Followers

Showing posts with label Novel. Show all posts
Showing posts with label Novel. Show all posts

Thursday, December 18

Novel - Dalam Mihrab Cinta ' Syamsul Hadi 2 '

Habiburrahman El-Shirazy
Dalam Mihrab Cinta

Sejak itu Syamsul mulai menata hidupnya. la merasa
jika gaji privat ngajinya cukup, maka tidak perlu lagi
mencopet. Dan ia berjanji dalam hati akan mengembalikan
dompet korban-korbannya ke alamatnya masing-masing.
Seminggu empat kali ia mengajar Delia. Dan agar
tidak mengecewakan kala mengajar, ia pergi ke toko buku
untuk membeli beberapa buku cerita anak Islami.
Dongeng-dongeng anak. Buku-buku permainan anak.
Juga psikologi anak. Syamsul berusaha sebisa
mungkin menjadikan Delia keranjingan mengaji.

Tempat ngajinya tidak melulu di ruang belajar Delia. Kadang di taman.
Kadang di masjid. Bahkan terkadang ia ajak jalan pakai
kendaraan dan mencari daerah yang enak untuk mengaji.
Pak Broto senang sekali dengan kemajuan putri
bungsunya itu.
Dari mulut Delia, Syamsul banyak tahu tentang
Silvie. Sebab Delia diajar matematika oleh Silvie.

Dan akhirnya Silvie pun kenal Syamsul. Selain mengajar
Delia, Syamsul mulai mendapat tawaran mengajar anak
yang lain. Ia merasa bisa hidup mandiri dari uang yang
halal. Saat ia merasa ada uang lebih ia langsung
menabung. Dan untuk menambah ilmu serta menguatkan
statusnya, Syamsul masuk kuliah di Institut Ilmu
Al-Quran (IIQ) Jakarta. Dengan begitu statusnya adalah
mahasiswa. Ia juga berani kredit kendaraan. Karena tanpa
kendaraan ia tidak bisa ke mana-mana.
Suatu ketika selesai mengajar Delia ia bertemu Pak
Heru di masjid. Ayah Silvie itu mengajaknya berbincangbincang.
"O jadi Ustadz Syamsul kenal dengan Burhan
Faishal yang sekarang masih di Pesantren Al Furqon?
Burhan itu calon menantu saya. Dia putra Pak Anwar
pemilik percetakan besar di Pasar Rebo lho nak."
"O ya Pak. Saya kenal sekali dengan dia. Kebetulan
saya dan dia satu pesantren. Tapi benar, Burhan itu calon
menantu Bapak?"
"Benar Ustadz. Malah Nak Burhan sendiri sudah
melamar Silvie."
"Sama keluarganya Pak?"
"Ya baru bicara bilateral dengan saya. Belum dengan
orangtuanya. Tapi dia sudah kasih cincin sama Silvie."
"Agak aneh, yang Bapak maksud Burhan yang ada
tahi lalatnya di jfdatnya?"
"Iya benar."
"Aneh."
"Aneh apa Ustadz?"
"Saya akan memberikan informasi penting. Tapi
Bapak mau bersumpah untuk tidak memberitahukan
jatidiri saya kepada Burhan Pak? Ini demi kebaikan
keluarga Bapak dan keluarga Burhan?"
"Info apa Ustadz?"
"Info penting. Kalau Bapak tidak mau bersumpah
tidak akan saya beritahu."
Pak Heru penasaran. Akhirnya ia mau bersumpah
menuruti syarat Syamsul.
"Baik Pak. Tolong dengar baik-baik. Burhan
memang santri yang cerdas. Tapi menurut saya tidak
cocok, maaf, jadi menantu Bapak. Kasihan Silvie
nantinya."
"Kenapa bisa begitu Ustadz? Ustadz jangan lancang
ya!"
"Sabar dulu Pak. Tunggu saya selesai berbicara.
Setahu saya Burhan Faishal itu sudah serius bertunangan
dengan seorang santriwati namanya Damayanti binti
Ustman. Santriwati asal Tulungagung. Saya tahu persis.
Sayang saya tidak punya foto mereka berdua."
"Ustadz jangan memfitnah dong. Ustadz jangan
main-main ya."
"Begini Pak Heru. Alamat tinggal saya saat ini jelas.
Pak Broto tahu siapa saya. Jadi kalau saya macammacam
Bapak bisa menindak saya. Saya sarankan Pak
Heru langsung membuktikan sendiri. Jangan beritahu
Silvie. Kalau Silvie diberitahu pasti akan telpon atau
SMS Burhan. Dan Burhan akan berusaha menutupi kebenaran.
Saya sarankan Bapak langsung ke Tulungagung.
Ke rumah tunangan Burhan. Saya punya alamatnya.
Baru setelah itu Bapak boleh mengambil keputusan."
"Baik Ustadz. Kata-kata Ustadz saya pegang. Mana
alamatnya."
Syamsul menulis alamat kantor di mana ayah
Damayanti kerja.
"Pak Utsman, ayah Damayanti itu kepala KUA, jadi
mudah mencarinya. Saya juga akan pegang sumpah
Bapak. Ini hanya Bapak yang tahu."
"Baik. Saya akan ke sana secepatnya. Kebetulan saya
harus melihat travel saya di Surabaya."
Dalam hati Syamsul berkata, "Saya tidak memfitnah
Burhan. Saya hanya ingin menyelamatkan Silvie dari
orang licik seperti Burhan. Ampuni saya jika ini salah
wahai Tuhan." Meskipun dia juga mengakui ia melakukan
ini juga karena didorong dendam.

* * *

Hari terus berjalan. Satu minggu kemudian, di suatu
Ahad pagi, Syamsul sedang bincang-bincang dengan Pak
Abbas mengenai kegiatan remaja masjid di dekat
tempat tinggalnya untuk menyambut Ramadhan.

Pak Heru datang. Syamsul kaget. Jangan-jangan terjadi hal-hal
yang tidak diinginkan, hal-hal di luar yang ia perhitungkan.
Syamsul minta waktu pada Pak Abbas untuk
menemui Pak Heru.
"Assalamu'alaikum." Sapa Pak Heru.
"Wa'alaikumussalam. Ada apa Pak Heru?" Jawab
Syamsul.
Pak Heru malah menangis, "Terima kasih Ustadz.
Terima kasih. Kalau tidak karena info Ustadz mungkin
saya akan menanggung malu besar. Dan anak saya akan
tidak jelas masa depannya."
"Ada apa sebenarnya Pak Heru?"
"Saya sudah ke Tulungagung Ustadz. Saya sudah
bertemu dengan Pak Utsman. Apa yang Ustadz
sampaikan benar. Pak Utsman bercerita panjang lebar
tentang hubungan putrinya dengan Burhan. Sampai
akhirnya, di akhir cerita Pak Utsman menangis.

Karena pertunangan putrinya dengan Burhan itu harus dia
putus karena akhlak Burhan yang ternyata sangat buruk.
Akhir bulan kemarin Burhan dikeluarkan dari pesantren karena
terbukti mencuri. Burhan sekarang sedang disel di Polres
Kediri karena melukai pengurus pesantren dengan senjata
tajam. Saya benar-benar menyesal percaya pada anak
itu. Oleh anak itu saya dirugikan empat puluh juta.

Dia bilang pinjam buat modal usaha buka toko buku di Kediri.
Setelah saya cek toko itu fiktif."
"Saya tidak mengira sejauh itu Burhan tergelincir.
Terus Silvie gimana Pak? Apa dia sudah tahu?"
"Ya. Silvie sudah tahu semuanya. Sebab saya ke
Tulungagung langsung mengajak dia. Dia bersyukur
tahu semuanya. Dan Silvie ingin pura-pura tidak tahu.

Tidak usah berkata apa-apa pada Burhan. Dalam waktu
cepat Burhan pasti bebas dan pasti akan langsung datang.
Setelah keluarga Damayanti memutuskan hubungan,
jelas Burhan akan langsung mengejar Silvie. Saat Burhan
datang itulah Silvie ingin memberinya pelajaran atas
kedustaannya selama ini."
Syamsul hanya manggut-manggut. la merasa dalam
hal itu tidak berhak turut campur. Sekarang dia merasa
lega. la berharap berita yang dibawa Pak Heru benar.
Dengan demikian namanya yang telah hitam di mata
pesantren dan keluarganya kembali pulih.
"Meskipun Burhan itu temanku. Dalam masalah ini
saya tidak bisa ikut campur. Dan saya tidak berhak
berbicara apa-apa. Saya hanya berdoa semoga semuanya
jadi baik." Pelan Syamsul.
"Iya Ustadz benar. Oh ya Ustadz, sekali lagi kami
sekeluarga mengucapkan terima kasih atas informasinya.
Kalau Ustadz ada waktu kapan-kapan setelah mengajar
Delia, Ustadz bisa mampir ke rumah. Sebab ibunya
Silvie ingin memberikan sesuatu pada Ustadz sebagai tanda
terima kasih."
"Sama-sama Pak. Sudah menjadi kewajiban seorang
Muslim untuk saling menjaga dan mengingatkan."
"Saya pamit dulu Ustadz."
"Mari Pak Heru."
"Assalamu 'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Begitu Pak Heru pergi, Syamsul langsung lari ke
wartel untuk memastikan kabar itu. la langsung
menelpon ke Kediri, ke kantor pengurus pesantren. Yang
menerima agaknya Lurah Pondok.
"Ini siapa ya?" tanya Lurah Pondok.
Syamsul malah gantian bertanya,
"Ini Lurah Pondok Pesantren Al Furqon Pagu ya?"
"Iya benar. Ini siapa?"
"Ini alumni pesantren tahun kemarin, Kang. Aku
dengar kabar ada sanrri yang disel di Polres apa benar?"
"Ya benar. Karena dia mencuri dan menyerang
pengurus yang akan meringkusnya."
"Dia itu yang namanya siapa itu, yang berambut
gondrong yang dicurigai banyak orang. Saya kok lupa?"
Syamsul menyelidik.
"O yang berambut gondrong itu namanya Syamsul.
Yang disel bukan dia. Aduh kalau teringat dia kami jadi
merasa sangat berdosa. Dia korban fitnah. Kami masih
ceroboh dulu. Yang dipenjara itu Burhan."
"O ya yang berambut gondrong itu Syamsul ya. Saya
kok lupa. Dia korban fitnah maksudnya bagaimana?"
"Dia korban fitnah perangkap si Burhan. Kami semua
berdosa padanya. Kami ingin minta maaf padanya. Tapi
tidak tahu dia di mana sekarang?"
"Sudah ke keluarganya?"
"Sudah. Kami minta maaf pada mereka.

Keluarganya sangat marah pada kami. Dan keluarganya menyesal,
karena Syamsul sudah lama minggat dari
rumah."
"Minggat dari rumah?"
"Ya. Aduh saya jadi ingin menangis. Betapa
kecerobohan kami telah menyengsarakannya."
"Masya Allah, betapa dahsyat ya dampak fitnah itu."
"Iya benar. Sangatbesar. Makanya fitnah lebih kejam
dari pembunuhan. Oh ya siapa namamu?"
"Namaku Adi, Kang. Gitu dulu Kang ya.

Assalamu'alaikum.
Salam buat Pak Kiai."
la tidak bohong. Nama lengkapnya Syamsul Hadi.
Dan dia mengambil tiga huruf terakhir dari namanya,
yaitu Adi. Padahal ada banyak nama Adi di
pesantrennya.
Lurah Pondok itu pasti tidak mengira kalau dia yang
nelpon. "Biarlah mereka mencariku. Dan akan aku
maafkan jika mau mencium telapak kakiku."

Gumamnya sambil matanya berkaca-kaca mengingat ketika ia
dipukul hingga berdarah-darah. Tangan dan kaki diikat.
Dicacimaki. Digunduli. Dan dikeluarkan dengan sangat
tidak hormat.
Ia juga ingat keluarganya. Nadia pasti sangat
bahagia mendengarnya. Ibu dan ayahnya juga. Tidak
tahu kedua kakaknya. Namun ia tidak akan menelpon
mereka. Ia akan pulang jika telah sukses dan jadi
orang.
Ia ingin membuktikan bahwa dirinya bisa mandiri.
Dan bisa berhasil. Namun tidak memungkiri ia sangat
rindu pada adiknya itu. Sore itu juga ia memberi kabar
singkat pada adiknya lewat telpon. Begitu adiknya mengangkat
hp ia bertanya,
"Ini Nadia ya?"
Adiknya itu menjawab "Ini siapa ya?"
"Nadia ini aku. Syamsul kakakmu. Kakak memberi
tahu bahwa kakak masih hidup. Kau belajar yang rajin
ya. Agar hidup mulia dan bahagia. Itu saja ya.
Wassalam."
Langsung ia tutup.



* * *



Jam lima sore usai mengajar Delia, Syamsul
menyempatkan diri bertandang ke rumah Pak Heru. Ia
ingin menghormati tawaran Pak Heru. Syamsul
disambut ramah oleh anggota keluarga itu. Bu Heru
menyampaikan banyak terima kasih. Dan banyak
bertanya kepada Syamsul. Di antaranya mengenai asalusul
Syamsul.
"Saya dari Pekalongan Bu. Dari keluarga yang biasabiasa
saja. Tidak ada yang istimewa dari saya dan
keluarga saya. Saya termasuk orang yang terlambat
kuliah. Baru tahun ini saya kuliah. Setelah lulus SMA
saya masuk pesantren." Terang Syamsul. Ia tidak mau
membuka lebih dari itu. Tidak juga bagaimana ia pernah
difitnah Burhan. Juga tidak tentang dompet Silvie yang
ia copet. Hanya dompet Silvie yang belum ia kembalikan.
Ia berniat secepatnya mengembalikan.
"Ini Ustadz sebagai tanda terima kasih. Saya ingin
memberikan hadiah untuk Ustadz. Karena bisnis kami
ini di bidang travel. Kami punyanya tiket. Kami ingin
memberikan hadiah tiket dan akomodasi umroh kepada
Ustadz, Ramadhan ini."

