu. Mereka menakut-nakutjku berhubung dengan urusan agama Anda. Oleh
kerananya aku menyumbat telingaku dengan kapas agar tidak mendengar perkataan Anda.
Tetapi Allah menghendáki supaya aku mendengar sesuatu dan Anda. Ternyata apa yang Anda
ucapkan semuanya benar dan bagus. Maka ajarkanlah kepadaku agama Anda itu!”
Rasulullah mengajarkan kepadaku perihal agama Islam. Dibacakannya surat Al-Ikhlas
dan Al-Falaq. Demi Allah! Belum pernah aku mendengar kalimat-kalimat seindah itu. Dan
belum pernah aku mengenal agama yang lebih baik daripada Islam ini.
Setelah itu kuulurkan tanganku kepadanya, lalu ku ucapkan dua kalimah syahadat:
Sejak itu aku masuk Islam.
Kemudian aku menetap di Makkah beberapa lama, mempelajari agama Islam kepada beliau.
Aku menghafal ayat-ayat Al-Qur’an yang dapat ku hafal. Ketika aku ber maksud hendak
kembali kepada kaumku, kukatakan ke pada beliau, “ Rasulullah! Aku ini pemimpin yang
dipatuhi oleh kaumku. Aku bermaksud hendak kembali kepada mereka dan mengajak mereka
masuk Islam. Tolonglah do’akan kepada Allah swt., semoga Allah memberi ku bukti-bukti nyata
yang dapat memperkuat da’wahku kepada mereka, supaya mereka masuk Islam.”
Rasulullah saw. mendo’a:
Di tengah perjalanan pulang, ketika aku sampai di tempat yang dimuliakan kaumku,
keluarlah suatu cahaya di antara kedua mataku seperti lampu.
Aku mendo’a, “Wahai Allah! Pindahkanlah cahaya ini ke tempat lain, kerana kalau
cahaya imi terletak di antara kedua mataku, aku kuatir kalau-kalau kaumku menyangka mataku
telah kèna tulah kerana meninggalkan agama berhala....”
Maka dengan izin Allah cahaya itu dipindahkan ke ujung tongkatku, bagaikan sebuah
kandil tergantung. Setelah aku berada di tengah-tengah mereka, yang pertama tama
mendatangiku adalah bapakku sendiri. Beliau sudah berusia lanjut.
“Menjauhlah daripadaku! Aku bukan lagi putera ayah, dan ayah bukan bapakku lagi!”
“Mengapa begitu, hai anakku? “tanya bapak.
“Aku telah masuk Islam. Aku adalah pengikut agama Nabi Muhammad saw.,” jawabku.
‘Wahai anakku! Bagaimana kalau aku masuk agamamu. Supaya agama menjadi
agamaku pula?” tanya bapak.
“Kalau begitu pergilah Bapak mandi lebih dahulu. Bersihkan badan dan pakaian Bapak.
Sesudah itu kembalilah ke sini, supaya ku ajarkan kepada Bapak apa yang telah ku pelajari
tentang Islam.”
Bapakku pergi mandi membersihkan badan dan pakaiannya. Sesudah itu kuajarkan
kepadanya tentang Islam, Lalu dia masuk Islam.
Kemudian datang pula isteriku.
Aku berkata kepadanya, “Menjauh daripadaku! Aku bukan suamimu lagi, dan engkau
tidak pula isteriku lagi.”
“Mengapa begitu, hai Thufail?” tanya isteriku heran. “Islam telah memisahkan aku dan engkau.
Aku telah masuk Islam dan menjadi pengikut Nabi Muhammad saw.,” kataku menjelaskan
“Bolehlah aku masuk agamamu?” tanya isteriku.
‘Pergilah engkau mandi lebih dahulu ke telaga ‘Dzi Syara?” Bersihkan badanmu di
telaga itu!” kataku.
“Apakah engkau tidak takut kena tulah ‘Dzi’ Syara?” tanya isteri cemas
“Aku tidak peduli dengan berhala Dzj Syara-mu itu! Pergilah mandi ke sana! Tempat itu jauh
dari penglihatan orang banyak. Aku menjamin batu-batu yang tidak bisa apa-apa itu tidak akan
berbuat sesuatu yang dapat mencelakanmut” kataku meyakinkan.
Sesudah mandi dia datang kembali kepadaku, Maka kuajarkan kepadanya tentang
Islam, lalu dia masuk Islam.
Kemudian ku ajak seluruh kabilah Daus masuk Islam. Tetapi mereka tidak memenuhi
ajakanku, kecuali Abu Hurairah. Dia memang paling cepat memenuhi panggilan Islam.
Aku datang menemui Rasulullah saw. di Makkah bersama-sama dengan Abu Hurairah,”
ucap Thufail melanjutkan ceritanya.
Rasulullah saw bertanya, “Bagaimana perkembangan da ‘wahmu, hai Thufail?”
“Hati kaum ku masih tertutup dan sangat kafir. Sungguh seluruh kaumku, kabilah Daus,
masih sesat dan durhaka,” jawabku.
Rasulullah saw. pergi mengambil wudhu’, kemudian beliau shalat. Sesudah shalat beliau
menadahkan kedua tangannya ke langit, lalu mendo’a. Pada saat-saat itu Abu Hurairah merasa
kuatir dan takut kalau-kalau Rasulullah mendo ‘akan agar kabilah Daus celaka.”
Tetapi kiranya Rasulullah mendo’akan sebaliknya
“Aflahummanhdi Dausan...! Allahummmahdi Dausan... ...! Allahummahdi Dausan....!”
(Wahai Allah! Tunjukilah kabilah Dausy....! “)
Kemudian beliau menoleh kepada Thufail, lalu
bersabda: ‘Pulangkah kepada kabilahmu! Lemah lembutlah terhadap mereka! Dan ajaklah
mereka masuk Islam dengan bijaksana!”
Sejak itu hingga Rasulullah hijrah, aku menetap di negeriku dan mengajak kaumku
masuk Islam. Sementara itu telah terjadi perang Badar, perang Uhud, dan perang Khandaq.
Setelah itu aku datang kepada Rasulullah saw. membawa delapan puluh keluarga muslim
Dausy, yang kesilamannya tidak disangsikan lagi.
Rasulullah menyambut gembira kedatangan kami. Beliau memperlengkapi kami
secukupnya dan harta rampasan perang Khaibar.
Kami bermohon kepada Rasulullah, “Ya, Rasulullah! tempatkahlan kami di “sayap
kanan” pasukan Anda dalam setiap peperangan yang Anda pimpin. Dan kompi muslimin Dausy
ini kami bennama “Kompi Mabrur”
Kata Thufail, ‘Sesudah itu aku senantiasa mendampingi Rasulullah saw! Dan turut
berperang bersama beliau kemana saja, hingga kota Makkah dibebaskan dan kekuasaan kaum
kafir Quraisy.”
Setelah pembebasan kota Makkah, aku bermohon kepada Rasulullah, “Ya, Rasulullah!
Izinknlah aku pergi ke Dzil Kafain, untuk memusnahkan berhala-hala yang ada di sana.
Rasulullah memberi izin kepada Thufail. Dia berangkat ke tempat berhala tersebut
dengan satu regu tentara dan pasukannya. Sewaktu sampai ke sana dan mereka bersiap hendak
membakar berhala Dzil Kaffain, berkerumunlah kaum laki-laki, perempuan dan anak-anak
sekitar mereka, menunggu-nunggu apa yang akan terjadi. Mereka menduga akan terjadi petir
dan halilintar, bila regu Thufail menjamah berhala Dzil Kaffain itu.
Tetapi Thufail dengan mantap meruntuhkan berhala itu disaksikan para pemujanya
sendiri. Beliau menyulutkan api tepat di jantung Dzil Kaffain, sambil bersajak
“Hal Dzil Kaffain! Kami bukanlah pemujamu. Kelahiran kami lebih dahulu dari
keberadaanmu. lnilah aku, menyu1utkan api di jantungmu!”
Setelah api melalap habis patung-patung Dzil Kaffain, sirna pulalah sisa-sisa
kemusyrikan dalam kabilah Dausy. Seluruh kabilah Daus lalu masuk Islam, dan menjadi muslim
sejati.