Syamsul senang sekali mendengarnya. Tapi ia
teringat dengan program Ramadhan untuk remaja masjid
yang telah ia rancang bersama Pak Abbas. Ia tidak mau
meninggalkannya. Dengan hati berat ia menjawab,
"Bukannya saya menolak, Bu. Sungguh saya ingin
umroh. Namun Ramadhan ini saya punya tanggung jawab
penuh mengorganisir kegiatan remaja masjid di perumahan
tempat saya tinggal. Jadi maaf saya tidak bisa."
Bu Heru kelihatan agak kecewa. Namun segera
tersenyum, "Sebenarnya kami ingin Ustadz berangkat
bersama kami. Kalau memang begitu ya tidak apa-apa.
Nanti kami ganti lain kali yang lebih baik, insya
Allah."

"Ibu tidak usah memaksakan diri. Sudah menjadi
kewajiban kita saling menjaga. Sudah kewajiban saya
untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan
semampu saya. Jadi ibu tidak usah repot-repot."
Pembicaraan berlanjut hingga azan Maghrib
berkumandang.
Bakda Maghrib ia pulang. Dan ia kembali teringat
adik dan ibunya di Pekalongan. Ia berdoa semoga mereka
semua dalam keadaan baik. Ia berusaha memaafkan apa
yang telah dilakukan keluarganya padanya.
Termasuk kedua kakaknya yang memperlihatkan rasa tidak
sukanya kepadanya. Ia berharap semuanya jadi baik dan
bahagia. Ia yakin ibunya sekarang pasti ingin
bertemu dengannya. Namun sekali lagi ia menegaskan dalam
hati,
ia belum ingin pulang. Karenanya, agar ibunya tenang
ia akan kirim paket hadiah kejutan.


* * *


Keesokan harinya, ia ke Pasar Ciputat. Mencari dua
jilbab model terbaru. Satu untuk ibunya dan yang satu
untuk Nadia. Ia juga beli kertas kado. Ia bungkus dengan
rapi. Di dalam bungkusan itu ia sertakan sepucuk surat
yane isinya,
---------------------------------------------------------
Assalamu'alaikum wmwb.

Di tengah hiruk piruk dan kerasnya ibu kota

Jakarta, aku kirim doa semoga adikku Nadia, ibuku

dan keluargaku di Pekalongan baik-baik saja dalam

lindungan Allah s.w.t Bersama surat ini saya

kirimkan hadiah Ramadhan untuk ibuku dan

adikku Nadia. Hadiah dari seorang yang belepotan

dosa. Yang hina karena dicampakkan oleh keluarga.

Semoga hadiah ini diterima, karena ini dibeli dari

tetes keringat yang halal. Bukan dari minta-minta

apalagi mencuri, mencopet dan sejenisnya. Mohon

doanya.

Wassalam,
Syamsul

NB: Nadia, wangmu nanti akan kakak kembalikan

lewat wesel secepatnya insya Allah. O ya surat ini

gak usah dibalas karena alamatnya fiktif (Namanya

juga orang gak punya rumah hehe).
----------------------------------------------------------


Keesokan harinya, ia ke Pasar Ciputat. Mencari dua
jilbab model terbaru. Satu untuk ibunya dan yang satu
untuk Nadia. Ia juga beli kertas kado. Ia bungkus dengan
rapi. Di dalam bungkusan itu ia sertakan sepucuk surat
yane isinya,

----------------------------------------------------------
Dik Silvie, maaf dopetnya saya pinjam agak

lama. Sekali lagi maaf ya. Ini saya kembalikan tidak

ada yang kurang malah wangnya saya tambahi lima

puluh ribu. Anggap saja itu sedekah saya. Saya

berharap dengan sedekah pada orang kaya seperti

Anda tetap dapat pahala. Terima kasih dompet Anda

telah menolong saya. Selamat menyambut puasa.
----------------------------------------------------------

Ia merasa lega. Hutang-hutangnya terasa telah
terlunasi. Ia merasa siap memasuki Bulan Suci Ramadhan
dengan jiwa yang lebih mantap dan dada yang lapang.
Besok adalah hari terakhir bulan Sya'ban. Lusanya
sudah puasa.
Selesai mengirim hadiah itu ia kuliah. Dan pulang ke
kontrakan menjelang Ashar. Ia langsung merebahkan
tubuhnya ke kasur tipis yang ia gelar di atas karpet. Ia pasang
beker. Ia pejamkan mata sebentar. Beberapa detik sebelum
azan ia bangun dan ke masjid. Setelah shalat ia langsung
meluncur ke Flamboyan 17, mengajar ngaji Delia.
Selesai member! privat, ia ingin langsung pulang.
Tapi ia dicegat penjaga masjid di jalan.
"Ustadz Syamsul maaf mengganggu. Saya mau
minta tolong. Begini, nanti malam kan pengajian rutin.
Kebetulan temanya menyambut Bulan Suci Ramadhan.
Lha sayangnya Ustadz Farid yang menjadi pembicara
tidak bisa hadir. Tolong Ustadz gantikan ya?" Jelas
penjaga masjid perumahan mewah itu.
"Aduh mendadak banget ya?"
"Tolonglah Ustadz. Kasihan jamaah jika tak ada yang
ngisi."
Ia mengerutkan dahi. Ia sebenarnya sangat capek
dan letih. Juga belum persiapan. Tapi ia teringat bahwa
copet untuk berbuat jahat saja berani nekat, masak untuk
berbuat baik tidak berani nekat. Akhirnya ia menjawab,
"Baiklah saya coba."
Ia tidak jadi pulang. Ia lebih baik langsung ke masjid
saja. Sampai di masjid ia dibuatkan teh hangat oleh
penjaga masjid. Malam itu jadilah ia mengisi ceraman di
masjid yang dihadiri oleh empat ratus orang jamaah. Di
antara jamaah itu ada Pak Broto, Bu Broto, Pak
Heru,
Bu Heru, Silvie dan orang-orang penting penghuni
perumahan mewah itu. Syamsul menjelaskan bagaimana
Rasulullah menyambut Ramadhan dengan persiapan
prima.
"Kita semua juga harus menyambut Ramadhan
dengan penuh rasa cinta, bahagia. Seperti rasanya
seorang kekasih menyambut datangnya kekasihnya."
Katanya memberi perumpamaan.
Para jamaah puas. Di antara jamaah itu ada
seorang Direktur Program Religius sebuah televisi
swasta terkemuka Jakarta. Isi ceramah yang ia
sampaikan agaknya mengetuk kalbunya. Bapak
Direktur itu mengajaknya berbincang-bincang
setelah
ceramah.
"Gaya bahasa Ustadz enak. Diksinya enak. Timbrenya
pas. Bumbunya pas. Isinya mengena. Joke-joke-nya
berkualitas. Ustadz lulusan universitas mana?" tanya
Bapak Direktur.
"Saya masih kuliah Pak. Ini kan karena Ustadz Farid
tidak datang, maka saya dipaksa menggantikan."
"Tapi bagus kok."
Direktur itu lalu menawarkan kepada Syamsul untuk
jadi ustadz di acara ceramah pagi. "Saya lihat Ustadz
cocok. Ya satu dua kali saja selama Bulan Suci
Ramadhan.
Gimana Ustadz?"
"Saya kuatir kalau saya belum pantas Pak."
"Yang menilai kan orang lain Ustadz. Ceramah
Ustadz bagus kok. Kita deal Ustadz ya. Jadwalnya besok
sayaberitahu sekaligus temanya. Bagaimana Ustadz?"
Ia kembali teringatbahwa copet untuk berbuat jahat
saja berani nekat masak untuk berbuat baik tidak berani
nekat. Akhirnya ia menjawab,
"Baiklah saya coba."
" Alhamdulillah."
"Nama saya Doddy Alfad. Ini kartu nama saya."
Syamsul menerima kartu nama itu.


* * *


Sore hari berikutnya, Syamsul kembali ke Perumahan
Villa Gracia. Untuk mengajar Delia dan untuk
menemui Pak Doddy berkenaan dengan ceramah pagi
di stasiun televisi swasta terkemuka. Seperti biasa
Syamsul menunggu di masjid. Sebab janji dengan Pak
Doddy adalah selepas shalat Isya.
Ketika Syamsul sedang berbincang dengan penjaga
masjid, Pak Heru datang. Wajahnya serius.
"Ustadz, keluarga Burhan mau datang ke rumah
setelah Maghrib. Apa Ustadz ikut menemui
mereka?"
Pak Heru memberitahu. Mau tidak mau hati Syamsul
bergetar. Bagaimana tidak, ia diminta untuk menemui
orang yang pernah memfitnahnya.
"Tidak usah Pak. Ikut menemui dalam kapasitas saya
sebagai apa? Kan tidak jelas. Bapak dan keluarga yang
menemui kan sudah cukup." Jawab Syamsul berusaha
tenang.
"Oh ya Ustadz benar. Ya sudah itu saja Ustadz yang
ingin saya sampaikan." Pak Heru lalu kembali
pulang.
Syamsul berkata,
"Lho Pak tidak shalat Maghrib berjamaah di
masjid?"
"Sebentar saya ganti baju dan ambil peci." Sahut Pak
Heru sambil tersenyum.
Syamsul memandang pemilik perusahaan travel itu
dengan tersenyum pula. Syamsul kembali ke ruang
takmir melanjutkan perbincangan dengan penjaga
masjid.
"Kenapa Pak Heru kok sekarang berubah sejak
bertemu dengan Ustadz?" kata penjaga masjid.
"Berubah bagaimana?"
"Berubah lebih rendah hati. Lebih sering ke masjid.
Dan sif at pelitnya sedikit berkurang."
"Itu bukan karena bertemu dengan saya Pak. Tapi
memang sudah saatnya berubah. Manusia kan
berproses.
Umar bin Khattab saja untuk jadi baik kan juga
ada prosesnya."
Penjaga masjid itu manggut-manggut.
"Ustadz benar."
Azan Maghrib dikumandangkan dan Syamsul
kembali didaulat jadi imam. Ketika ia meluruskan
barisan ia kaget. Sepintas ia melihat Burhan masuk
masjid diikuti keluarganya. Ia tetap mengendalikan
hati.
Setelah istighfar tiga kali untuk menyucikan dan
menyejukkan hati, barulah ia takbiratul ikhram.
Di rakaat pertama ia membaca Asy Syams dan di
rakaat kedua membaca Az Zilzalah. Ia meneteskan
airmata ketika membaca faman ya'mal mitsqala
dzarratin khairan yarah wa man ya'mal mitsqala
dzarratin syarran yarah.
Selesai shalat dan zikir, Syamsul memberikan
kultum. Ia mengulas dua ayat terakhir surat Az Zilzalah
yang baru saja ia baca. Burhan yang jadi makmum dan
jadi pendengar nyaris tidak percaya dengan yang ia
dengar. Dalam hati ia berkata, "Bagaimana mungkin si
Syamsul yang telah hancur itu bisa jadi penceramah?
Bagaimana ceritanya ia sampai di sini? Apakah dia sudah
tahu perkembangan terbaru yang terjadi di
pesantren?"
Ada sedikit kekuatiran dan kecemasan yang
menyusup
dalam hatinya. "Kalau ia sudah tahu bisa bikin masalah."
Tapi ia menghibur hatinya bahwa pasti Syamsul
tidak
tahu. Dan Syamsul tidak mungkin bertindak bodoh,
sebab ia sedang jadi imam. Kalaupun Syamsul sudah tahu
apa yang terjadi di pesantren, anggapannya, Syamsul
pasti tidak tahu hubungan dirinya dengan Silvie. Putri
Pak Heru yang kaya raya itu.
Selesai kultum Syamsul langsung keluar masjid
dengan tenang. Ia melangkah di samping Burhan. Ia
pura-pura tidak tahu. Burhan berdiri mendekatinya dan
berjalan di sampingnya, membisikkan sesuatu untuk
memancing emosi Syamsul. Bisikan itu hanya
Syamsul yang dengar,
"Hai maling, gimana ceritanya kau bisa jadi imam
di sini? Apa sah shalatnya makmum yang diimami
seorang penjahat? Nanti kalau aku jadi orang sini
sebaiknya kauangkat kaki sebelum diusir dengan tidak
terhormat kedua kali!?"
Bergemuruh dada Syamsul mendengarnya.
Amarahnya membara. Emosinya sudah di ubun-ubun kepala. la
siap membalas dengan serangan yang lebih dahsyat.
Belum sempat ia bicara Delia memanggilnya,
"Ustadz Syamsul... Ustadz Syamsul?"
Suara Delia itu meluruhkan amarahnya.
Menyejukkan hatinya.
"Ada apa Delia?" Jawab Syamsul langsung menengok
ke arah Delia yang berjalan cepat ke arahnya. Ia
tidak memperhatikan Syamsul. Burhan yang masih di
samping Syamsul, ikut memandang Delia.
"Mau minta tanda tangan. Ini tugas dari Bu Guru
agama."
"Oyasini."
Syamsul menerima buku tugas dan pena dari Delia
dan menandatanganinya.
"Sudah?" tanya Syamsul.
"Masih ada satu lagi." Kata Delia. Burhan masih
belum beranjak. Masih memperhatikan.
"Apa?" tanya Syamsul.
"Ada pesan dari Mbak Silvie?"
Syamsul langsung merasa mendapat senjata unruk
menjawab bisikan Burhan yang sungguh menghina.
Untuk lebih menyerang Burhan yang ada di sampingnya
Syamsul pura-pura tanya pada Delia,
"Silvie yang mana?"
"Itu lho Ustadz, Mbak Silvie putrinya Pak Heru.
Yang biasa kasih privat matematika."
Lalu sambil berjongkok, seolah ingin memperhatikan
pesan dengan serius Syamsul melirihkan suara, dengan
bertanya,
"Mbak Silvie yang cantik itu?"
Delia mengangguk-angguk sambil tersenyum.
Burhan yang mendengar hal itu hatinya terbakar
luar biasa.
"Pesannya apa?" tanya Syamsul sambil mendekatkan
ke telinganya. Burhan didera rasa penasaran
yang luar biasa.
Delia mendekatkan mulutnya dan membisikkan
beberapa kata ke telinga Syamsul. Seketika Syamsul
berkata, "Yang benar?"
"Benar. Delia berani sumpah mati!"
"Ya ya Ustadz percaya. Sampaikan pada Mbak
Silvie: Ustadz juga sama gitu ya?"
"Baik Ustadz. Cihui... Ustadz juga sama... Ustadz
juga sama!" Delia berlari ke arah jamaah putri.
Burhan tidak bisa menyembunyikan cemburunya.
la langsung bertanya pada Syamsul, "Kau kenal Silvie?"
"Maaf itu bukan urusanmu Sobat. Maaf saya
tergesagesa.
Saya harus ngisi di tempat lain."
Syamsul langsung berjalan cepat ke arah sepeda
motornya. la pura-pura sibuk. la nyalakan sepeda
motornya. Sampai di jalan ia teringat janji dengan
Pak Doddy setelah Isya. Ia berpikir langsung saja ke rumah
Pak Doddy. Sementara Burhan masih dibakar
amarah dan cemburu. la ingin cepat-cepat sampai ke rumah Pak
Heru. Dan melampiaskan marahnya pada Silvie. la ingin
menanyakan apa yang disampaikan pada Syamsul itu.
"Awas kau Silvie!"