Thufail Bin ‘Arrir Ad Dausy senantiasa mendamping Rasulullah saw. sampai beliau
wafat. Ketika Abu Bakar menjadi Khalifah, Thufail dan anak buahnya patuh kepada
pemenintahan Khalifah Abu Bakar. Tatkala berkecamuk peperangan membasmi orang murtad,
Thufail paling dahulu pergi berperang bersama-sama tentera muslimin memerangi Musailamah
Al-Kadzhzab (Musailamah si pembohong). Begitu pula putera beliau, ‘Amr bin Thu fail, yang
selalu tak mahu ketinggalan.
Ketika Thufail sedang dalam perjalanan menuju Yamamah (kawasan tempat
Musailamah nenyebarkan pahamnya yang murtad), dia bermimpi
“Aku bermimpi, Cobalah kalian ta’birkan mimpi ku itu”, kata Thufail kepada sahabatsahabatnya.
“Bagaimana mimpi Anda?” tanya kawan
“Aku bermimpi kepalaku dicukur. Seekor burung keluar dari mulutku, kemudian
seorang perempuan memasukankku ke dalam perutnya. Anakku ‘Amr menuntut dengan
sungguh-sungguh supaya dibolehkan ikut bersamaku. Tetapi dia tak dapat berbuat apa kerana
antaraku dan dia ada dinding.”
Sebuah mimpi nan indah!” komentar kawan-kawan nya.
Kata Thufail, “Sekarang, baiklah aku ta’birkan sendiri. Kepalaku dicukur, artinya
kepalaku dipotong orang. Burung keluar dari mulutku, artinya nyawaku keluar dari jasadku.
Seorang perempuan memasukkanku ke dalam perutnya, artinya tanah digali orang, lalu aku
dikuburkan. Aku berharap semoga aku tewas sebagai syahid. Adapun tuntutan anakku, dia juga
berharap supaya mati syahid seperti aku. Tetapi permintaannya dikabulkan kemudian.”
Dalam pertempuran memerangi pasukan Musailamah Al-Kadzdazab di Yamamah,
sahabat yang mulia ini, iaitu Thufail Ibnu ‘Amr Ad Dausy, mendapat cidera sehingga dia
terbanting dan tewas di medan tempur.
Puteranya ‘Amr, meneruskan peperangan hingga tangan kanannya buntung. Setelah itu
dia kembali ke Madinah meninggalkan tangannya sebelah dan jenazah bapak nya di medan
tempur Yamamah.
Tatkala Khalifah ‘Umar bin Khaththab memerintah, ‘Amr bin Thufail (putera Thufail)
pernah datang ke majlis khalifah. Ketika dia sedang berada dalam majlis, makanan pun
dihidangkan orang. Orang-orang yang duduk dalam majlis mengajak ‘Amr supaya turut makan
bersama-sama. Tetapi ‘Amr menolak dan menjauh.
“Mengapa...? “, tanya Khalifah. Barangkali engkau lebih senang makan belakangan.
Mungkin engkau malu kerana tanganmu itu.”
“Betul, ya Amjral Mu’mjnjn! “ jawab ‘Amr.
Kata Khalifah, ‘Demi Allah! Aku tidak akan memakan makanan ini, sebelum ia kau
sentuh dengan tanganmu yang buntung itu. Demi Allah! Tidak seorang jua pun yang sebagian
tubuhnya telah berada di surga, melainkan hanya engkau.”
Mimpi Thufail menjadi kenyataan semuanya. Tatkala terjadi perang Yarmuk, ‘Amr bin
Thufail turut pula berperang bersama-sama dengan tentara muslimin. ‘Amr tewas dalam
peperangan itu sebagai syuhada’, seperti yang diharapkan bapaknya.
Semoga Allah memberi rahmat kepada Thufail dan kepada puteranya, ‘Amr, syahid di medan
tempur Yamamah dan Yarmuk.
“Wahai Allah! Berilah dia kemampuan yang dapat menyampaikan niat baiknya.” (Do’a
Nabi Saw.untuk Thufail.)
THUFAIL BIN ‘AMR AD adalah kepala kabilah Daus pada masa jahiliyah. Dia termasuk
bangsawan Arab yang terpandang dan seorang pemimpin yang memiliki kharisma serta
kewibawaan yang tinggi dan diperhitungkan orang. Periuknya tidak pernah turun dari tungku.
Pintu rumahnya tidak pernah tertutup bagi orang-orang yang bertanmu. Dia senang memberi
makan orang yang kelaparan, lindungi orang yang sedang ketakutan dan membantu setiap
penganggur.
Di samping itu, dia pujangga yang pintar dan cerdas, penyair yang tajam dan
berperasaan halus. Selalu tanggap terhadap yang manis dan yang pahit. Karya mempesona
bagikan sihir.
Pada suatu ketika, Thufail meninggalakan negerinya Tihamah,’ menuju Mekkah. Waktu
itu konfrontasi antara Rasulullah saw. dengan kafir Quraisy semakin nyata. Masing-masing
pihak berusaha memperoleh pengikut atau simpatisan guna memperkuat golongannya. Untuk
itu, senjata Rasulullah saw. hanya mendo’a kepada Tuhannya, disertai iman dan kebenaran yang
dibawanya. Sedangkan kaum kafir Quraisy menegakkan impian mereka dengan kekuatan
senjata, dan dengan segala macam cara untuk menghalangi orang banyak menjadi pengikut Nabi
Muhammad.
Thufail terlibat dalam kemelut ini tanpa disengajanya, kerana kedatangannya ke Makkah
itu bukan untuk melibatkan diri. Bahkan pertentangan antara Nabi Muhammad dengan kaum
Quraiys belum pernah terlintas dalam pikirannya sebelum itu.
Mengenai keterlibatannya dalam pertentangan itu, Thufail mempunyai kenangkenangan
yang tak dapat di lupakannya. Kerana itu marilah kita simak ceritanya yang unik
berikut ini:
Kedatangan saya ke Makkah kali itu mereka sambut agar luar biasa, aku ditempatkan di
sebuah rumah istimewa. Kemudian para pemimpin dan pembesar Quraisy berdatangan
menemuiku.
Kata mereka, “Hal Thufail! Kami sangat gembira Anda datang ke negeri kami, walaupun
negeri kami sedang dilanda kemelut. Orang yang menda’wahkan diri menjadi Nabi itu (Nabi
Muhammad saw.) ternyata telah merusak agama kita, merusak kerukunan kita, dan memecah
persatuan kita semua. Kami kuatir dia akan mempengaruhi Anda pula. Kemudian dengan
kepempimpinan Anda, dipengaruhinya pula kaum Anda, seperti yang terjadi pada kami.
Kerana itu janganlah Anda dekati orang itu, jangan berbicara dengannya dan jangan
pula mendengarkan kata katanya. Sebab kalau dia berbicara, kata-katanya bagaikan sihir.
Perkataannya dapat memisahkan anak dengan bapak, merenggangkan saudara sesama saudara
dan menceraikan isteri dengan suami.”
‘Demi Allah! Mereka selalu mendampingiku, dan menceritakan hal yang aneh-aneh
kepadaku, kata Thufail. Mereka menakut-nakutiku dan kaumku dengan keajaiban keajaiban
yang pernah dilakukan orang itu. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mendekati orang itu,
tidak akan berbicara dengannya dan tidak akan mendengarkan apa-apa yang dikatakannya.
Pada suatu pagi aku pergi ke masjid hendak thawaf di Ka’bah, dan mengambil berkat
dan berhala-berhala yang kami puja. Hal seperti itu biasa kami lakukan ketika kami haji.
Telingaku kusumbat dengan kapas, kerana aku takut suara Muhammad akan terdengar olehku.
Tetapi ketika masuk ke masjid, ku lihat Muhammad sedang shalat dalam Ka’bah. Tetapi
shalatnya tidak seperti shalat kami, dan ibadatnya tidak seperti ibadat kami. Aku terpesona
melihatnya. Sedikit demi sedikit aku bergerak menghampirinya tanpa sadar, sehingga akhirnya
aku dekat sekali kepadanya. Agaknya Allah swt menakdirkan supaya aku mendengar apa yang
dibacanya. Memang, ternyata kalimat-kalimat yang diucapkannya sangat indah dan bagus
sekali.
Lalu aku berkata pada diriku, “Betapa celakanya engkau, hai Thufail! Engkau seorang
pujangga dan penyair. Engkau tahu membedakan mana yang indah dan yang buruk. Apa
salahnya kalau engkau dengarkan dia bertutur ? Mana yang baik boleh engkau ambil, mana
yang buruk tinggalkan
“Aku bagaikan terpaku di tempat itu sampai Rasulullah pulang. Lalu kuikuti dia sampai
ke rumahnya. Setelah dia masuk, aku pun masuk pula. Setelah kami duduk, aku berkata
kepadanya:
“Ya, Muhammad! Sesungguhnya kaum Anda berkata kepadaku tentang diri Anda
begini dan begitu. Mereka menakut-nakutjku berhubung dengan urusan agama Anda. Oleh
kerananya aku menyumbat telingaku dengan kapas agar tidak mendengar perkataan Anda.
Tetapi Allah menghendáki supaya aku mendengar sesuatu dan Anda. Ternyata apa yang Anda
ucapkan semuanya benar dan bagus. Maka ajarkanlah kepadaku agama Anda itu!”
Rasulullah mengajarkan kepadaku perihal agama Islam. Dibacakannya surat Al-Ikhlas
dan Al-Falaq. Demi Allah! Belum pernah aku mendengar kalimat-kalimat seindah itu. Dan
belum pernah aku mengenal agama yang lebih baik daripada Islam ini.
Setelah itu kuulurkan tanganku kepadanya, lalu ku ucapkan dua kalimah syahadat:
Sejak itu aku masuk Islam.
Kemudian aku menetap di Makkah beberapa lama, mempelajari agama Islam kepada beliau.
Aku menghafal ayat-ayat Al-Qur’an yang dapat ku hafal. Ketika aku ber maksud hendak
kembali kepada kaumku, kukatakan ke pada beliau, “ Rasulullah! Aku ini pemimpin yang
dipatuhi oleh kaumku. Aku bermaksud hendak kembali kepada mereka dan mengajak mereka
masuk Islam. Tolonglah do’akan kepada Allah swt., semoga Allah memberi ku bukti-bukti nyata
yang dapat memperkuat da’wahku kepada mereka, supaya mereka masuk Islam.”
Rasulullah saw. mendo’a:
Di tengah perjalanan pulang, ketika aku sampai di tempat yang dimuliakan kaumku,
keluarlah suatu cahaya di antara kedua mataku seperti lampu.
Aku mendo’a, “Wahai Allah! Pindahkanlah cahaya ini ke tempat lain, kerana kalau
cahaya imi terletak di antara kedua mataku, aku kuatir kalau-kalau kaumku menyangka mataku
telah kèna tulah kerana meninggalkan agama berhala....”
Maka dengan izin Allah cahaya itu dipindahkan ke ujung tongkatku, bagaikan sebuah
kandil tergantung. Setelah aku berada di tengah-tengah mereka, yang pertama tama
mendatangiku adalah bapakku sendiri. Beliau sudah berusia lanjut.
“Menjauhlah daripadaku! Aku bukan lagi putera ayah, dan ayah bukan bapakku lagi!”
“Mengapa begitu, hai anakku? “tanya bapak.
“Aku telah masuk Islam. Aku adalah pengikut agama Nabi Muhammad saw.,” jawabku.
‘Wahai anakku! Bagaimana kalau aku masuk agamamu. Supaya agama menjadi
agamaku pula?” tanya bapak.
“Kalau begitu pergilah Bapak mandi lebih dahulu. Bersihkan badan dan pakaian Bapak.
Sesudah itu kembalilah ke sini, supaya ku ajarkan kepada Bapak apa yang telah ku pelajari
tentang Islam.”
Bapakku pergi mandi membersihkan badan dan pakaiannya. Sesudah itu kuajarkan
kepadanya tentang Islam, Lalu dia masuk Islam.
Kemudian datang pula isteriku.
Aku berkata kepadanya, “Menjauh daripadaku! Aku bukan suamimu lagi, dan engkau
tidak pula isteriku lagi.”
“Mengapa begitu, hai Thufail?” tanya isteriku heran. “Islam telah memisahkan aku dan engkau.
Aku telah masuk Islam dan menjadi pengikut Nabi Muhammad saw.,” kataku menjelaskan
“Bolehlah aku masuk agamamu?” tanya isteriku.
‘Pergilah engkau mandi lebih dahulu ke telaga ‘Dzi Syara?” Bersihkan badanmu di
telaga itu!” kataku.
“Apakah engkau tidak takut kena tulah ‘Dzi’ Syara?” tanya isteri cemas
“Aku tidak peduli dengan berhala Dzj Syara-mu itu! Pergilah mandi ke sana! Tempat itu jauh
dari penglihatan orang banyak. Aku menjamin batu-batu yang tidak bisa apa-apa itu tidak akan
berbuat sesuatu yang dapat mencelakanmut” kataku meyakinkan.
Sesudah mandi dia datang kembali kepadaku, Maka kuajarkan kepadanya tentang
Islam, lalu dia masuk Islam.
Kemudian ku ajak seluruh kabilah Daus masuk Islam. Tetapi mereka tidak memenuhi
ajakanku, kecuali Abu Hurairah. Dia memang paling cepat memenuhi panggilan Islam.
Aku datang menemui Rasulullah saw. di Makkah bersama-sama dengan Abu Hurairah,”
ucap Thufail melanjutkan ceritanya.
Rasulullah saw bertanya, “Bagaimana perkembangan da ‘wahmu, hai Thufail?”
“Hati kaum ku masih tertutup dan sangat kafir. Sungguh seluruh kaumku, kabilah Daus,
masih sesat dan durhaka,” jawabku.
Rasulullah saw. pergi mengambil wudhu’, kemudian beliau shalat. Sesudah shalat beliau
menadahkan kedua tangannya ke langit, lalu mendo’a. Pada saat-saat itu Abu Hurairah merasa
kuatir dan takut kalau-kalau Rasulullah mendo ‘akan agar kabilah Daus celaka.”
Tetapi kiranya Rasulullah mendo’akan sebaliknya
“Aflahummanhdi Dausan...! Allahummmahdi Dausan... ...! Allahummahdi Dausan....!”
(Wahai Allah! Tunjukilah kabilah Dausy....! “)
Kemudian beliau menoleh kepada Thufail, lalu
bersabda: ‘Pulangkah kepada kabilahmu! Lemah lembutlah terhadap mereka! Dan ajaklah
mereka masuk Islam dengan bijaksana!”
Sejak itu hingga Rasulullah hijrah, aku menetap di negeriku dan mengajak kaumku
masuk Islam. Sementara itu telah terjadi perang Badar, perang Uhud, dan perang Khandaq.
Setelah itu aku datang kepada Rasulullah saw. membawa delapan puluh keluarga muslim
Dausy, yang kesilamannya tidak disangsikan lagi.
Rasulullah menyambut gembira kedatangan kami. Beliau memperlengkapi kami
secukupnya dan harta rampasan perang Khaibar.
Kami bermohon kepada Rasulullah, “Ya, Rasulullah! tempatkahlan kami di “sayap
kanan” pasukan Anda dalam setiap peperangan yang Anda pimpin. Dan kompi muslimin Dausy
ini kami bennama “Kompi Mabrur”
Kata Thufail, ‘Sesudah itu aku senantiasa mendampingi Rasulullah saw! Dan turut
berperang bersama beliau kemana saja, hingga kota Makkah dibebaskan dan kekuasaan kaum
kafir Quraisy.”
Setelah pembebasan kota Makkah, aku bermohon kepada Rasulullah, “Ya, Rasulullah!
Izinknlah aku pergi ke Dzil Kafain, untuk memusnahkan berhala-hala yang ada di sana.
Rasulullah memberi izin kepada Thufail. Dia berangkat ke tempat berhala tersebut
dengan satu regu tentara dan pasukannya. Sewaktu sampai ke sana dan mereka bersiap hendak
membakar berhala Dzil Kaffain, berkerumunlah kaum laki-laki, perempuan dan anak-anak
sekitar mereka, menunggu-nunggu apa yang akan terjadi. Mereka menduga akan terjadi petir
dan halilintar, bila regu Thufail menjamah berhala Dzil Kaffain itu.
Tetapi Thufail dengan mantap meruntuhkan berhala itu disaksikan para pemujanya
sendiri. Beliau menyulutkan api tepat di jantung Dzil Kaffain, sambil bersajak
“Hal Dzil Kaffain! Kami bukanlah pemujamu. Kelahiran kami lebih dahulu dari
keberadaanmu. lnilah aku, menyu1utkan api di jantungmu!”