* * *


Burhan dan keluarganya sampai di rumah Silvie.
Rombongan dua mobil dari Pasar Rebo itu disambut dengan
ramah oleh Pak Heru, Bu Heru, Silvie, Pak Broto dan Mas
Budi, satpam penjaga pintu gerbang perumahan yang
sedang tidak tugas. Mas Budi memakai baju takwa, sebab
bakda shalat Maghrib langsung digandeng Pak Heru.
Silvie bersikap tenang dengan jilbab merah jambunya.
Dalam balutan jilbab mahasiswi ekonomi UI tampak
begitu anggun. Ibunda Burhan memuji kecantikan Silvie.
Dan Silvie hanya tersenyum saja. Dialog dua keluarga
terjadi. Di tengah dialog, Burhan minta waktu pada Silvie
untuk bicara berdua. Burhan ingin melampiaskan
kemarahannya. Tapi dengan halus Silvie menolak.
Burhan tampak kecewa. Pembicaraan terus
berlanjut,
"Sebagaimana Pak Heru ketahui, Burhan dan Silvie
sudah lama saling mengenal. Burhan juga, katanya,
telah
memberikan cincin pengikat kepada Silvie.
Kedatangan
keluarga kami ini ingin menguatkan ikatan itu
secara
resmi. Dalam bahasa transparannya kami ingin
meminang Silvie untuk Burhan." Jelas Ayah Burhan
dengan sangat tenang dan penuh keyakinan.
"Inilah yang kami tunggu-tunggu." Jawab Pak Heru
tenang. Burhan mendengar hal itu dengan
kebahagiaan
yang sulit digambarkan.
Namun Pak Heru melanjutkan, "Sebenarnya saya
dan keluarga ingin ke rumah Pak Anwar. Hanya saja
ternyata kami didahului. Keluarga Pak Anwar lebih
dulu
datang. Kami senang dengan kedatangan ini.
Karena
Pak Anwar memakai bahasa transparan. Maka saya
juga
akan menjawab dengan bahasa transparan. Dengan
segala kerendahan hati saya selaku ayah Silvie
menyampaikan.
Saya tidak bisa menerima lamaran Pak Anwar
untuk Burhan. Karena satu dan lain hal yang
semoga
kita sama-sama bisa memakluminya. Mohon maaf
jika
keputusan ini kurang berkenan."
Burhan dan keluarganya tersentak kaget bukan
kepalang.
"Apa saya tidak salah dengar Pak?!" seru Burhan
spontan sambil berdiri. Karena yang berbicara
Burhan,
Silvie langsung menukas, "Tidak!"
"Apa?!" Burhan mengulang dengan sedikit lebih
keras.
"Apa telingamu bermasalah, Bung. Ayahku cukup
berbicara satu kali. Tak perlu diulang. Ini cincin
dustamu
itu saya kembalikan! Dasar santri bajingan!" Darah
muda
Silvie bergolak. la yang biasanya berbicara lembut
saat
itu amarahnya meledak.
Pak Anwar yang sebenarnya marah mencoba
meredakan suasana yang sama sekali jauh dari yang
ia
bayangkan itu.
"Sebentar-sebentar, masalah sebenarnya apa?
Kenapa Pak Heru menolak. Tolong bisa dijelaskan.
Mari
kita berdialog dengan kepala dingin. Mungkin ada
salah
paham."
"Saya ingin Pak Anwar menerima dan menghargai
keputusan kami. Meskipun tanpa alasan sama sekali.
Toh
sebenarnya antara Silvie dan Burhan tak ada ikatan
apa-apa
secara agama. Saya tidak perlu menjelaskan. Kiranya
Pak Anwar pasti sudah mengerti alasan kami. Kalau
kami
menjelaskan nanti malah semakin tidak enak."
Jawab
Pak Heru tenang.
"Tidak bisa Pak! Tidak bisa menolak tanpa alasan.
Tolong jelaskan! Atau jangan-jangan saya tidak
diterima
karena Silvie sudah tidak layak bagi saya!" tukas
Burhan.
"Burhan, kalau bicara yang sopan! Silvie sudah tidak
layak bagaimana? Apa maksudmu?" seru Pak Anwar,
ayah Burhan.
"Ya sekarang kan zaman edan. Bisa saja tho Silvie
sudah hamil dengan pria lain misalnya?"
Jawaban Burhan itu membuat emosi Silvie tak
tertahankan,
"Tutup mulutmu, Bajingan! Aku sudah tahu siapa
kamu? Kau tak lebih dari sampah busuk!
Dikeluarkan
dari pesantren karena mencuri dan memfitnah
orang!
Dipenjara karena melukai orang. Penipu ulung,
mana
modal empat puluh juta yang kaupinjam untuk toko
bukumu itu. Toko buku fiktif. Terus bagaimana
dengan
Dalmayanti? Setelah kau ditolak di Tulungagung
kau
lari ke sini. Jika sampah itu telah dibuang dari
pesantren
dan tidak diterima di mana-mana apa kami harus
menerima. Bukankah lebih baik sampah itu
didaurulang
dulu agar berguna. Kalian ini ingin dihormati tapi
tidak
bisa menghormati. Dan kau Pak Anwar, sudah tahu
anaknya sampah masih juga tidak tahu diri!
Mungkin kalian tidak percaya yang saya sampaikan!
Masih ingin
bukti? Ini!"
Silvie melempar Koran. Koran itu mcnggeletak di
meja. Ada sebuah judul yang tertera jeas:
DIPENJARA
KARENA KEJAHATAN DI PESANTREN. Dan

terpampang
jelas foto Burhan yang gundul. Melihat hal itu
Pak Anwar dan isterinya langsung pucat pasi.
Mereka
sangat malu.
"Hei, Maling, apa kaukira bisa menipu kami bahwa
gundulmu itu karena umroh, bukan karena
digunduli di
pesantren!"
Kata-kata Silvie sangat mengguncang Burhan. la
tidak kuasa menahan amarahnya.
"Kurang ajar kau! Berani menghina aku ya!"
Dan., plak!
Dengan cepat Burhan menempeleng Silvie.
Kejadian
itu sungguh tidak diduga. Burhan kembali Ingin
menghajar Silvie. Namun Mas Budi cepat bertindak.
la
segera mengatasi Burhan. Burhan melawan, tapi
Mas
Budi yang jago karate itu dengan mudah
melumpuhkannya.
Mulut Silvie berdarah. Sambil meringis ia berkata,
"Saya tidak terima. Ini harus diproses hukum!"
Pak Anwar, dengan berlinang airmata berkata
terbata, "Nak Silvie, Pak Heru dan Bu Heru maafkan
kami. Sungguh kami sangat terpukul.Baru kali ini
kami
tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan anak kami.
Selama ini kami percaya penuh padanya. Kami
memang
kurang kontrol dan terlalu memanjakannya. Saya
tidak tahu dengan apa yang telah diperbuatnya
sampai dia
dikeluarkan dari pesantren dan dipenjara. Saya juga
tidak
tahu perihal penipuannya. Maafkan kami. Tapi
tolong
jangan laporkan Burhan ke polisi. Saya minta..."
Silvie menggeleng.
"Tindak kejahatan harus diproses oleh hukum!"
Silvie lalu minta Mas Budi mengamankan Burhan.
Burhan langsung digelandang ke pos satpam. Di
pos
satpam, Burhan diberi pelajaran tambahan oleh dua
orang satpam.
Keluarga Burhan pulang dengan membawa malu
luar biasa. Seorang lelaki berjas abu-abu berkata
pada
Pak Anwar dengan kesal bercampur marah, "Saya
sangat malu pada Pak Heru. Pak Heru itu teman
baik
saya di SMA. Saya jadi tahu kenapa tadi Pak Heru
pura-pura tidak kenal saya. Itu gara-gara ternyata
saya
mengantar seorang penjahat ke rumahnya.
Mengantar
seorang penjahat untuk melamar anaknya. Saya malu
Pak Anwar! Sejak sekarang hubungan bisnis kita
putus!"
Ketika polisi datang mengambil Burhan dari pos
satpam, di saat yang sama Syamsul mengambil
jadwalnya dari Pak Doddy dan ia meneken kontrak
tayang di televis. Tanda tangannya bersanding
dengan
tanda tangan orang penting di stasiun televisi itu.
Angin yang bertiup spoi-spoi seolah mengalunkan
firman Allah, faman ya'mal mitsqala dzarratin
khairan
yarah zva man ya'mal mitsqala dzarratin syarran
yarah.

****

Ramadhan tiba. Kaum Muslimin menyambutnya
dengan penuh bahagia. Syamsul sibuk dengan
jadwalnya:
mendampingi kegiatan remaja masjid, imam
tarawih, privat, kuliah, ceramah, dan shooting
ceramah
di televisi.
Ia muncul di televisi dua kali selama Ramadhan.
Tanggal 9 Ramadhan dan tanggal 27 Ramadhan. Ia
mempersiapkan ceramahnya dengan sungguh-
sungguh.
Ia ajak remaja masjid untuk menyertainya latihan.
Seolah-olah di studio. Mereka sebagai audiens nya.
Ia
minta masukan dan kritikan. Sampai menemukan
bentuk dan performa terbaik.
Tanggal 8 Ramadhan ia menelpon Nadia adiknya.
Ia meminta untuk nonton ceramah pagidi stasiun
televisi
Ajam D. "Jangan sampai tidak nonton. Kakak ikut
dalam
pengajian itu. Ia tidak mengatakan sebagai
pembicaranya.
Beritahu ayah, ibu dan kakak ya."
Ia juga menelpon pesantrennya. Kepada kurah
Pesantren ia bilang,
"Kang tolong besok seluruh santri nonton ceramah
pagi distasiun televisi A jam D. Pengisinya seorang
Ustadz
muda alumnus pesantren kita. Jangan lupa
sampaikan
pada Pak Kiai." Ia tidak bilang itu dirinya. la masih
mengaku sebagai Adi. Seperti di telpon sebelumnya.
Pada hari H, ia tampil dengan sangat prima di
televisi. Ceramahnya hidup. Direktur Program dan
para
kru televisi memuji. Di Pekalongan, adiknya Nadia,
ibunya, ayahnya dan kedua kakaknya menangis.
Demikian juga di pesantrennya.
Di Flamboyan 19 Silvie menyaksikan dengan hati
penuh cinta. Tanpa sadar, ia berucap, "Orang
seperti ini
yang kudamba. Sederhana. Rendah hati. Namun
penuh
potensi!" Kata-kata Silvie itu didengar dengan baik
oleh
Pak Heru dan Bu Heru.
"Baiklah kita datangi Ustadz Syamsul nanti sore
sebelum kita terlambat. Semoga dia belum punya
calon."
Kata Pak Heru menukas.
Silvie terkesiap mendengarnya. Lalu hatinya
berbuhga-bunga. Ia mengamini doa ayahnya. Dalam
hati ia berharap di Bulan Suci Ramadhan ini ia
mendapatkan cinta sejatinya. Sejenak pikirannya
berkelebat, teringat pada pesan sebuah buku yang
pernah
dibacanya, "Cinta adalah sesuatu yang
menakjubkan.
Kamu tidak perlu mengambilnya dari seseorang
untuk
memberikannya kepada orang lain. Kamu selalu
memilikinya lebih dari cukup untuk diberikan
kepada
orang lain." Silvie teringat pesan itu. Ia ingin
memberikan
cintanya kepada Ustadz Syamsul. Karena ia yakin, ia
benar-benar memiliki cinta untuk diberikan kepada
Ustadz Syamsul, ustadz idaman yang kini memenuhi
ruang hatinya.



* * *



Sidang pembaca yang dirahmati oleh Allah Swt.
Bagaimanakah kisah cinta Silvie dan Syamsul
selanjutnya? Akankah Syamsul menerima lamaran si
Silvie? Bagaimanakah kehidupan Syamsul
selanjutnya?
Akankah ia makin sukses di kehidupannya
mendatang?
Dan Bagaimanakah kelanjutan cerita Syamsul
seleng-kapnya? Bagaimana sikap keluarga dan
pesantrennya
yang dulu mengusirnya? Temukan saja jawabannya
di
edisi romannya: DALAM MIHRAB CINTA, yang
semoga
bisa segera diluncurkan. Mudah-mudahan Allah
memberikan kekuatan kepada kita semua untuk
beramal
kebaikan di dunia ini untuk bekal kelak di akhirat
nanti:
faman ya'mal mitsqala dzarratin khairaii yarah wa
man ya'mal mitsqala dzarratin syarran yarah.


Candiwesi, Salatiga-Pesantren Basmala,
Semarang-Malaya University, Malaysia,
17 Agustus 2006 - 27 Desember 2006.

Friday, December 5

Novel - Dalam Mihrab Cinta 'Syamsul Hadi 1'

Habiburrahman El-Shirazy

Siang itu Pesantren Al Furqon yang terletak di daerah
Pagu, Kediri, Jawa Timur geger. Pengurus Bagian
Keamanan menyeret seorang santri yang diyakini
mencuri. Beberapa orang santri terus menghajar santri
berambut gondrong itu. Santri itu mengaduh dan minta
ampun.
"Ampun, tolong jangan pukul saya. Saya tidak
mencuri!" Santri yang mukanya sudahberdarah-darah
itu mengiba.
"Ayo mengaku. Kalau tidak kupecahkan kepalamu!"
Teriak seorang santri berkopiah hitam dengan wajah
sangat geram.
"Sungguh, bukan saya pelakunya." Si Rambut
Gondrong itu tetap tidak mau mengaku.
Serta merta dua bogem melayang ke wajahnya.
"Nich rasain pencuri!" teriak Ketua Bagian Keamanan
yang turut melayangkan pukulan. Si Rambut Gondrong
mengaduh lalu pingsan.
* * *
Menjelang Ashar, si Rambut Gondrong siuman. la
dikunci di gudang pesantren yang dijaga beberapa santri.
Kedua tangan dan kakinya terikat. Airmatanya meleleh.
la meratapi nasibnya. Seluruh tubuhnya sakit. la merasa
kematian telah berada di depan mata.
Di luar gudang para santri ramai berkumpul. Mereka
meneriakkan kemarahan dan kegeraman.
"Maling jangan diberi ampun!"
"Hajar saja maling gondrong itu sampai mampus!"
"Wong maling kok ngaku-ngaku santri. Ini kurang
ajar. Tak bisa diampuni!"
la menangis mendengar itu semua. Sepuluh menit
kemudian pintu gudang terbuka. la sangat ketakutan.
Tanpa ia sadari ia kencing di celana karena saking takutnya.
Para santri yang didera kemarahan meluap hendak
menerobos masuk. Tapi Lurah Pondok menahan mereka
dengan sekuat tenaga. Pak Kiai, pengasuh pesantren
masuk dengan wajah dingin. Beliau diikuti empat
pengurus. Satu di antaranya Ketua Bagian Keamanan.
Lampu gudang dinyalakan. Pintu gudang lalu
ditutup oleh Lurah Pondok. Pak Kiai berdiri tepat di
hadapannya. Empat pengurus dan Lurah Pondok
mengambil posisi mengelilingi si Gondrong.
"Ini Pak Kiai pencuri yang selama ini menjarah
barang-barang para santri. Baru tadi siang ditangkap
basah oleh Bagian Keamanan." Ketua Bagian Keamanan
membuka pengadilan.
"Siapa namamu?" tanya Pak Kiai. Karena jumlah
santri putra ada seribu lima ratus santri, Pak Kiai tidak
hafal nama semua santrinya.
Si Rambut Gondrong menjawab pelan, "Syamsul...
Syamsul Hadi, Pak Kiai."
"Nama yang sangat bagus. Benar kamu yang
mencuri?"
Syamsul menggelengkan kepala. Ketua Keamanan
marah,
"Dia,memang orangnya sangat bandel Pak Kiai.
Dia tidak mau mengaku, tapi kami menangkap basah
dia sedang membuka lemari si Burhan di kamar 17
Pak Kiai. Di kamar 17 sudah dua orang kehilangan
uang. Saat itu kamar sepi, kami yang memang
memasang orang di atas eternit melihatnya membuka
lemari Burhan."
"Benarkah kau membuka lemari Burhan?" tanya Pak
Kiai pelan.
"Benar Pak Kiai. Tapi tidak untuk mencuri."
"Lantas untuk apa?!!" bentak Ketua Bagian Keamanan
garang.
"Karena saya diminta untuk mengambilkan uang
oleh Burhan Pak Kiai." Jawab Syamsul.
"Hmm...Burhan ada?" tanya Pak Kiai sambil
melihat Ketua Bagian Keamanan.
Ada, Pak Kiai."
"Dia tahu kalau si Syamsul tertangkap karena
membuka lemarinya?"
"Tahu Pak Kiai."
Pak Kiai manggut-manggut dan mengerutkan dahi.
"Panggil Burhan kemari!" pinta Pak Kiai.
"Baik Pak Kiai."
Ketua Bagian Keamanan lalu bergegas keluar.
* * *
Syamsul berharap Burhan mau menjelaskan semuanya.
Namun dalam hati ia bertanya-tanya, Burhan tahu
kalau dirinya tertangkap kenapa tidak menjelaskan
semuanya. Apa karena Burhan takut pada amarah para
santri. Atau...? Ia tidak bisa banyak memprediksi.
Seluruh tubuhnya terasa ngilu. Ia berharap di hadapan
Pak Kiai, Burhan menjelaskan bahwa ia memang diminta
Burhan mengambilkan uangnya. Dengan penjelasan
Burhan itu ia berharap namanya dibersihkan dan semua
santri yang telah berlaku aniaya padanya diberi
hukuman, paling tidak harus minta maaf.
Burhan datang dengan wajah sedikit pucat. Namun
masih tampak tenang. Ia sama sekali tidak memandang
Syamsul yang sedang berdarah-darah kesakitan.
"Burhan ke sini!" pinta Pak Kiai.
Burhan mendekat.
"Kau sudah tahu apa yang terjadi? Kenapa Syamsul
diadili dan kenapa kau dibawa kemari?" lanjut Pak Kiai.
"Iya Pak Kiai."
"Kau harus jujur. Karena kejujuran mendatangkan
kebaikan. Dan kedustaan mendatangkan petaka.
Syamsul ini mengaku bahwa kau memintanya mengambilkan
uangmu di lemarimu, apa benar?"
Syamsul menunggu jawaban yang akan keluar dari
mulut temannya itu. Ia berharap temannya itu jujur,
mengatakan yang sebenarnya. Dengan suara bergetar
Burhan menjawab, "Ti...tidak benar Pak Kiai!"
Syamsul kaget bagai disambar geledek. Dengan
penuh amarah dia berteriak,
"Teganya kau Bur... Kau santri atau bajingan?!
Dancok kau Bur!"
"Diam kau maling! Kau yang jelas bajingan bukan
Burhan!" bentak Bagian Keamanan.
"Demi Allah yang menciptakan langit dan bumi Pak
Kiai. Saya tidak mencuri. Burhan yang tadi meminta
saya mengambilkan uangnya untuk beli baju dan
mentraktir saya. Biarlah seluruh laknat Allah menimpa
saya jika saya berdusta!" Syamsul bersumpah dengan
suara lantang. Kedua matanya menyala seperti mata
elang.
Pak Kiai agak kaget. Beliau langsung memandang
Burhan,
"Burhan karena Syamsul sudah berani bersumpah.
Kau harus berani juga bersumpah bahwa apa yang
kaukatakan benar. Jika tidak maka kau bersalah. Kau
akan dapat hukuman atas kedustaanmu. Sebab
kedustaanmu itu telah mencelakakan orang lain."
Dengan tenang Burhan menjawab, "Penjahat akan
melakukan apa saja untuk menutupi kejahatannya Pak
Kiai. Baiklah, saya bersumpah bahwa apa yang baru saja
saya katakan benar. Jika saya berdusta maka semoga
segala laknat Allah menimpa saya."
Saat mengucapkan sumpah itu, dalam hati Burhan
mengatakan yang dimaksud dengan kata-katanya
"bahwa yang baru saja saya katakan benar" adalah
perkataannya "penjahat akan melakukan apa saja untuk
menutupi kejahatannya" bukan yang lain. Tak ada yang
tahu hal itu kecuali Burhan. Syamsul meneteskan
airmata. Hatinya sangat sakit. Rasa sakit hatinya melebihi
seluruh sakit di sekujur tubuhnya yang berdarah-darah.
"Baiklah, semuanya lebih jelas. Untuk memutuskan
siapa yang sesungguhnya harus dihukum, silakan
pengurus bermusyawarah. Dan sekalian tentukan
hukuman yang paling bijak." Kata Pak Kiai sambil
memandang wajah para pengurus. Lalu beliau pergi.
Setelah Pak Kiai pergi, Syamsul berteriak-teriak
marah. Andai kedua tangan dan kakinya tidak diikat
tentu ia akan mengamuk.
"Burhan, kaulah bajingan paling jahat! Kau tega
memfitnah temanmu! Ingat Burhan, Allah tidak tuli! Allah
tidak tidur!"
Burhan menjawab tenang sambil memandang ke
Lurah Pondok, "Penjahat ulung itu bisa berakting yang
canggih!"
Burhan lalu pergi. Para pengurus juga meninggalkan
gudang. Mereka menuju kantor untuk rapat. Akhirnya
diputuskan, Syamsul dihukum gundul dan kemudian
dikeluarkan dari pesantren.
Pengurus bergerak cepat. Lurah Pondok menelpon
ayah Syamsul, seorang pengusaha batik sukses di
Pekalongan. Yang lain menyiapkan acara eksekusi
penggundulan. Keputusan rapat pengurus itu ditulis
resmi. Diketik rapi. Ditandatangani oleh Lurah Pondok,
Sekretaris Pondok, Ketua Bagian Keamanan, dan
Pengasuh Pondok Pesantren.
Sore itu juga Syamsul diambil dari gudang. Di
halaman pondok telah disiapkan kursi yang diletakkan
di tengah garis melingkar. Syamsul digiring dan
didudukkan di kursi itu. Para santri menyaksikan
eksekusi penggundulan itu dari luar garis. Bagian
Keamanan membacakan hasil keputusan:
"...dengan ini diputuskan bahwa Saudara Syamsul
Hadi terbukti bersalah melakukan kejahatan pencurian
yang dilarang agama dan melanggar tata tertib pesantren.
Karenanya ia dikeluarkan dengan tidak hormat dari
pesantren, dengan sebelumnya dihukum takzir yaitu
digundul untuk dijadikan pelajaran bagi santri yang lain."
Para santri bersorak sorai. Kata-kata sumpah serapah
keluar menghujat Syamsul. Syamsul benar-benar sangat
terpukul. Ketika gunting bagian keamanan mulai
mencowel-cowel rambut kepalanya ia menangis. Sepuluh
menit kemudian eksekusi itu selesai. Syamsul dibawa lagi
ke dalam gudang. Dua orang pengurus membawa
seember air dan menyuruhnya mandi. Ikatan di tangan
dan di kakinya dilepas. Semua barang Syamsul telah
dikemas rapi dan diletakkan di gudang.
Jam sebelas malam orangtua Syamsul datang. Pak
Kiai menemui di ruang tamu pesantren. Syamsul berikut
barang-barangnya dihadirkan. Pak Kiai dan Lurah
Pondok menjelaskan semuanya.
"Maafkan kami, Pak. Inilah tata tertib yang telah kita
sepakati bersama. Syamsul terbukti mencuri maka harus
dikeluarkan." Kata Lurah Pondok santun.
"Kita mengenal wejangan orangtua kita dulu, jika
ada satu rayap di kapal maka harus segera dibuang. Kalau
tidak rayap itu bisa menjadi banyak, menggerogoti kapal
dan bisa menenggelamkan kapal serta membinasakan
seluruh penumpangnya. Itulah yang saat ini kami
lakukan. Rayap itu harus dibuang..." Ketua Bagian
Keamanan menimpal.
"Saya berharap, ini jadi pelajaran bagi Syamsul. Dan
setelah ini Syamsul berubah. Saya melihat Syamsul ini
punya potensi untuk baik dan maju." Kata Pak Kiai
bijaksana.
Ayah Syamsul, Pak Bambang, sangat malu dan
marah. Di ruang itu juga ia menampar anaknya berkalikali,
"Anak tak tahu diri! Apa masih kurang Papa
memberimu uang saku dan lain sebagainya. Kurang
uang tinggal minta, kenapa malah maling!"
Plak! Plak! Plak!
Syamsul meringis. Ia diam saja. Ia merasa tak ada
gunanya membela. Ia akan menjelaskan semuanya jika
sampai di rumah nanti. Namanya memang telah rusak.
Ia benar-benar hancur di pesantren itu. Tapi ia berharap
tidak hancur di tempat lain.
Sebelum ia meninggalkan ruangan itu ia tegakkan
kepala dan berkata setenang mungkin, "Pak Kiai,
Panjenengan sudah melakukan tindakan zalim dengan
memperlakukan saya seperti ini. Panjenengan belum
melakukan tabayun yang sesungguhnya. Dan kalian
para pengurus yang memutuskan hukuman untuk saya
dengan semena-mena, dengar baik-baik, kalian telah
melakukan dosa besar! Kesalahan besar! Ini hak adami.
Suatu saat kalian akan tahu siapa yang benar dan siapa
yang salah. Kalian akan tahu kelak siapa sebenarnya
rayap itu. Dan aku tidak akan memaafkan dosa kalian
semua kecuali kalian mencium telapak kakiku!"
Mendengar hal itu Ketua Bagian Keamanan hanya
geleng-geleng kepala. Pak Kiai tersentak, ada keraguan
berbalut kekuatiran menyusup dalam hatinya, namun
diam saja.
* * *
Sampai di rumah ia ternyata juga menemukan hal
yang sama. Ia menegaskan bahwa ia terfitnah. Ia tidak
pernah mencuri di pesantren. Namun penjelasannya itu
tidak bisa diterima oleh seluruh anggota keluarganya.
Kemarahan ayahnya juga tidak reda. Kedua kakak dan
ibunya lebih percaya pada keputusan pesantren.
"Sudah lebih baik kau mengakui dosamu itu dan
bertaubat. Sesali perbuatanmu itu dan jangan keras
kepala!" Kakak sulungnya yang sudah punya dua anak
itu marah.
Hanya adiknya, Nadia, yang tidak berkomentar.
Nadia lebih merasa iba pada kondisi kakaknya.
"Apa tidak sebaiknya dibawa ke dokter untuk
diobatkan Ma. Kasihan Kak Syamsul." Kata Nadia.
Pak Bambang langsung menyahut garang, "Kita
tidak perlu kasihan sama maling. Biar dia rasakan akibat
kejahatannya!"
Tak ada yang berani membantah. Bu Bambang
masih tampak marah. Rasa marahnya saat itu mengalahkan
rasa kasihan pada anaknya itu.
Syamsul istirahat di kamarnya dengan mata
berkaca-kaca. Jika keluarga sudah tidak lagi percaya
padanya. Apalah arti hidup di dunia ini.
Nadia masuk ke kamarnya membawa peralatan
P3K. la bersihkan luka-luka kakaknya dengan air
mineral, lalu dengan rivanol. Setelah itu ia oleskan
Betadine.
"Apakah kau juga tidak percaya bahwa aku tidak
mencuri, Nadia?" Tanya Syamsul.
Nadia diam. Tidak menjawab.
"Jawab Nadia, aku butuh seseorang yang menguatkan
aku. Aku bisa gila!" Seru Syamsul serak.
"Sudahlah, Kak. Jangan bahas itu lagi. Yang penting
kakak sembuh dulu. Nadia akan rawat kakak. Kakak
jangan kecil hati, selama Allah bersama kakak, maka
kakak jangan takut bahwa semua manusia memusuhi
kakak."
"Jadi kau percaya bahwa bukan aku pencurinya?
Kau percaya penjelasanku, Nadia."
"Itu tidak penting, Kak. Saya ingin kakak berubah
lebih baik. Dan Nadia akan selalu menganggap Kak
Syamsul adalah kakak Nadia."
Syamsul kecewa. Nadia pun tidak juga mempercayainya.
------------------------------
Assalamu'alaikum,