Setelah api melalap habis patung-patung Dzil Kaffain, sirna pulalah sisa-sisa
kemusyrikan dalam kabilah Dausy. Seluruh kabilah Daus lalu masuk Islam, dan menjadi muslim
sejati.
Thufail Bin ‘Arrir Ad Dausy senantiasa mendamping Rasulullah saw. sampai beliau
wafat. Ketika Abu Bakar menjadi Khalifah, Thufail dan anak buahnya patuh kepada
pemenintahan Khalifah Abu Bakar. Tatkala berkecamuk peperangan membasmi orang murtad,
Thufail paling dahulu pergi berperang bersama-sama tentera muslimin memerangi Musailamah
Al-Kadzhzab (Musailamah si pembohong). Begitu pula putera beliau, ‘Amr bin Thu fail, yang
selalu tak mahu ketinggalan.
Ketika Thufail sedang dalam perjalanan menuju Yamamah (kawasan tempat
Musailamah nenyebarkan pahamnya yang murtad), dia bermimpi
“Aku bermimpi, Cobalah kalian ta’birkan mimpi ku itu”, kata Thufail kepada sahabatsahabatnya.
“Bagaimana mimpi Anda?” tanya kawan
“Aku bermimpi kepalaku dicukur. Seekor burung keluar dari mulutku, kemudian
seorang perempuan memasukankku ke dalam perutnya. Anakku ‘Amr menuntut dengan
sungguh-sungguh supaya dibolehkan ikut bersamaku. Tetapi dia tak dapat berbuat apa kerana
antaraku dan dia ada dinding.”
Sebuah mimpi nan indah!” komentar kawan-kawan nya.
Kata Thufail, “Sekarang, baiklah aku ta’birkan sendiri. Kepalaku dicukur, artinya
kepalaku dipotong orang. Burung keluar dari mulutku, artinya nyawaku keluar dari jasadku.
Seorang perempuan memasukkanku ke dalam perutnya, artinya tanah digali orang, lalu aku
dikuburkan. Aku berharap semoga aku tewas sebagai syahid. Adapun tuntutan anakku, dia juga
berharap supaya mati syahid seperti aku. Tetapi permintaannya dikabulkan kemudian.”
Dalam pertempuran memerangi pasukan Musailamah Al-Kadzdazab di Yamamah,
sahabat yang mulia ini, iaitu Thufail Ibnu ‘Amr Ad Dausy, mendapat cidera sehingga dia
terbanting dan tewas di medan tempur.
Puteranya ‘Amr, meneruskan peperangan hingga tangan kanannya buntung. Setelah itu
dia kembali ke Madinah meninggalkan tangannya sebelah dan jenazah bapak nya di medan
tempur Yamamah.
Tatkala Khalifah ‘Umar bin Khaththab memerintah, ‘Amr bin Thufail (putera Thufail)
pernah datang ke majlis khalifah. Ketika dia sedang berada dalam majlis, makanan pun
dihidangkan orang. Orang-orang yang duduk dalam majlis mengajak ‘Amr supaya turut makan
bersama-sama. Tetapi ‘Amr menolak dan menjauh.
“Mengapa...? “, tanya Khalifah. Barangkali engkau lebih senang makan belakangan.
Mungkin engkau malu kerana tanganmu itu.”
“Betul, ya Amjral Mu’mjnjn! “ jawab ‘Amr.
Kata Khalifah, ‘Demi Allah! Aku tidak akan memakan makanan ini, sebelum ia kau
sentuh dengan tanganmu yang buntung itu. Demi Allah! Tidak seorang jua pun yang sebagian
tubuhnya telah berada di surga, melainkan hanya engkau.”
Mimpi Thufail menjadi kenyataan semuanya. Tatkala terjadi perang Yarmuk, ‘Amr bin
Thufail turut pula berperang bersama-sama dengan tentara muslimin. ‘Amr tewas dalam
peperangan itu sebagai syuhada’, seperti yang diharapkan bapaknya.
Semoga Allah memberi rahmat kepada Thufail dan kepada puteranya, ‘Amr, syahid di medan
tempur Yamamah dan Yarmuk.
Tuesday, October 14
Sirah - SA’ID BIN ‘AMIR AL JUMAHY
SA’ID BIN ‘AMIR AL JUMAHY
“Dia telah membeli akhirat dengan dunia, dan mengutamakan keridhaan Allah dan
Rasul atas segala-galanya.” (Mu’arrikhin).
SA’ID BIN ‘AMIR AL JUMAHY, termasuk seorang pemuda di antara ribuan orang yang
pergi ke Tan’im, di luar kota Makkah. Mereka berbondong-bondong ke sana, dikerahkan para
pemimpin Quraisy untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman mati terhadap Khubaib bin ‘Ady,
iaitu seorang sahabat Nabi yang mereka jatuhi hukuman tanpa alasan.
Dengan semangat muda yang menyala-nyala, Sa’id maju menerobos orang banyak yang
berdesak-desakan. Akhirnya dia sampai ke depan, sejajar dengan tempat duduk orang-orang
penting, seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah dan lain-lain.
Kaum kafir Quraisy sengaja mempertontonkan tawanan mereka dibelenggu. Sementara
para wanita, anak anak dan pemuda, menggiring Khubaib ke lapangan maut. Mereka ingin
membalas dendam terhadap Nabi Muhammad saw., serta melampiaskan sakit hati atas ke
kalahan mereka dalam perang Badar.
Ketika tawanan yang mereka giring sampai ke tiang salib yang telah disediakan, ‘Sa’id
mendongakkan kepala melihat kepada Khubaib bin ‘Ady. ‘Said mendengar suara Khubaib
berkata dengan mantap, “Jika kalian bolehkan, saya ingin shalat dua raka’at sebelum saya kalian
bunuh....”
Kemudian Sa’id melihat Khubaib menghadap ke kiblat (Ka’bah). Dia shalat dua raka’at.
Alangkah bagus dan sempurna shalatnya itu. Sesudah shalat, Khubaib menghadap kepada para
pemimpin Quraisy seraya berkata, “Demi Allah! Seandainya kalian tidak akan menuduhku
melama-lamakan shalat untuk melambat-lambatkan waktu kerana takut mati, nescaya saya akan shalat lebih banyak lagi.”
Mendengar ucapan Khubaib tersebut, Sa’id melihat para pemimpin
Quraisy naik darah, bagaikan hendak mencencang-cencang tubuh Khubaib hidup hidup.
Kata mereka, “Sukakah engkau si Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau
kami bebaskan?”
“Saya tidak ingin bersenang-senang dengan isteri dan anak-anak saya, sementara
Muhammad tertusuk duri....,” jawab Khubaib mantap.
“Bunuh dia...! Bunuh dia...!” teriak orang banyak.
Sa’id melihat Khubaib telah dipakukan ke tiang salib. Dia mengarahkan pandangannya
ke langit sambil mendo’a, “Ya, Allah! Hitunglah jumlah mereka! Hancurkanlah mereka semua.
Jangan disisakan seorang jua pun!”
Tidak lama kemudian Khubaib menghembuskan nafasnya yang terakhir di tiang salib.
Sekujur tubuhnya penuh dengan luka-luka kerana tebasan pedang dan tikaman tombak yang tak terbilang jumlahnya.
Kaum kafir Quraisy kembali ke Makkah biasa-biasa saja. Seolah-olah mereka telah
melupakan peristiwa maut yang merenggut nyawa Khubaib dengan sadis. Tetapi Sa’id bin ‘Amir
Al-Jumahy yang baru meningkat usia remaja tidak dapat melupakan Khubaib walau agak
sedetikpun. Sehingga dia bermimpi melihat Khubaib menjelma di hadapannya. Dia seakan-akan
melihat Khubaib shalat dua raka’at dengan khusyu’ dan tenang di bawah tiang salib. Seperti
terdengar olehnya rintihan suara Khubaib mendo‘akan kaum kafir Quraisy. Kerana itu Sa’id
ketakutan kalau-kalau Allah swt. segera mengabulkan do’a Khubaib, sehingga petir dan
halilintar menyambar kaum Quraisy.
Keberanian dan ketabahan Khubaib menghadapi maut mengajarkan pada Sa’id beberapa
hal yang belum pernah diketahuinya selama ini.
Pertama, hidup yang sesungguhnya ialah hidup berakidah (beriman); kemudian berjuang
mempertahankan ‘akidah itu sampai mati.
Kedua, iman yang telah terhunjam dalam di hati seorang dapat menimbulkan hal-hal
yang ajaib dan luar biasa.
Ketiga, orang yang paling dicintai Khubaib ialah sahabatnya, iaitu seorang Nabi yang
dikukuhkan dari langit.
Sejak itu Allah swt. membukakan hati Sa’id bin ‘Amir untuk menganut agama Islam.
Kemudian dia berpidato di hadapan khalayak ramai, menyatakan: alangkah bodohnya orang
Quraisy menyembah berhala. Kerana itu dia tidak mahu terlibat dalam kebodohan itu. Lalu
dibuangnya berhala-hala yang dipujanya selamaini. Kemudian diumumkannya bahwa mulai sa
‘at itu dia masuk Islam.
Tidak lama sesudah itu, Sa id menyusul kaum muslimin hijrah ke Madinah. Di sana dia
senantisasa mendampingi Nabi s.a.w. Dia ikut berperang bersama beliau, mula mula dalam
peperangan Khaibar. Kemudian dia selalu turut berperang dalam setiap peperangan berikutnya.
Setelah Nabi saw. berpulang ke rahmatullah, Sa’id tetap menjadi pembela setia Khalifah
Abu Bakar dan ‘Umar. Dia menjadi teladan satu-satuya bagi orang orang mu’min yang membeli
kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia. Dia lebih mengutamakan keridhaan Allah dan
pahala daripada-Nya di atas segala keinginan hawa nafsu dan kehendak jasad.
Kedua Khalifah Rasulullah, Abu Bakar dan ‘Umar bin Khaththab, mengerti bahwa
ucapan-ucapan Sa’id sangat berbobot, dan taqwanya sangat tinggi. Kerana itu keduanya tidak
keberatan mendengar dan melaksanakan nasihat-nasihat Sa ‘id.
Pada sutu hari di awal pemerintahan Khalifah ‘Umar bin Khaththab, Sa’id datang
kepadanya memberi nasihat.
Kata Sa’id, “Ya ‘Umar! Takutlah kepada Allah dalam memerintah manusia. Jangan takut
kepada manusia dalam menjalankan agama Allah! Jangan berkata berbeda dengan perbuatan.
Kerana sebaik-baik perkataan ialah yang dibuktikan dengan perbuatan.
Hai Umar! Tujukanlah seluruh perhatian Anda kepada urusan kaum muslimin baik
yang jauh mahupun yang dekat. Berikan kepada mereka apa yang Anda dan keluarga sukai.
Jauhkan dari mereka apa-apa yang Anda dan ke luarga Anda tidak sukai. Arahkan semua
karunia Allah kepada yang baik. Jangan hiraukan cacian orang-orang yang suka mencaci.”
“Siapakah yang sanggup melaksanakan semua itu, hai Sa’id?” tanya Khalifah ‘Umar.
“Tentu orang seperti Anda! Bukankah Anda telah dipercayai Allah memerintah ummat
Muhammad ini? Bukankah antara Anda dengan Allah tidak ada lagi suatu penghalang?” jawab
Sa’id meyakinkan.
Pada suatu ketika Khalifah ‘Umar memanggil Sa’id untuk diserahi suatu jabatan dalam
pemerintahan.
“Hai Sa’id! Engkau kami angkat menjadi Gubernur di Himsh!” kata Khalifah Umar.
“Wahai ‘Umar! Saya memohon kepada Allah semoga Anda tidak mendorong saya
condong kepada dunia,” kata Sa’id.
“Celaka Engkau!” balas ‘Umar marah. “Engkau pikulkan beban pemerintahn ini di
pundakku, tetapi kemudian Engkau menghindar dan membiarkanku repot sendiri.”
“Demi Allah! Saya tidak akan membiarkan Anda,” jawab Sa’id.
Kemudjan Khalifah ‘Umar melantik Sa ‘Id menjadi Gubernur di Himsh.
Sesudah pelantikan, Khalifah ‘Umar bertanya kepada Sa’id, “Berapa gaji yang Engkau
inginkan?”
“Apa yang harus saya perbuat dengan gaji itu, ya Amirul Mu’minin?” jawab Sa’id balik
bertanya. “Bukankah penghasilan saya dan Baitul Mal sudah cukup?”
Tidak berapa lama setelah Sa ‘id memerintah di Himsh, sebuah delegasi datang
menghadap Khalifah ‘Umar di Madinah. Delegasi itu terdiri dari penduduk Hims yang di tugasi
Khalifah mengamat-amati jalannya pemerintahan di Himsh.
Dalam pertemuan dengan delegasi tersebut, Khalifah ‘Umar meminta daftar fakir miskin
Himsh untuk diberikan santunan. Delegasi mengajukan daftar yang diminta Khalifah. Di dalam
daftar tersebut terdapat nama-nama si Fulan, dan nama Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy.
Ketika Khalifah meneliti daftar tersebut, beliau menemukan nama Sa’id bin ‘Amir Al-
Jumahy. Lalu beliau bertanya “Siapa Sa ‘id bin ‘Amir yang kalian cantumkan ini?”
“Gubernur kami! “jawab mereka.
“Betulkah Gubernur kalian miskin?” tanya khalifah heran.
“Sungguh, ya Amiral Mu’minin! Demi Allah! Sering kali di rumahnya tidak kelihatan
tanda-tanda api menyala (tidak memasak),”jawab mereka meyakinkan.
Mendengar perkataan itu, Khalifah ‘Umar menangis, sehingga air mata beliau meleleh
membasahi jenggotnya. Kemudian beliau mengambil sebuah pundi-pundi berisi uang seribu
dinar.
“Kembalilah kalian ke Himsh. Sampaikan salamku kepada Gubernur Sa’id bin ‘Amir.
Dan uang ini saya kirim kan untuk beliau, guna meringankan kesulitan-kesulitan rumah
tangganya” ucap ‘Umar sedih.
Setibanya di Himsh, delegasi itu segera menghadap Gubernur Sa’id, menyampaikan
salam dan uang kiriman Khalifah untuk beliau Setelah Gubernur Sa ‘id melihat pundi-pundi
berisi uang dinar, pundi-pundi itu dijauhkannya dari sisinya seraya berucap, ‘inna lilahi wa inna
ilaihi raji’un. (Kita milik Allah, pasti kembali kepada Allah).”
Mendengar ucapannya itu, seolah-olah suatu mara bahaya sedang menimpanya. Kerana
itu isterinya segera menghampiri seraya bertanya, “Apa yang terjadi, hai ‘Sa ‘Id? Meninggalkah
Amirul Mu ‘minin?”
“Bahkan lebih besar dan itu!” jawab Sa’id sedih. “Apakah tentara muslimin kalah
berperang?” tanya Isterinya pula.
“Jauh lebih besar dri itu!” jawab Sa’id tetap sedih. ‘Apa pulakah gerangan yang Iebih
dari itu?” tanya isterinya tak sabar.
‘Dunia telah datang untuk merusak akhiratku. Bencana telah menyusup ke rumah
tangga kita,’ jawab Sa’id mantap.
“Bebaskan dirimu daripadanya! “ kata isteri Sa’id memberi semangat, tanpa mengetahui
perihal adanya pundi pundi uang yang dikirimkan Khalifah ‘Umar untuk pri badi suaminya.
“Mahukah Engkau menolongku berbuat demikian?” tanya Sa ‘id.
‘Tentu...;! “jawab isterinya bersemangat.
Maka Sa’id mengambil pundi-pundi uang itu, lalu disuruhnya isterinya membagi-bagi
kepada fakir miskin.
Tidak berapa lama kemudian, Khalifah ‘Umar berkunjung ke Syria, mengininspeksi
pemerintahan di sana. Dalam kunjungannya itu beliau. menyempatkan diri singgah di Himsh
Kota Himsh pada masa itu dinamai orang pula “Kuwaifah (Kufah kedil)”, kerana rakyat nya
sering melapor kepada pemerintah pusat dengan ke1emahan-kelemahan Gubernur mereka,
persis seperti kelakuan masyarakat Kufah.