Adikku Nadia, maafkan kakak. kakak merasa tak ada yang bisa lagi kakak lakukan kecuali pergi. Apalah arti hidup ini jika keluarga sendiri sudah tidak lagi percaya kepada kakak. Kakak tidak tahuharus berbuat apa lagi agar kalian percaya bahwa kakak bukanlah maling.

Adikku Nadia, maafkan Kakak. Kakak pinjam dulu wangmu dua ratus lima puluh ribu di kamarmu. Sekali lagi kakak sampaikan kakak pinjam dulu. Sebab kakak tidak punya wang sama sekali. Kalau kau mahu tape recorder kakak di kamar bisa kaujual untuk mengganti. Jika tidak, maka suatu saat insya Allah kakak kembalikan.

Adikku Nadia, kakak tidak tahu apakah kakak akan jadilebih baik sesuai harapanmu. Ataukah kakak akan jadi lebih buruk. Bahkan kakak tidak tahujika nasib akhirnya mengharuskan jadi pencuri beneran. Seperti yang kalian yakini saat ini.

Adikku Nadia, ketahuilah, dan sampaikanlah kepada ayah, ibu dan kedua kakak kita, jika kakak akhirnya jadi pencuri maka sebenarnya yang membuat kakak jadi pencuri adalah kalian.Keluarga kakak sendiri. Karena kalian percaya kakak adalah seorang maling, seorang pencuri.

Adikku Nadia, maafkan seluruh dosa kakak. Juga sampaikan permohonan maaf kepada keluarga. Kakak tidak tahu akan kembali apa tidak. Yang jelas kakak akan mencari daerah yang tidak mengenal kakak sebagai maling, pencuri. Sedih dan sakit rasanya jika kakak terus disebut maling, pencuri.

Tak usah diharap kakak pulang. Kalau kalian mendengar kakak mati pun jangan datang menjenguk. Sebab kakak memang tidak pantas untuk jadi anggota keluarga Haji Bambang Hardjono, B.A. Pengusaha Batik Paling Kaya dan Paling Terhormat di Pekalongan.

Salam kakakmu,
Syamsul Hadi
------------------------------------------------------------
Nadia membaca surat dari kakaknya itu dengan
airmata bercucuran. la langsung berteriak-teriak
memanggil Mamanya. Sang Mama datang tergopohgopoh,
begitu membaca surat itu rasa keibuannya terbit.
la pun menangis. Namun Sang Ayah dan kedua kakak
Nadia malah geram dan marah.
"Kita harus cari Syamsul, Pa. Kelihatannya dia
memang tidak bersalah. Kita harus berdiri bersama anak
kita, Pa." Kata Bu Bambang.
"Iya, Pa. Kita bisa minta polisi mengusut kasus di
pesantren itu. Kalau Kak Syamsul tidak bersalah kan
berarti dia dianiaya." Tambah Nadia.
"Kalian ini, dasar perempuan, baru membaca surat
gombal kayak gitu saja berubah. Itu hanya akting si
Syamsul. Aku sudah tidak percaya lagi sama anak
brengsek itu!" Jawab Pak Bambang marah.
"Kita lihat saja dulu perkembangannya. Paling dua
hari lagi Syamsul juga pulang." Sahut kakak pertama.
"Iya Syamsul telah memilih jalannya. Dia sudah
dewasa. Sudah lulus SMA. Biarkan ini semua jadi
pembelajaran baginya." Imbuh kakak kedua.
Jika sudah demikian Bu Bambang dan Nadia tidak
bisa berbuat apa-apa. Hanya saja dalam hati Bu
Bambang berdoa semoga Syamsul anaknya baik-baik
saja, dan mau pulang kembali.
* * *
Sudah satu minggu Syamsul pergi. la mengelana di
Kota Semarang. Tidur dari masjid ke masjid. Makan
seadanya. Dengan berbekal ijazah SMA ia melamar
pekerjaan dari kantor ke kantor, pabrik ke pabrik, tapi
belum juga diterima. Sebab semua pabrik mensyaratkan
ada keterangan surat kelakuan baik dari kelurahan.
Berarti ia harus pulang. Dan itu yang tidak mau ia
lakukan.
Ia sudah berusaha mencari kerja, tapi tak juga dapat.
Akhirnya timbul dalam pikirannya, mungkin jalannya
untuk makan adalah dengan mencuri, mencopet dan
menjambret. Ia masih maju mundur melakukan hal itu.
Akhirnya ia nekat. Ia naik bus mini warna kuning jurusan
Mangkang-Penggaron. Sampai di Jrakah ia melakukan
aksi perdananya. Mencopet.
Dan.. .naas!
Korbannya waspada. la ketahuan. la langsung
lompat dari bus. Bus berhenti. Semua orang berterikteriak,
"Copet, copet!" Orang yang mendengar hal itu
langsung berlarian mengejarnya. la lari ke arah Ngaliyan.
Terus berlari. Sampai dekatkampus dua IAIN Walisongo,
ia tertangkap. la babak belur dihakimi massa. Untung
ada patroli polisi. Nyawanya diselamatkan oleh polisi.
Berita tertangkapnya dirinya di Ngaliyan masuk
koran terkemuka di Jawa Tengah, Suara Mahardika. Juga
masuk berita televisi. Untung ia tidak bawa KTP. KTP
dan semua barangnya ia titipkan pada seorang takmir
masjid tua di dekat Pasar Bulu. Ia mengaku bernama
Burhan. Dari Jakarta.
Keluarganya di Pekalongan membaca isi koran dan
melihat berita itu. Mereka tersentak. Bu Bambang
menangis, "Ia benar-benar jadi pencuri!"
Pak Bambang dan kedua kakaknya mengatakan,
"Sudahlah ia kita ikhlaskan. Untung dia memakai nama
samaran, jadi tidak mencemarkan nama keluarga."
Hanya Nadia yang tidak percaya.
"Saya yakin copet itu bukan Kak Syamsul. Itu orang
lain yang mirip Kak Syamsul," kata Nadia.
"Kamu itu masih bau kencur. Tahu apa masalah
dunia kriminal, Nadia!" Sengit kakak kedua.
Nadia tidak bisa menjawab. Dalam hati ia ingin
membuktikan bahwa anggapannya benar.
* * *