Tatkala Khalifah singgah di sana, rakyat mengeluelukan beliau, mengucapkan Selamat
Datang.
Khalifah bertanya kepada rakyat, “Bagaimana penilaian Saudara-Saudara terhadap
kebijakan Gubernur.
“Ada empat macam kelemahan yang hendak kami laporkan kepada Khalifah,” jawab
rakyat.
“Saya akan pertemukan kalian dengan Gubernur kalian,” jawab Khalifah ‘Umar sambil
mendo’a: “Semoga sangka baik saya selama ini kepada Sa’id bin ‘Amir tidak salah.”
Maka tatkala semua pihak—iaitu Gubernur dan masyarakat—telah lengkap berada di
hadapan Khalifah, beliau bertanya kepada rakyat, “Bagaimana laporan sau dara-saudara tentang
kebijakan Gubernur Saudara-sau dara?”
Pertanyaan Khalifah dijawab oleh seorang Juru Bicara.
Pertama: Gubernur selalu tiba di tempat tugas setelah matahari tinggi.
“Bagaimana tanggapan Anda mengenai lapor’an rakyat Anda itu, hai Sa ‘id?” tanya
Khalifah.
Gubernur Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy diam sejenak. Kemudian dia berkata:
“Sesungguhnya saya keberatan menanggapinya. Tetapi apa boleh buat.. Keluarga saya ti dak
mempunyai pembantu. Kerana itu tiap pagi saya terpaksa turun tangan membuat adonan roti
lebih dahulu untuk mereka. Sesudah adonan itu asam (siap untuk dimasak), barulah saya buat
roti. Kemudian saya berwudhu’. Sesudah itu barulah saya berangkat ke tempat tugas untuk
melayani masyarakat.”
“Apa lagi laporan Saudara-saudara?” tanya Khalifah kepada hadirin.
Kedua, Gubernur tidak bersedia melayani kami pada malam hari.”
“Bagaimana pula tanggapan Anda mengenai itu, hai Sa’id?” tanya khalifah.
“ Ini sesungguhnya lebih berat bagi saya menanggapinya, terutama di hadapan umum
seperti ini,” kata Sa ‘id. “Saya telah membagi waktu saya, siang hari untuk melayani masyarakat,
malam hari untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah,” lanjut Sa ‘id
“Apa lagi,” tanya Khalifah kepada hadirin.
Ketiga: Gubernur tidak masuk kantor sehari penuh dalam sebulan.
“Bagaimana pula tanggapan Anda, hai Sa’id?” tanya Khalifah ‘Umar.
“Sebagaimana telah saya terangkan tadi, saya tidak mempunyai pembantu rumah
tangga. Di samping itu saya hanya memiliki sepasang pakaian yang melekat di badan ku ini.
Saya mencucinya sekali sebulan. Bila saya mencucinya, saya terpaksa menunggu kering lebih
dahulu. Sesudah itu barulah saya dapat keluar melayani masyarakat,” ucap Said.
‘Nah, apa lagi laporan selanjutnya?” tanya Khalifah.
Keempai: Sewaktu-waktu Gubernur menutup diri untuk bicara. Pada saat-saat seperti itu,
biasanya beliau pergi meninggalkan majlis.”
“Silakan menanggapi, hai Gubernur Said!” kata Khali fah ‘Umar.
“Ketika saya masih musyrik dulu, saya pernah menyaksikan almarhum Khubaib bin
‘Ady dihukum mati oleh kaum Quraisy kafir. Saya menyaksikan mereka menyayat-nyayat tubuh
Khubaib berkeping-keping. Pada waktu itu mereka bertanya mengejek Khubaib, “Sukakah
engkau si Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebaskan?”
Ejekan mereka itu dijawab oleh Khubaib, “Saya tidak ingin bersenang-senang dengan
isteri dan anak-anak saya, sementara Nabi Muhammad tertusuk duri ...“
‘Demi Allah...!” kata Sa’id. “Jika saya teringat akan peristiwa , di waktu mana saya
membiarkan Khubaib tanpa membelanya sedikit jua pun, maka saya merasa, bahwa dosaku
tidak akan diampuni Allah swt.”
Segala puji bagi Allah yang tidak mengecewakanku,” kata Khalifah ‘U mar mengkahiri
dialog itu.
Sekembalinya ke Madinah, Khalifah ‘Umar mengirimi Gubernur Sa’id seribu dinar
untuk memenuhi kebutuhannya.
Melihat jumlah uang sebanyak itu, isterinya berkata kepada Sa’jd, “Segala puji bagi Allah
yang mencukupi kita berkat pengabdianmu. Saya ingin uang ini kita per gunakan untuk
membeli bahan pangan dan kelengkapan kelengkapan lain-lain. Dan saya ingin pula menggaji
seorang pembantu rumah tangga untuk kita.”
“Adakah usul yang lebih baik dan itu?” tanya Sa’id kepada isterinya.
“Apa pulakah yang lebih baik dari itu? “ jawab isterinya balik bertanya.
“Kita bagi-bagikan saja uang ini kepada rakyat yang membutuhkannya. Itulah yang
lebih baik bagj kita,” jawab Sa’id.
“Mengapa....?” tanya isterinya.
‘Dengan begitu berarti kita mendepositokan uang ini kepada Allah. Itulah cara yang
lebih baik,” kata Said.
“Baiklah kalau begitu,” kata isterinya. “Semoga kita dibalasi Allah dengan balasan yang
paling baik.”
Sebelum mereka meninggalkan majlis, uang itu dimasukkan Sa ‘Id ke dalam beberapa
pundi, lalu diperintah kannya kepada salah seorang keluarganya:
‘Pundi ini berikan kepada janda si Fulan. Pundi ini kepada anak yatim Si Fulan. ini
kepada si Fulan yang miskin... dan seterusnya.”
Semoga Allah swt. meridhai Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy. Dja telah membeli akhirat
dengan menghindari godaan kemewahan dunia, dan mengutamakan keridhaan Allah serta
pahala yang berlipat ganda di akhirat, lebih dan segala-galanya. Amin!!!
“Dia telah membeli akhirat dengan dunia, dan mengutamakan keridhaan Allah dan
Rasul atas segala-galanya.” (Mu’arrikhin).
SA’ID BIN ‘AMIR AL JUMAHY, termasuk seorang pemuda di antara ribuan orang yang
pergi ke Tan’im, di luar kota Makkah. Mereka berbondong-bondong ke sana, dikerahkan para
pemimpin Quraisy untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman mati terhadap Khubaib bin ‘Ady,
iaitu seorang sahabat Nabi yang mereka jatuhi hukuman tanpa alasan.
Dengan semangat muda yang menyala-nyala, Sa’id maju menerobos orang banyak yang
berdesak-desakan. Akhirnya dia sampai ke depan, sejajar dengan tempat duduk orang-orang
penting, seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah dan lain-lain.
Kaum kafir Quraisy sengaja mempertontonkan tawanan mereka dibelenggu. Sementara
para wanita, anak anak dan pemuda, menggiring Khubaib ke lapangan maut. Mereka ingin
membalas dendam terhadap Nabi Muhammad saw., serta melampiaskan sakit hati atas ke
kalahan mereka dalam perang Badar.
Ketika tawanan yang mereka giring sampai ke tiang salib yang telah disediakan, ‘Sa’id
mendongakkan kepala melihat kepada Khubaib bin ‘Ady. ‘Said mendengar suara Khubaib
berkata dengan mantap, “Jika kalian bolehkan, saya ingin shalat dua raka’at sebelum saya kalian
bunuh....”
Kemudian Sa’id melihat Khubaib menghadap ke kiblat (Ka’bah). Dia shalat dua raka’at.
Alangkah bagus dan sempurna shalatnya itu. Sesudah shalat, Khubaib menghadap kepada para
pemimpin Quraisy seraya berkata, “Demi Allah! Seandainya kalian tidak akan menuduhku
melama-lamakan shalat untuk melambat-lambatkan waktu kerana takut mati, nescaya saya akan shalat lebih banyak lagi.”
Mendengar ucapan Khubaib tersebut, Sa’id melihat para pemimpin
Quraisy naik darah, bagaikan hendak mencencang-cencang tubuh Khubaib hidup hidup.
Kata mereka, “Sukakah engkau si Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau
kami bebaskan?”
“Saya tidak ingin bersenang-senang dengan isteri dan anak-anak saya, sementara
Muhammad tertusuk duri....,” jawab Khubaib mantap.
“Bunuh dia...! Bunuh dia...!” teriak orang banyak.
Sa’id melihat Khubaib telah dipakukan ke tiang salib. Dia mengarahkan pandangannya
ke langit sambil mendo’a, “Ya, Allah! Hitunglah jumlah mereka! Hancurkanlah mereka semua.
Jangan disisakan seorang jua pun!”
Tidak lama kemudian Khubaib menghembuskan nafasnya yang terakhir di tiang salib.
Sekujur tubuhnya penuh dengan luka-luka kerana tebasan pedang dan tikaman tombak yang tak terbilang jumlahnya.
Kaum kafir Quraisy kembali ke Makkah biasa-biasa saja. Seolah-olah mereka telah
melupakan peristiwa maut yang merenggut nyawa Khubaib dengan sadis. Tetapi Sa’id bin ‘Amir
Al-Jumahy yang baru meningkat usia remaja tidak dapat melupakan Khubaib walau agak
sedetikpun. Sehingga dia bermimpi melihat Khubaib menjelma di hadapannya. Dia seakan-akan
melihat Khubaib shalat dua raka’at dengan khusyu’ dan tenang di bawah tiang salib. Seperti
terdengar olehnya rintihan suara Khubaib mendo‘akan kaum kafir Quraisy. Kerana itu Sa’id
ketakutan kalau-kalau Allah swt. segera mengabulkan do’a Khubaib, sehingga petir dan
halilintar menyambar kaum Quraisy.
Keberanian dan ketabahan Khubaib menghadapi maut mengajarkan pada Sa’id beberapa
hal yang belum pernah diketahuinya selama ini.
Pertama, hidup yang sesungguhnya ialah hidup berakidah (beriman); kemudian berjuang
mempertahankan ‘akidah itu sampai mati.
Kedua, iman yang telah terhunjam dalam di hati seorang dapat menimbulkan hal-hal
yang ajaib dan luar biasa.
Ketiga, orang yang paling dicintai Khubaib ialah sahabatnya, iaitu seorang Nabi yang
dikukuhkan dari langit.
Sejak itu Allah swt. membukakan hati Sa’id bin ‘Amir untuk menganut agama Islam.
Kemudian dia berpidato di hadapan khalayak ramai, menyatakan: alangkah bodohnya orang
Quraisy menyembah berhala. Kerana itu dia tidak mahu terlibat dalam kebodohan itu. Lalu
dibuangnya berhala-hala yang dipujanya selamaini. Kemudian diumumkannya bahwa mulai sa
‘at itu dia masuk Islam.
Tidak lama sesudah itu, Sa id menyusul kaum muslimin hijrah ke Madinah. Di sana dia
senantisasa mendampingi Nabi s.a.w. Dia ikut berperang bersama beliau, mula mula dalam
peperangan Khaibar. Kemudian dia selalu turut berperang dalam setiap peperangan berikutnya.
Setelah Nabi saw. berpulang ke rahmatullah, Sa’id tetap menjadi pembela setia Khalifah
Abu Bakar dan ‘Umar. Dia menjadi teladan satu-satuya bagi orang orang mu’min yang membeli
kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia. Dia lebih mengutamakan keridhaan Allah dan
pahala daripada-Nya di atas segala keinginan hawa nafsu dan kehendak jasad.
Kedua Khalifah Rasulullah, Abu Bakar dan ‘Umar bin Khaththab, mengerti bahwa
ucapan-ucapan Sa’id sangat berbobot, dan taqwanya sangat tinggi. Kerana itu keduanya tidak
keberatan mendengar dan melaksanakan nasihat-nasihat Sa ‘id.
Pada sutu hari di awal pemerintahan Khalifah ‘Umar bin Khaththab, Sa’id datang
kepadanya memberi nasihat.
Kata Sa’id, “Ya ‘Umar! Takutlah kepada Allah dalam memerintah manusia. Jangan takut
kepada manusia dalam menjalankan agama Allah! Jangan berkata berbeda dengan perbuatan.
Kerana sebaik-baik perkataan ialah yang dibuktikan dengan perbuatan.
Hai Umar! Tujukanlah seluruh perhatian Anda kepada urusan kaum muslimin baik
yang jauh mahupun yang dekat. Berikan kepada mereka apa yang Anda dan keluarga sukai.
Jauhkan dari mereka apa-apa yang Anda dan ke luarga Anda tidak sukai. Arahkan semua
karunia Allah kepada yang baik. Jangan hiraukan cacian orang-orang yang suka mencaci.”
“Siapakah yang sanggup melaksanakan semua itu, hai Sa’id?” tanya Khalifah ‘Umar.
“Tentu orang seperti Anda! Bukankah Anda telah dipercayai Allah memerintah ummat
Muhammad ini? Bukankah antara Anda dengan Allah tidak ada lagi suatu penghalang?” jawab
Sa’id meyakinkan.
Pada suatu ketika Khalifah ‘Umar memanggil Sa’id untuk diserahi suatu jabatan dalam
pemerintahan.
“Hai Sa’id! Engkau kami angkat menjadi Gubernur di Himsh!” kata Khalifah Umar.
“Wahai ‘Umar! Saya memohon kepada Allah semoga Anda tidak mendorong saya
condong kepada dunia,” kata Sa’id.
“Celaka Engkau!” balas ‘Umar marah. “Engkau pikulkan beban pemerintahn ini di
pundakku, tetapi kemudian Engkau menghindar dan membiarkanku repot sendiri.”
“Demi Allah! Saya tidak akan membiarkan Anda,” jawab Sa’id.
Kemudjan Khalifah ‘Umar melantik Sa ‘Id menjadi Gubernur di Himsh.
Sesudah pelantikan, Khalifah ‘Umar bertanya kepada Sa’id, “Berapa gaji yang Engkau
inginkan?”
“Apa yang harus saya perbuat dengan gaji itu, ya Amirul Mu’minin?” jawab Sa’id balik
bertanya. “Bukankah penghasilan saya dan Baitul Mal sudah cukup?”
Tidak berapa lama setelah Sa ‘id memerintah di Himsh, sebuah delegasi datang
menghadap Khalifah ‘Umar di Madinah. Delegasi itu terdiri dari penduduk Hims yang di tugasi
Khalifah mengamat-amati jalannya pemerintahan di Himsh.
Dalam pertemuan dengan delegasi tersebut, Khalifah ‘Umar meminta daftar fakir miskin
Himsh untuk diberikan santunan. Delegasi mengajukan daftar yang diminta Khalifah. Di dalam
daftar tersebut terdapat nama-nama si Fulan, dan nama Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy.
Ketika Khalifah meneliti daftar tersebut, beliau menemukan nama Sa’id bin ‘Amir Al-
Jumahy. Lalu beliau bertanya “Siapa Sa ‘id bin ‘Amir yang kalian cantumkan ini?”
“Gubernur kami! “jawab mereka.
“Betulkah Gubernur kalian miskin?” tanya khalifah heran.
“Sungguh, ya Amiral Mu’minin! Demi Allah! Sering kali di rumahnya tidak kelihatan
tanda-tanda api menyala (tidak memasak),”jawab mereka meyakinkan.
Mendengar perkataan itu, Khalifah ‘Umar menangis, sehingga air mata beliau meleleh
membasahi jenggotnya. Kemudian beliau mengambil sebuah pundi-pundi berisi uang seribu
dinar.
“Kembalilah kalian ke Himsh. Sampaikan salamku kepada Gubernur Sa’id bin ‘Amir.
Dan uang ini saya kirim kan untuk beliau, guna meringankan kesulitan-kesulitan rumah
tangganya” ucap ‘Umar sedih.
Setibanya di Himsh, delegasi itu segera menghadap Gubernur Sa’id, menyampaikan
salam dan uang kiriman Khalifah untuk beliau Setelah Gubernur Sa ‘id melihat pundi-pundi
berisi uang dinar, pundi-pundi itu dijauhkannya dari sisinya seraya berucap, ‘inna lilahi wa inna
ilaihi raji’un. (Kita milik Allah, pasti kembali kepada Allah).”
Mendengar ucapannya itu, seolah-olah suatu mara bahaya sedang menimpanya. Kerana
itu isterinya segera menghampiri seraya bertanya, “Apa yang terjadi, hai ‘Sa ‘Id? Meninggalkah
Amirul Mu ‘minin?”