Sejak itu ia mendekam di penjara Polsek Semarang
Tugu. Ia satu sel dengan dua orang narapida yang
tertangkap karena mencuri sepeda motor. Dua narapidana
itu mengajaknya untuk bergabung dalam
komplotannya. Ia pura-pura mengiyakan, sebab ia takut
jadi bulan-bulanan mereka. Ia diberi tahu trik-trik
mencuri sepeda motor yang canggih. Juga trik-trik
mencuri rumah orang kaya.
"Di daerah Papandayan dan Candi, Semarang atas,
banyak rumah mewah. Jika kita berhasil menggasak satu
rumah saja. Kita bisa kaya mendadak." Kata napi
berkumis tebal.
Ia lalu diberi tahu peta daerah-daerah strategis untuk
beroperasi. Ia masihbimbangbagaimana meneruskan
hidup. Ia teringat cita-citanya. Ingin jadi mubaligh
ternama sekaligus pengusaha Muslim yang berhasil.
Maka setelah lulus SMA ia minta masuk pesantren sambil
kuliah. Ia memilih pesantren di Kediri. Waktu di SMA
memang ia agak nakal. Tapi dalam hati terkecil, citacitanya
adalah jadi mubaligh.
Dan kejadian di pesantren itu mengubah segalanya.
Ia teringat Burhan. Anak pengusaha dari Jakarta itulah
sumber petakanya. Ia dijebak Burhan, saat pesantren
sedang panas oleh kejadian beberapa pencurian. Uang
santri hilang. Ia jadi kambing hitam. Dan kini ia benarbenar
mendekam jadi pencuri.
Sudah satu minggu ia dipenjara. Ia mulai bosan.
Napi berkumis tebal berkata padanya,
"Kau tenang saja Bur. Minggu depan bos kami akan
datang. Dia akan menebus kami. Kau akan kami
usahakan ikut ditebus. Tapi konsekuensinya, kau harus
ikut memperkuat kami."
Ia mengangguk. Jika itu benar-benar terjadi, ia
memang benar-benar akan masuk di dunia hitam. Ia
berdoa semoga ada mukjizat yang mengeluarkannya
dari penjara. Tapi ia tidak bisa mengelak dari kejahatannya
mencopet. Ia diputuskan mendekam di sel selama
enam bulan. Satu bulan pertama ia akan menjalaninya
di Polsek Tugu. Dan ada kemungkinan dipindah ke
Penjara Kedungpane.
Siang itu ia baru saja menyantap jatahnya makan
siang. Seorang polisi datang dan membawanya keluar.
Di ruang tamu ia melihat seorang gadis berjilbab. Hatinya
berdesir. Nadia. Antara gembira dan sedih terbit dalam
hatinya. Gembira bertemu adiknya, sedih karena kini
adiknya tahu ia benar-benar seorang kriminil.
"Nadia!" Serunya pada adiknya.
Nadia menoleh ke arahnya. Kaget. Tidak percaya.
"Kau.. .kaubukanKakSs.. .s..." Nadia gagap tidak
percaya.
"Tenang. Aku kakakmu, Nadia."
Nadia menggeleng-gelengkan kepala dan menangis.
"Tidak.. .tidak.. .tidak, Kak!"
"Tenang Nadia, beri kesempatan aku bercerita. Mari
kitabicara dengan tenang."
Nadia duduk tenang. Airmatanya bercucuran.
"Kau sendirian, Nadia?"
Nadia mengangguk.
"Keluarga semua baik?"
Nadia kembali mengangguk.
"Apa mereka sudah tahu aku disel?"
"Begitu membaca koran Suara Mahardika dan
menonton berita di televisi mereka semua yakin yang
tertangkap adalah kakak, meskipun memakai nama
Burhan. Hanya aku yang tidak percaya, maka aku
kemari. Ternyata dugaanku salah. Kakak memang
seorang penjahat!"
Syamsul menangis.
"Maafkan aku Nadia. Demi Allah ini yang pertama
kali aku lakukan. Dan aku berharap yang terakhir
kalinya." Syamsul lalu menjelaskan perjalanan hidupnya
sejak pergi dari rumah sampai kehabisan uang. Dan
kejadian di Ngaliyan itu.
"Tolonglah aku, Adikku."
Nadia diam. Rasa kasihannya keluar setelah
mendengar cerita kakaknya.
"Hanya kau yang kuharapkan, Adikku.Tolonglah!"
"Bagaimana aku bisa menolongmu Kak?"
"Tebuslah aku biar aku bisa keluar dari sini."
"Berapa Kak?"
"Kau bawa kartu ATM?"
"Iya."
"Isinya berapa?"
"Tiga juta."
"Baik. Biar aku negosiasi dengan polisi dulu. Baru
kauambil uang di ATM ya."
"Baik Kak."
la lalu bernegosiasi dengan polisi. Karena ia sudah
belajar cara negosiasi dengan polisi, maka urusannya
mudah. Apalagi ia menyebut seorang nama yang ia
dapat dari kedua napi itu. Nama itu dikenal sebagai
beking para kriminal. Akhirnya ia bisa keluar dari penjara
dengan menebus cuma duajuta lima ratus.
Ia berterima kasih kepada adiknya. Dan ketika
adiknya mengajaknya pulang, ia tidak mau.
"Mereka pasti sudah tidak sudi melihat mukaku."
"Tenang, Kak. Mereka akan Nadia yakinkan bahwa
yang dipenjara itu bukan kakak. Tapi Burhan. Orang
yang mirip kakak. Mereka kan tidak tahu kalau kakak
sudahbebas. Kakak bilang saja tidak pernah dipenjara.
Nadia tidak akan membocorkan hal ini pada mereka.
la tetap tidak mau. Nadia memberinya uang lima
ratus ribu, lalu kembali ke Pekalongan dengan perasaan
sedih. Syamsulberharap akan menemukan cahaya yang
terang dalam hidupnya.
105
Syamsul merasa tidak bisa bertahan di Semarang.
la ingin mengadu nasib yang lebih baik di tempat lain.
Maka dengan bus ekonomi ia nekat pergi ke Jakarta
setelah mengambil barang-barangnya di masjid dekat
PasarBulu.
Sampai di Jakarta ia tak tahu harus berbuat apa. Ia
tiba di Lebak Bulus pagi buta. Bingung mau ke mana.
Setelah shalat Subuh ia berjalan-jalan di terminal melihatlihat.
Ia merasa karena terlanjur nekat maka ia harus
nekat. Akhirnya ia nekat naik angkot jurusan Parung. Ia
ingin mencari masjid. Ia ingin tinggal di masjid.
Sampai di Parung ia turun, lalu berjalan kaki mencari
masjid. Bertemu dengan sebuah masjid ia utarakan
keinginannya untuk tinggal.
"Mungkin saya bisa bantu-bantu menjaga dan
membersihkan masjid. Kebetulan saya dulu dari
pesantren." Katanya pada orang yang ada di masjid.
"Maaf Dik, kebetulan sudah ada yang tinggal di sini.
Dua orang malah. Juga dari pesantren. Sekarang sedang
kuliah di UIN Syarif Hidayatullah. Maaf kami tidak
nambah orang."
la kecewa. Berkali-kali ia temukan masjid. la
utarakan niatnya. Dan jawabannya mirip: tidak
menerima tambahan orang. Di masjid yang terakhir, saat
itu menjelang Ashar, dan dia sangat kelelahan, takmir
masjid menyarankan agar dia mengontrak rumah saja.
"Adik kan bisa mencari kerja. Tidak harus tinggal di
masjid. Adik cari saja kontrakan di dekat masjid ini. Kalau
kami perlu bantuan, Adik, kami bisa panggil Adik. Kalau
tinggal di masjid tidak bisa. Kamarnya cuma satu dan
telah ditempati Pak Ali, imam masjid ini, bersama isteri
dan anaknya. Gimana Dik? Nanti saya bantu cari yang
murah. Oh ya siapa tadi nama Adik?"
Pada bapak yang halus budi itu, ia tidak berani
berdusta,
"Nama saya Syamsul Pak."
"Ya jadi begitu saran saya Dik Syamsul. Oh ya nama
saya Abbas. Panggil saja Pak Abbas. Kebetulan saya
Ketua RT 2 di perumahan ini."
Akhirnya ia ikut saran Bapak itu. Ia mendapatkan
rumah satu kamar. Sewa per tahunnya dua juta. Ia
menggigitbibir.
"Saya cuma punya empat ratus ribu, Pak."
"Baik. Pemilik rumah ini mengatakan katanya bisa
dicicil empat kali. Sekali cicil berarti lima ratus ribu. Kamu
ada empat ratus, bagaimana kalau yang seratus ribu saya
usahakan. Adik bisa bayar kapan saja adik ada. Tapi
cicilan selanjutnya adik usaha sendiri."
"Saya pinjam tiga ratus ya Pak. Biar saya ada
pegangan bulan ini."
"Oboleh."
Jadilah ia menyewa rumah. Sejak hari itu ia tinggal
di sebuah perumahan tak jauh dari Parung. Ia mulai kenal
dengan masyarakat. Namun sudah satu bulan ia belum
juga dapat kerjaan. Uang pegangannya tinggal lima kali
makan. Ia bingung. Ia hams berbuat apa. Cicilan rumah
bulan depan juga belum ada. Akhirnya ia berkata pada
diri sendiri, "Aku haras nekat. Minta belas kasihan orang
itu mental pecundang!"
Hari itu ia naik anggot ke Lebak Bulus. Lalu naik
Kopaja yang sesak penumpang. Ia nekat mengamalkan
'ilmu' yang didapat dari dua napi saat ia dipenjara.
Berhasil! Seorang cewekberambutkeriting jadi korban.
Ia lalu beroperasi di bus yang lain. Berhasil! Seorang ibuibu
setengah baya berpakaian modis jadi korban.
"Kalau mencopet jangan terlalu tamak. Sehari dapat
dua itu bagus. Yang ketiga dan keempat biasanya hilang
konsentrasi." Ia teringat kata-kata napi berkumis tebal.
Ia merasa harus pulang. Sampai di kontrakan ia Wrung
hasil jarahannya.
Dari dompet cewek keriting cuma lima puluh ribu.
Tapi ada kartu ATM-nya. Dari dompet ibu-ibu setengah
baya modis, lumayan, enam ratus ribu. Semuanya
serarus ribuan, enam. Ada KTP dan SIM-nya. Ia ambil
uang itu, ia masukkan ke dalam dompetnya. Sementara
dompet korbannya ia simpan di laci almari.
Meskipun diliputi rasa berdosa ia merasa lebih
tenang. Malam harinya ia pergi ke pemilik rumah nyicil
kontrakan. Hari berikutnya ia melakukan hal yang sama.
Dapat cuma satu korban. Ia pulang. Ia tak mau ambil
risiko. Korbannya kali ini seorang cewek berjilbab modis,
kelihatannya mahasiswi. Ya, mahasiswi setelah ia lihat
ada kartu mahasiswanya. Cantik juga, katanya dalam
hati ketika melihat fotonya. Ada foto yang lain. Foto
mahasiswi itu dengan seorang pria. Mungkin pacarnya,
gumamnya. Ia terkesiap.
"Tunggu, agaknya aku kenal dengan lelaki ini."
Katanya. Ia amati dengan seksama, "Benar. Ini si Bajingan
Burhan itu. 0 jadi ini pacar atau calon isterinya yang
lain." Ia semakin yakin ketika membaca tulisan di balik
foto berukuran 6x8 itu.
"Silvie bersama Mas Burhan di Sby."
Ia tersenyum. Ia penasaran. Ia lihat KTP cewek itu.
"Ini saatnya perhitunganku berlaku." Ia ingat Burhan
sudah serius dengan Dalmayanti, santriwati dari
Tulungagung. Putri seorang kepala KUA. "Burhan ini
benar-benar buaya! Tidak bisa dibiarkan!"
Setelah mengambil uang dan KTP dari dompet
korbannya ia melangkah keluar sambil menenteng tas
ranselnya. Sekalian shalat Ashar ia hendak pinjam
kendaraan pada Pak Abbas. Ia ingin mencari alamat yang
ada di KTP itu yang kelihatannya tidak jauh dari tempat
ia tinggal. Cewek itu ringgal di Villa Gratia, Parung bagian
timur. Sementara dirinya ada di Parung bagian barat.
Bakda Ashar ia meluncur dengan sepeda motor Pak
Abbas. Tak lama ia temukan Villa Gratia itu. Perumahan
elite. Pintu masuknya dijaga satpam. Ia tak jadi masuk.
Ia terus saja jalan. Ia harus berpenampilan yang tidak
mencurigakan. Ia teringat di ranselnya ada kopiah putih
yang biasa ia pakai kalau shalat. Ia pakai kopiah itu baru
pakai helm. Ia lihat alamat rumah cewek itu. Jl.
Flamboyan 19. Ia tersenyum. Ia sudah mantap menghadapi
satpam. Ia kembali ke Villa Gratia.
Ketika mau masuk satpam menghentikannya. Ia
lepas helmnya, sehingga tampak ia pakai kopiah.
Seketika satpam bersikap lebih ramah.
"Mau ke mana Pak Ustadz? Ke rumah siapa?" tanya
satpam itu.
Ia tersenyum dalam hati. "Baru pakai kopiah saja
langsung dipanggil ustadz. Wah boleh juga ini, aku
ternyata bakat jadi ustadz juga." Batinnya.
"Mm. Saya mau ke Flamboyan 17." Jawabnya
mantap. Sengaja ia tidak bilang Flamboyan 19. Ia teringat
pada nasihat napi berkumis tebal, "Jangan pernah
mengatakan sasaran kita sebenarnya kepada siapapun
saat observasi! Termasuk ketika bertanya atau menjawab
pertanyaan."
"O mau ke rumah Pak Broto ya. Jadi si Kecil Dela itu
sudah mau ngaji ya Ustadz. Cepat sekali Pak Broto dapat
ustadz, padahal baru kemarin sore bilang ke saya." Kata
satpam itu.
"Iya. Alhamdulillah. Nanti kalau dengar ada yang
mencari guru ngaji bisa bilang saya ya." Ia tersenyum.
"Ya, insya Allah, Ustadz, tapi komisinynya, Ustadz."
"Beres, Pak."
Ia lalu masuk dengan tenang. Rumah-rumah di
perumahan itu mewah semua. Seperti istana. Ia masuk
Jalan Flamboyan. Rumah bernomor 19, luar biasa besar.
Dalam hati ia berkata, "Si Burhan bajingan itu beruntung
punya mertua tajir begird." Ia lalu mencari masjid.
Ketemu masjidnya juga mewah dan bagus. Ia teringat
kata-kata satpam tadi, "Jadi si Kecil Dela itu sudah mau
ngaji ya Ustadz. Cepat sekali Pak Broto dapat ustadz,
padahal baru kemarin sore bilang ke saya." Ia tersenyum.
Ia berharap Pak Broto belum menemukan guru
ngaji. Ia merasa harus nekat. "Mau nyopet aja perlu
nekat, masak mau ngajar ngaji tidak nekat. Tak ada
salahnya tho copet ngajar ngaji biar dosanya terhapus
dikit-dikit." Batinnya dalam hati.
Lalu dengan mantap ia memarkir sepeda motornya
di depan rumah di Jalan Flamboyan no. 17. Ia pencetbel.
Seorang pembantu wanita agak tua membuka pintu.
"Oh, Pak Ustadz. Mau ketemu siapa?"
"Pak Broto ada, Bu?"
"Ada. Silakan masuk Pak Ustadz."
Dengan tenang ia masuk. Tak lama seorang lelaki
gemuk bersarung dan berbaju koko keluar.
"Oh Ustadz. Di mana kita pernah bertemu ya Pak
Ustadz?" Pak Broto merasa kenal.
"Mungkin di suatu masjid. Saya juga lupa Pak Broto.
Gini Pak Broto langsung saja, ada yang memberitahu
saya, katanya Pak Broto perlu guru pri vat ngaji untuk si
Kecil Delia. Apa betul?" Syamsul menjawab dengan
sangat tenang.
"Benar Pak Ustadz. Sudah ada seorang guru ngaji
yang datang tadi pagi tapi saya tidak cocok, sebab dia
tidak ada background pesantrennya. Saya ingin guru
ngaji yang pemah belajar di pesantren."
"Kebetulan saya dulu pernah nyantri di Kediri. Asli
saya dari Pekalongan Pak Broto. Sekarang saya tinggal
di perumahan di Parung bagian barat."
"O ya...ya...ya. Alhamdulillah kalau begitu.
Semoga si Delia mau. Sekarang tinggal Della-nya mi. Oh
ya nama Pak Ustadz siapa ya? Saya lupa?"
Syamsul ingin tertawa. Belum pernah bertemu tapi
merasa sudah kenal. Kadang orang kaya itu aneh.
"Nama saya Syamsul, Pak Broto."
"O ya..ya...ya. Saya panggilkan Delia dulu. Biar
segera clear urusannya."
Pak Broto lalu masuk memanggil-manggil anaknya.
Tak lama, ia kembali keluar bersama anak putri berumur
enam tahun.
"Ini Dik Delia ya?" sapa Syamsul dengan ramah.
"Iya." Jawab Delia acuh tak acuh.
"Kenalkan nama kakak Syamsul, panggil Kak
Syamsul."
"Kak Syamsul mau jadi ustadz Delia ngaji ya?"
"Iya. Itu jika Delia mau berteman dengan Kak
Syamsul."
"Kak Syamsul bisa nyanyi nggak. Soalnya Delia
inginnya tuh ustadz Delia juga yang pinter nyanyi."
"Uda Delia ingin, Kak Syamsul nyanyi apa?"
"Coba Kak Syamsul nyanyi lagu daerah dari
Kalimantan!"
"Wah kalau itu mah kecil. Nih dengerin baik-baik
ya Delia:
Ampar-ampar pisang pisangku belum masak.
Masak bigi dihubung bari-bari.
Mangga lepak mangga lepak
Patah kayu bengkok..
Syamsul lalu menyanyi dengan semangat. Delia lalu
ikut bernyanyi. Begitu lagu selesai, Delia langsung
berkata pada ayahnya,
"Saya mau ayah. Kak Syamsul pinter."
Pak Broto tersenyum, "Ya sudah kalau begitu. Ayah
mau bicara sama Kak Syamsul dulu ya. Kamu masuk
sana!"
Delia lalu masuk dengan berlari dan berteriak, "Hore
aku puny a ustadz pinter nyanyi...!"
"Alhamdulillah Pak Ustadz. Seperti yang Ustadz
dengar sendiri. Delia mau. Terus kontrak kita bagaimana?"
"Saya ikut aturan bapak saja. Saya tidak meragukan
profesionalitas Pak Broto."
Kening Pak Broto berkerut.
"Hmm baiklah. Saya samakan dengan privat
pianonya Delia saja ya Ustadz?"
"Saya ikut. Tolong dijelaskan detilnya."
"Satu minggu empat kali pertemuan. Satu pertemuan
satu setengah jam. Sehingga satu minggu ada enam jam.
Satu jamnya saya hargai seratus ribu. Jadi satu minggu
enam ratus ribu. Dan satu bulannya dua juta empat ratus
ribu. Kalau ada jam tambahan maka harga per jamnya
seratus ribu. Begitu Ustadz, bagaimana?"
"Sepakat."
"Terus pengaturan jamnya bagaimana, Ustadz?"
"Begini saja. Pak Broto saja yang bikin dengan
melihat jam kegiatan Delia. Insya Allah habis ini saya ke
masjid. Saya shalat Maghrib di masjid perumahan ini,
Insya Allah. Setelah shalat kita bicarakan di masjid
iadwalnya. Bagaimana Pak?"
"Baik Pak Ustadz. Baik."
"Kalau begitu saya pamit dulu."
Syamsul meninggalkan rumah itu dan pergi ke
masjid. Sambil menunggu ia berbincang-bincang dengan
penjaga masjid. Ia banyak mendapatkan info yang
berharga. Termasuk tentang penghuni rumah no.19 Jalan
Flamboyan. Silvie ternyata mahasiswi jurusan ekonomi
UI. Silvie anak tunggal. Ayahnya seorang pengusaha di
bidang travel dan pariwisata. Namanya Pak Heru.
"Pak Heru itu bisa dikatakan yang paling kaya di
perumahan ini. Ia punya travel yang sudah punya
cabang di hampir seluruh kota besar di Indonesia. Cabang
travel-nya juga ada di Singapura, Malaysia dan Arab
Saudi." Begitulah penjaga masjid itu menerangkan.
"Hanya saja Pak Heru sedikit pelit. Kalau membantu
masjid sedikit. Masihbagusan Pak Broto yang tak pernah
hitungan kalau membantu."
Waktu Maghrib tiba. Jamaah berdatangan.
Penjaga itu yang azan dan iqamat. Saat shalat mau
didirikan penjaga masjid itu mempersilakan Syamsul
jadi imam. Syamsul ragu dan tidak mau. Tapi Pak Broto
yang sudah hadir memaksanya agar ia mau. Akhirnya
ia pun jadi imam. Dalam hati ia beristighfar sebelum
maju dan berkata, "Ya Rabbi apakah kau mau
menerima shalat hamba-hamba-Mu yang diimami
seorang pencopet?"
Ia shalat dengan membaca surat-surat pendek.
Bacaannya tartil. Satu tahun di pesantren cukup baginya
untuk membaca Al-Quran dengan baik dan benar. Usai
shalat ia berbincang-bincang dengan Pak Broto.
Kesepakatan-kesepakatan ten tang hari dan jam dengan
cepat tercapai. Di tengah asyiknya berbincang, Pak Heru
ikut nimbrung. Pak Heru bercerita tentang musibah yang
menimpa putrinya semata wayang,
"Sekali ini dia naik bus kota langsung kecopetan.
SIM, STNK, KTP, Kartu Mahasiswa hilang. Untung pas
tidak bawa ATM. Ia juga kehilangan empat ratus ribu."
Pak Broto diam mendengarkan. Demikian juga
Syamsul. Dalam hati Syamsul berkata, "Pak, si Copet
yang mencopet putri Bapak ada di depan Bapak."
Seorang jamaah yang mendengar dari kejauhan
mendekat sambil berkata, "Mungkin karena kurang
zakat kali, Pak."
"Masak? Kan tiap tahun harta saya sudah saya zakati
2,5 persen."
"Mungkin yang kurang infak shadaqahnya. Shadaqah
kan tolak balak. Bener nggak, Ustadz?"
Syamsul mengangguk.
Pak Heru terdiam. Syamsul harus minta diri pulang.
Sebab ia pinjam kendaraan Pak Abbas hanya sampai jam
delapan malam. Dalam perjalanan ia berniat untuk
taubat dan jadi manusia baik sungguhan.

****

Monday, November 17

Novel - Dalam Mihrab Cinta 'Takbir Cinta Zahrana 2'

HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY

Bumi terus berputar pada porosnya. Detik berkumpul
menjadi menit. Menit berkumpul menjadi jam. Jam
berkumpul menjadi hari. Minggu berkumpul menjadi
bulan. Ternyata sudah enam bulan Zahrana mengajar
di STM. Namun masalah utamanya belum juga selesai.
la belum juga mendapatkan jodohnya. Setelah mendapat
tawaran dari Pak Didik, sudah ada dua orang yang maju.
Tapi entah kenapa ia tidak sreg. Hatinya belum cocok.
Yang pertama dibawa oleh teman ayahnya. Seorang
satpam di sebuah Bank BUMN. Ia tidak lagi melihat
status. Satpam atau apapun tak jadi masalah. la tidak
sreg karena satpam itu tidak bisa membaca Al-Quran
sama sekali. Sekali lagi, tidak bisa membaca Al-Quran
sama sekali. Shalat juga dengan jujur diakuinya tidak
pernah lengkap. la hanya membayangkan akan jadi apa
anak-anaknya kelak jika ayahnya sama sekali tidak
mengenal Al-Quran. Dalam bahasa dia, buta Al-Quran.
Dan alangkah beratnya mengajari ngaji suaminya dari
nol. Juga mendisiplinkan shalatnya dari nol. Akhirnya
tanpa berpikir panjang ia lebih memilih menunggu yang
lain.
Orang yang kedua, yang maju melamarnya dibawa
oleh temannya sendiri, Wati. Seorang pemilik bengkel
sepeda motor. Duda beranak tiga. Status duda dengan
berapa anak juga sebenarnya tidak masalah baginya. Ia
tidak mungkin cocok dengan duda itu, karena ia telah
kawin cerai sebanyak tiga kali dalam waktu tiga tahun.
Tiga anak itu adalah hasil kawin cerainya dengan tiga
perempuan berbeda. Ia tidak mau jadi korban yang
keempat. Meskipun Wati mengatakan bahwa lelaki itu
telah insyaf. Ia ingin menikahi Zahrana sebagai isteri
yang terakhir. Karena ia tidak juga bisa menenangkan
batinya. Akhirnya ia tolak juga pemilik bengkel itu.
Datangnya lamaran silih berganti yang semuanya
ditolak oleh Zahrana itu membuat ibunya sempat marah.
"Kamu itu masih tinggi hati Rana! Perempuan tinggi
hati tak akan mendapatkan jodohnya!"
Ia menangis dimarahi ibunya begitu. Ia merasa
penolakannya itu ada landasan logika dan syariatnya
yang kuat. Ia menangis di pangkuan ibunya, dan minta
maaf jika belum bisa menjadi anak yang membahagiakan
orangtua. Ibunya, akhirnya luluh dalam tangis. Ayahnya
yang melihat hal itu juga menangis. Sang ayah berkata
sambil terisak,
"Saat pindah ke STM Al Fatah kamu bilang siapa
tahu jodohmu di pesantren. Coba datanglah ke Pak Kiai.
Coba kamu minta pada Pak Kiai untuk membantu
mencarikan. Mungkin kamu akan ditemukan dengan
santrinya!"
"Baiklah ayah, tak kurang ikhtiar saya. Untuk
menemukan yang saya idamkan baiklah saya akan
sowan ke tempat Bu Nyai dan Pak Kiai secepatnya."
Jawab Zahrana sambil mengusap airmatanya.
Esoknya ia nekat mengajak Lina, menghadap Bu
Nyai dan Pak Kiai. Ia mengajak Lina sahabatnya itu,
karena Lina dulu pernah nyatri di Pesantren ARIS
Kaliwungu selama satu bulan saja, yaitu selama bulan
Ramadhan. Lina tentu lebih tahu berdiplomasi dengan
Bu Nyai daripada dirinya yang sama sekali tidak pernah
nyantri.
Kedatangannya diterima Bu Nyai dengan wajah
menyejukkan. Bu Nyai Sa'adah Al Hafidhah adalah isteri
K.H. Amir Arselan, pengasuh utama Pesantren Al Fatah.
Bu Nyai ini umurnya lima puluhan tahun. Dulu
menghafal Al-Quran di Kudus. Dan di tangannya kini
telah lahir ratusan santriwati yang hafal Al-Quran. Saat
itu kebetulan Pak Kiai sedang pergi ke Rembang. Hanya
Bu Nyai yang menemui.
'Apa yang bisa Ummi bantu, Anakku? Oh ya siapa
namamu, Anakku?" tanya Bu Nyai.
"Nama saya Rana, Ummi. Lengkapnya Dewi
Zahrana. Kedatangan saya ke sini pertama untuk
silaturrahmi. Kedua untuk mohon tambahan doa dari
Ummi. Kebetulan saya ikut mengajar di STM Al Fatah.
Baru enam bulan ini Ummi." Terang Zahrana dengan
kepala menunduk.
"O begitu. Ya. Jadi kau guru baru di STM Al Fatah?"
"Iya, Ummi."
"Dulu nyantri di mana?"
Belum sempat Zahrana menjawab, Lina memotong,
"Zahrana ini belum pernah nyantri, Ummi. Tapi dia
hariannya seperti santri. Zahrana ini dari SMA. Terus
kuliah S.l di UGM dan S.2 di ITB Bandung, Ummi."
"Kalau begitu kamu hebat ya Zahrana. Bisa S.2 di
ITB. Jurusan apa?"
"Teknik Sipil, Ummi."
Bu Nyai hanya manggut-manggut.
Lina tahu bahwa Zahrana tidak berani mengungkapkan
maksud sebenarnya. Maka dengan tanpa
diminta ia lalu menjelaskan dengan sehalus mungkin
maksud utama kedatangan Zahrana ke pesantren. Bu
Nyai menjawab,
"Saya yakin tidak mudah mencari yang selevel
denganmu, Anakku. Jujur saja kalau misalnya ada
yang selesai S.2 umurnya sama denganmu dia akan
memilih yang lebih muda darimu. Lelaki itu umumnya
punya ego, tidak mau isterinya lebih pinter dan lebih
tua darinya. Tapi ya tidak semua lelaki lho. Sekali lagi
tidak mudah mencarikan jodoh yang pendidikannya
harus tinggi seperti kamu juga saleh. Kalau boleh tahu,
kalau strata pendidikannya tidak setinggi kamu
bagaimana?"
Zahrana mengerti maksud Bu Nyai. Segera ia
menjawab,
"Saat ini status, strata, kedudukan sosial, pendidikan
dan lain sebagainya tidak jadi pertimbangan saya Bu
Nyai. Saya hanya ingin suami yang baik agamanya. Baik
imannya dan bisa jadi teladan untuk anak-anak kelak.
Itu saja."
"Oo, baiklah kalau begitu. Besok kautelpon aku ya.
Nanti malam aku akan rembugan dengan Pak Kiai.
Semoga ada pandangan."
"Baik Bu Nyai."
Keduanya lalu pamitan setelah dipaksa Bu Nyai
menghabiskan minuman yang ada di gelas.
"Harus dihabiskan. Kalau tidak habis itu namanya
mubazir. Dan orang yang suka mubazir itu teman
akrabnya setan." Kata Bu Nyai serius.
Rana dan Lina hanya bisa manut saja. Mereka pulang
dengan hati diliputi rasa gembira. Bu Nyai Dah, atau
Ummi Dah, begitu para santri memanggilnya, ternyata
sangat halus tuturbahasanya, begitu perhatian dan begitu
menyenangkan. Wajar jika banyak santri yang mencintainya.
Pak Kiai pasti bahagia punya isteri sebaik dia.
* * *
Zahrana baru saja masuk kelas, ketika kepala
sekolah memanggilnya. Ia bertanya-tanya dalam hati,
"Ada apa sepagi ini kepala sekolah memanggilnya." Ia
bergegas ke ruang kepala sekolah dengan kepala berisi
tanda tanya.
"Bu Rana, saya baru saja ditelpon sama Bu Nyai Dah.
Beliau minta kau menghadap beliau sekarang juga."
Begitu kata kepala sekolah begitu ia sampai di ruang kerja
beliau. Zahrana langsung tahu kenapa Bu Nyai memanggilnya.
Ia langsung bergegas ke ndalem Bu Nyai Dah.
Bu Nyai Dah ternyata sudah menunggunya sambil
membaca Al-Quran. Begitu Zahrana sampai beliau
menghentikan bacaannya.
"Duduklah, Anakku."
Ia duduk dengan kepala menunduk.
"Begini, Anakku. Pak Kiai punya seorang santri yang
sudah tiga tahun ini meninggalkan pesantren. Dia santri
yang dulu sangat diandalkan Pak Kiai. Namanya Rahmad.
Pendidikannya tidak tinggi. Ia hanya tamat Madrasah
Aliyah. Tidak kuliah. Karena setelah itu dia mengabdi
di pesantren ini. Baik akhlak dan ibadahnya. Tanggung
jawabnya bisa diandalkan. Ia dari keluarga pas-pasan.
Anak kedua dari tujuh bersaudara. Pekerjaannya sekarang
jualan kerupuk keliling. Dia duda tanpa anak. Isterinya
meninggal satu tahun yang lalu karena demam berdarah.
Itulah informasi yang bisa aku berikan. Musyawarahkanlah
dengan kedua orangtuamu dan kerjakanlah shalat
Istikharah. Jika kamu ingin dan tertarik, beritahukan
Ummi. Nanti kita carikan jalan terbaik."
"Baiklah, Ummi. Terima kasih. Saya akan musyawarah
dan Istikharah dulu. Saya pamit dulu Ummi,
karena tadi kelas saya tinggalkan." Jawab Zahrana.
"Ya. Semoga barakah, Anakku!"
Zahrana berjalan ke kelas dengan telinga yang
mendengungkan apa yang disampaikan Bu Nyai:
"...Ia dari keluarga pas-pasan. Anak kedua dari tujuh
bersaudara. Pekerjaannya sekarang jualan kerupuk
keliling. Dia duda tanpa anak. Isterinya meninggal satu
tahun yang lalu karena demam berdarah...!"
Sambil berjalan ia menirukan ucapan Bu Nyai,
"Pekerjaannya sekarang jualan kerupuk keliling. Dia
duda tanpa anak. Isterinya meninggal satu tahun!"
"Hmm penjual kerupuk keliling. Apakah memang
takdirku jadi isteri seorang penjual kerupuk keliling?"
gumamnya sendiri.
Ada dialog yang cukup serius dalam dirinya.
"Tapi meskipun penjual kerupuk keliling. Ia adalah
orang yang baik akhlak dan ibadahnya. Tanggung
jawabnya bisa diandalkan. Toh aku sudah bilang pada
Bu Nyai bahwa status, strata, kedudukan sosial,
pendidikan dan lain sebagainya tidak jadi pertimbangan
lagi. Yang aku inginkan adalah suami yang baik
agamanya. Baik imannya dan bisa jadi teladan untuk
anak-anak kelak. Apakah aku harus mempersoalkan
pekerjaannya yang cuma penjual kerupuk keliling?"
Sampai di kelas ia tidak konsentrasi mengajar.
Akhirnya ia memberi pekerjaan kepada para siswa. Jam
ketiga ia ijin pulang ke rumah dengan alasan ada
kepentingan yang sangat penting berkaitan dengan
permintaan Bu Nyai. Jika alasannya Bu Nyai, tidak ada
yang berani membantah.
Sampai di rumah ia mengajak musyawarah ayah dan
ibunya. Keduanya mendorongnya untuk maju.
"Kemuliaan hidup seseorang itu tidak karena
pendidikannya atau pekerjaannya. Seseorang jika
dimuliakan oleh Allah akan juga mulia di mata manusia."
Demikian kata ibunya.
Ia mulai man tap.
Namun merasa masih belum cukup. Ia lalu menelpon
Lina. Dari jauh Lina menjawab,