“Bahkan lebih besar dan itu!” jawab Sa’id sedih. “Apakah tentara muslimin kalah
berperang?” tanya Isterinya pula.
“Jauh lebih besar dri itu!” jawab Sa’id tetap sedih. ‘Apa pulakah gerangan yang Iebih
dari itu?” tanya isterinya tak sabar.
‘Dunia telah datang untuk merusak akhiratku. Bencana telah menyusup ke rumah
tangga kita,’ jawab Sa’id mantap.
“Bebaskan dirimu daripadanya! “ kata isteri Sa’id memberi semangat, tanpa mengetahui
perihal adanya pundi pundi uang yang dikirimkan Khalifah ‘Umar untuk pri badi suaminya.
“Mahukah Engkau menolongku berbuat demikian?” tanya Sa ‘id.
‘Tentu...;! “jawab isterinya bersemangat.
Maka Sa’id mengambil pundi-pundi uang itu, lalu disuruhnya isterinya membagi-bagi
kepada fakir miskin.
Tidak berapa lama kemudian, Khalifah ‘Umar berkunjung ke Syria, mengininspeksi
pemerintahan di sana. Dalam kunjungannya itu beliau. menyempatkan diri singgah di Himsh
Kota Himsh pada masa itu dinamai orang pula “Kuwaifah (Kufah kedil)”, kerana rakyat nya
sering melapor kepada pemerintah pusat dengan ke1emahan-kelemahan Gubernur mereka,
persis seperti kelakuan masyarakat Kufah.
Tatkala Khalifah singgah di sana, rakyat mengeluelukan beliau, mengucapkan Selamat
Datang.
Khalifah bertanya kepada rakyat, “Bagaimana penilaian Saudara-Saudara terhadap
kebijakan Gubernur.
“Ada empat macam kelemahan yang hendak kami laporkan kepada Khalifah,” jawab
rakyat.
“Saya akan pertemukan kalian dengan Gubernur kalian,” jawab Khalifah ‘Umar sambil
mendo’a: “Semoga sangka baik saya selama ini kepada Sa’id bin ‘Amir tidak salah.”
Maka tatkala semua pihak—iaitu Gubernur dan masyarakat—telah lengkap berada di
hadapan Khalifah, beliau bertanya kepada rakyat, “Bagaimana laporan sau dara-saudara tentang
kebijakan Gubernur Saudara-sau dara?”
Pertanyaan Khalifah dijawab oleh seorang Juru Bicara.
Pertama: Gubernur selalu tiba di tempat tugas setelah matahari tinggi.
“Bagaimana tanggapan Anda mengenai lapor’an rakyat Anda itu, hai Sa ‘id?” tanya
Khalifah.
Gubernur Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy diam sejenak. Kemudian dia berkata:
“Sesungguhnya saya keberatan menanggapinya. Tetapi apa boleh buat.. Keluarga saya ti dak
mempunyai pembantu. Kerana itu tiap pagi saya terpaksa turun tangan membuat adonan roti
lebih dahulu untuk mereka. Sesudah adonan itu asam (siap untuk dimasak), barulah saya buat
roti. Kemudian saya berwudhu’. Sesudah itu barulah saya berangkat ke tempat tugas untuk
melayani masyarakat.”
“Apa lagi laporan Saudara-saudara?” tanya Khalifah kepada hadirin.
Kedua, Gubernur tidak bersedia melayani kami pada malam hari.”
“Bagaimana pula tanggapan Anda mengenai itu, hai Sa’id?” tanya khalifah.
“ Ini sesungguhnya lebih berat bagi saya menanggapinya, terutama di hadapan umum
seperti ini,” kata Sa ‘id. “Saya telah membagi waktu saya, siang hari untuk melayani masyarakat,
malam hari untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah,” lanjut Sa ‘id
“Apa lagi,” tanya Khalifah kepada hadirin.
Ketiga: Gubernur tidak masuk kantor sehari penuh dalam sebulan.
“Bagaimana pula tanggapan Anda, hai Sa’id?” tanya Khalifah ‘Umar.
“Sebagaimana telah saya terangkan tadi, saya tidak mempunyai pembantu rumah
tangga. Di samping itu saya hanya memiliki sepasang pakaian yang melekat di badan ku ini.
Saya mencucinya sekali sebulan. Bila saya mencucinya, saya terpaksa menunggu kering lebih
dahulu. Sesudah itu barulah saya dapat keluar melayani masyarakat,” ucap Said.
‘Nah, apa lagi laporan selanjutnya?” tanya Khalifah.
Keempai: Sewaktu-waktu Gubernur menutup diri untuk bicara. Pada saat-saat seperti itu,
biasanya beliau pergi meninggalkan majlis.”
“Silakan menanggapi, hai Gubernur Said!” kata Khali fah ‘Umar.
“Ketika saya masih musyrik dulu, saya pernah menyaksikan almarhum Khubaib bin
‘Ady dihukum mati oleh kaum Quraisy kafir. Saya menyaksikan mereka menyayat-nyayat tubuh
Khubaib berkeping-keping. Pada waktu itu mereka bertanya mengejek Khubaib, “Sukakah
engkau si Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebaskan?”
Ejekan mereka itu dijawab oleh Khubaib, “Saya tidak ingin bersenang-senang dengan
isteri dan anak-anak saya, sementara Nabi Muhammad tertusuk duri ...“
‘Demi Allah...!” kata Sa’id. “Jika saya teringat akan peristiwa , di waktu mana saya
membiarkan Khubaib tanpa membelanya sedikit jua pun, maka saya merasa, bahwa dosaku
tidak akan diampuni Allah swt.”
Segala puji bagi Allah yang tidak mengecewakanku,” kata Khalifah ‘U mar mengkahiri
dialog itu.
Sekembalinya ke Madinah, Khalifah ‘Umar mengirimi Gubernur Sa’id seribu dinar
untuk memenuhi kebutuhannya.
Melihat jumlah uang sebanyak itu, isterinya berkata kepada Sa’jd, “Segala puji bagi Allah
yang mencukupi kita berkat pengabdianmu. Saya ingin uang ini kita per gunakan untuk
membeli bahan pangan dan kelengkapan kelengkapan lain-lain. Dan saya ingin pula menggaji
seorang pembantu rumah tangga untuk kita.”
“Adakah usul yang lebih baik dan itu?” tanya Sa’id kepada isterinya.
“Apa pulakah yang lebih baik dari itu? “ jawab isterinya balik bertanya.
“Kita bagi-bagikan saja uang ini kepada rakyat yang membutuhkannya. Itulah yang
lebih baik bagj kita,” jawab Sa’id.
“Mengapa....?” tanya isterinya.
‘Dengan begitu berarti kita mendepositokan uang ini kepada Allah. Itulah cara yang
lebih baik,” kata Said.
“Baiklah kalau begitu,” kata isterinya. “Semoga kita dibalasi Allah dengan balasan yang
paling baik.”
Sebelum mereka meninggalkan majlis, uang itu dimasukkan Sa ‘Id ke dalam beberapa
pundi, lalu diperintah kannya kepada salah seorang keluarganya:
‘Pundi ini berikan kepada janda si Fulan. Pundi ini kepada anak yatim Si Fulan. ini
kepada si Fulan yang miskin... dan seterusnya.”
Semoga Allah swt. meridhai Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy. Dja telah membeli akhirat
dengan menghindari godaan kemewahan dunia, dan mengutamakan keridhaan Allah serta
pahala yang berlipat ganda di akhirat, lebih dan segala-galanya. Amin!!!
Monday, October 6
Diari - kenangan itu akan berulang

kenangan itu akan berulang...
sekiranya ada hati-hati yang bersedia
memegang amanat dari Tuhannya...
bukan kerana nama..
bukan kerana balasan..
bukan untuk disanjung..
bukan sebagai tradisi..
bukan sebagai kebiasaan..
tetapi,
untuk menggapai redha Ilahi..
menjadi orang yang biasa..
bekerja secara luarbiasa..
untuk menjadi qudwah kepada masyarakat..
untuk merealisasikan tujuan DnT..
sebagai wasilah menuju Tuhannya..
Bulan Subuh
adka_rika@yahoo.com
bulansubuh.blogspot.com
Subscribe to:
Posts (Atom)