"Dia kan lulusan aliyah. Nanti jika kalian sudah
menikah dan hidup mapan. Minta saja dia kuliah.
Dengan begitu dia akan selesai S.l dan jarak pendidikan
tidak terlalu jauh. Dan sebenarnya dengan dia mengabdi
di Pesantren bertahun-tahun dia telah mendapatkan
pelajaran hidup yang lebih matang dari mata kuliah di
Program Pascasarjana sekalipun. Sudah mantaplah Ran.
Pak Kiai dan Bu Nyai pasti berusaha mengarahkan yang
terbaik."
Mantap sudah hatinya. Niatnya sudah bulat. Untuk
semakin memantapkan ia pun Istikharah. Setelah
Istikharah rasa mantapnya semakin besar. Hari itu juga
ia menelpon Bu Nyai dan menjelaskan kemantapannya.
Bu Nyai menjawab,
"Baiklah coba jelaskan alamat rumahmu!"
"Saya tinggal di Perumahan Klipang Asri. Jalan
Madukara B-15."
"Besok satu hari penuh jangan ke mana-mana. Pak
Kiai akan meminta si Rahmad itu berjualan ke perumahan
di mana kau tinggal. Kau belilah kerupuk darinya,
dan kau boleh bertanya apa saja padanya. Biasa saja. Dia
tidak tahu apa-apa masalah ini. Dengan begitu kau bisa
tahu dengan jelas calon suamimu itu. Jika kau masih juga
mantap, maka bisa diteruskan. Jika tidak ya tidak apaapa."
"Baik Bu Nyai." Jawabnya.
Dari situ ia tahu betapa demokratisnya Bu Nyai.
Betapa bijaksananya Bu Nyai. Betapa Bu Nyai memang
tidak mau memaksa. Ia kemudian jadi takut. Janganjangan
ia yang nanti mau, tapi si penjual kerupuk itu
justru yang tidak mau dengan alasan minder dan lain
sebagainya. Ia mendesah nafas panjang. Biarlah waktu
yang menjawabnya, desahnya.
* * *
Hari berikutnya Zahrana benar-benar tidak ke manamana
sejak pagi. Hari itu ia ijin tidak mengajar demi
mengejar takdir. Ia menunggu di ruang tamu. Terkadang
juga di beranda. Sesekali ke jalan. Penjual kerupuk itu
tidak juga datang.
Jam sebelas siang seorang penjual kerupuk datang.
"Puk Kerupuk! Puk Kerupuk!" Suara penjual
kerupuk itu membahana. Hari Zahrana sedikit lega. Ia
menunggu. Suara itu semakin mendekat. Semakin
mendekat. Ia keluar ke beranda. Begitu penjual kerupuk
sampai di depannya, ia berteriak,
"Kerupuk Pak!"
Penjual kerupuk itu menghentikan langkah. Tempat
kerupuk yang dipikulnya ia turunkan. Zahrana
terperanjat. Sudah tua. Ia memperkirakan umurnya
mendekati lima puluh tahun. Kulitnya hitam legam
tersengat matahari. la hampir menangis.
"Iya Bu, beli berapa?"
"Tiga ribu Pak."
"Baik Bu."
Penjual kerupuk itu mengambil kerupuk dan
memasukkan ke dalam plastik lalu menyerahkan
kepada Zahrana. Zahrana mengeluarkan uang dua
puluh ribu.
"Ada yang kecilBu?"
"Aduh tak ada Pak."
"Aduh gimana ya Bu. Saya tak ada kembalian. Udah
ibu bawa dulu saja kerupuknya. Kapan-kapan kalau saya
lewat ibu bayar."
"E jangan Pak. Udah bapak bawa saja. Itu sedekah
saya untuk Bapak."
"Baik Bu kalau begitu. Matur nuwun ya Bu. Semoga
keinginan ibu dikabulkan Allah."
"Amin." Dalam hati Zahrana berdoa ingin suami
yang saleh dan pantas bagi dirinya.
Begitu penjual kerupuk itu pergi, Zahrana langsung
menghubungi Lina sambil menangis. la menceritakan
penjual kerupuk yang baru ditemuinya.
"Apakah dalam pandangan Pak Kiai dan Bu Nyai
saya memang pantasnya untuk penjual kerupuk yang
tua itu?" Nada Zahrana terdengar sedih.
"Tenanglah Rana. Kau sudah tanya sama Pak Tua
itu siapa namanya?"
"Tidak terpikir Lin. Sama sekali tidak terpikir bertanya
namanya tadi. Aku sudah shock duluan tahu penjual itu
sudah tua. Tidak seperti yang aku bayangkan."
"Ya sudah. Kalau begitu kau sabar saja. Yang jelas,
tidak mungkin Pak Kiai dan Bu Nyai tega menjerumuskanmu.
Ini kan masih siang. Kau tunggu saja. Aku yakin
yang dikirim Pak Kiai pasti baik. Pokoknya kamu jangan
ke mana-mana ya. Tunggu sampai malam datang. Mau
dapat suami saleh harus sabar ya." Lina berusaha
menenangkan dan menguatkan.
"Terima kasih Lin. Semoga yang kaukatakan benar."
Zahrana kembali menunggu. Nyaris satu hari penuh
Zahrana menunggu dengan perasaan sedih, jengkel,
marah juga berharap. Belum pernah ia sepegal itu. la
yang dulu pernah mendapatkan predikat mahasiswa
teladan UGM kini menunggu datangnya seorang penjual
kerupuk keliling. Begitu pentingnya penjual kerupuk itu.
Tapi inilah takdir hidupnya. Ia merasa ia harus sabar.
Sampai senja tiba, tukang kerupuk selain yang
pertama belum datang. Ia menangis. Jika benar, yang
dikirim Pak Kiai adalah Pak Tua tadi, maka ia merasa
menjadi perempuan paling menderita di dunia. Sampai
Pak Kiai dan Bu Nyai yang dia anggap orang yang
sangat arif pun, berpendapat bahwa ia pantasnya dengan
lelaki berkepala lima. Sudah sedemikian tidak berharganya
dirinya.
Ia masuk rumah. Lima belas menit lagi azan
Maghrib berkumandang. Ia cemas dan galau. Tak ada
penjual kerupuk yang datang kecuali Pak Tua tadi. Ia
bingung. Ia lemas. Ia keluar lagi. Berharap ada penjual
kerupuk lain yang datang. Penjual kerupuk seperti yang
ia bayangkan. Ia duduk di kursi beranda. Airmatanya
bercucuran,
"Ya Ilahi jika aku punya dosa, ampunilah dosaku.
Cukupkanlah ujian-Mu. Aku mohon mudahkanlah
jalanku menyempurnakan separo agamaku sesuai
syariat-Mu. Mudahkan diriku menyempurnakan ibadah
kepada-Mu."
Ia lalu bangkit masuk rumah lagi. Tak ada siapasiapa
di rumah. Ayah dan ibunya sedang ke rumah
sepupunya yang memiliki hajat sunatan di Pucang
Gading.
Baru saja masuk, ia mendengar suara nyaring,
"Kerupuk-kerupuk! Kerupuk Paak! Kerupuk Buu!"
Ia terperanjat dan bergegas keluar. Suaranya lebih
tegas dan lantang. Ia lari. Penjual kerupuk itu telah
melewati rumahnya. Ia melongok dari pagar. Penjual
kerupuk itu hanya tampak punggungnya. Ia naik sepeda
dan mengayuh sepedanya dengan cukup kencang.
Zahrana jadi penasaran. Dengan cepat ia nyalakan
sepeda motornya yang berdiri di beranda. Lalu melesat
mengejar. Tak perlu waktu lama agar penjual kerupuk
itu terkejar. Apa susahnya bagi sepeda motor untuk
mengejar sepeda. Ketika sudah dekat ia berteriak,
"Kerupuk, Mas!"
Penjual kerupuk itu menepi menghentikan sepedanya.
Ia melakukan hal yang sama. Penjual kerupuk itu
membuka topi lebarnya dan mengipas-ngipaskannya ke
tubuhnya. Semarang memang panas, meskipun hari
telah senja. Zahrana terperanjat. Masih muda dan
ganteng. Keringat yang mengalir, lengan yang kekar
terbakar matahari menambah pesona tersendiri. Sesaat
lamanya ia memandangi penjual kerupuk itu.
"Iya Bu, beli berapa?"
Ia tersadar.
"E...lima ribu."
Penjual kerupuk itu mengambil plastik hitam besar
dan memenuhinya dengan kerupuk.
"Ini Bu"
Ia mengambil kerupuk dan mengulurkan uang lima
puluh ribu.
Penjual kerupuk itu menerima uang itu dan menghitung
uang kembalinya.
"Ini kembalinya Bu. Empat puluh lima ribu rupiah."
Zahrana menerima dengan tangan kanannya.
Sementara tangan kirinya memegang kantong plastik
berisi kerupuk. Penjual bersiap melanjutkan perjalanan.
"E, Sebentar, Mas." Zahrana menghentikan.
"Ya Bu, ada apa? Apa uang kembalinya kurang?"
"Tidak kok Mas. Mau tanya, sudah lama jualan
kerupuk ya Mas? Kok kayaknya baru ke daerah ini."
"Iya Bu. Sudah lama. Saya memang baru kali ini
ke daerah ini. Biasanya saya beroperasi di daerah
Mranggen, Plamongan Indah, Pucang Gading dan
Penggaron saja,"
"O. Ini cari langganan baru ya?"
"Bisa ya, bisa tidak."
"Kok begitu."
"Biasanya dagangan saya sudah laku di timur, tidak
perlu sampai ke kampung ini. Saya jualan ke sini hanya
karena sendiko dawuh saja sama Pak Kiai. Pak Kiai saya
itu aneh, tiba-tiba saya diminta jualan di daerah ini, di
perumahan ini. Dan anehnya Pak Kiai bilang hari ini saja.
Besok-besok terserah."
Jantung Zahrana berdegup kencang. Azan Maghrib
mengalun.
"Boleh tahu, siapa nama Mas?"
"Nama saya Rahmad Bu. Sudah ya Bu saya jalan
dulu. Sudah Maghrib, saya harus cari masjid."
Penjual kerupuk itu mengayuh sepedanya ke arah
suara azan berkumandang. Zahrana memandang
punggungnya sampai hilang di kejauhan.
"Diakah jodoh yang ditakdirkan Allah untukku?"
tanyanya dalam hari.
Ia lalu kembali ke rumahnya. Sampai di rumah ayah
ibunya sudah ad a di rumah.
"Dari mana Rana? Ini rumah ditinggal pergi tapi
pintu terbuka tak dikunci? Jangan sembrono kamu!"
tegur ibunya serius.
"Dari mengejar penjual kerupuk Bu. Wong cuma
sebentar kok." Jawab Zahrana tenang.
"Penjual kerupuk yang dikirim Bu Nyai itu?" tanya
ibunya dengan mata berbinar.
"Iya Bu."
"Bagaimana orangnya? Ganteng? Kau cocok?"
"Ah ibu itu lho semangat banget. Yang jelas orangnya
baik. Yang lain nanti kita musyawarahkan!"
"Iya. Iya. Baik."
Zahrana lalu masuk kamarnya untuk siap-siap shalat
Maghrib. Sebelum ia mengambil air wudhu hpnya
berdering. Sebuah SMS masuk. Ia buka,
"Ass wr wb. Bu ini Hasan. Alhmdulillah tadi sy sdh
wisuda. Dan alhmdulillah sy dinobatkan sbg mhsw
terbaik. Ini jg berkat doa dan bimbingan Ibu. Trm ksh
sdh mmnjami referensi dll. Mhn doanya. Wassalam."
Ia tersenyum. Ia bahagia membaca SMS itu.
Bagaimana tidak bahagia jika ada seorang murid yang
berhasil tidak lupa pada gurunya. Ia teringat saat dulu
diwisuda di UGM dan menjadi lulusan terbaik di
Fakultasnya. Saat itu ia sangat bahagia. Dan itu pula
yang saat ini sedang dirasakan mahasiswanya, Hasan.
Ia teringat Nina. Bagaimana dengan Nina? Nina
tak kalah hebatnya dengan Hasan. Tiba-tiba ia
tersenyum simpul. Hasan dan Nina itu cocok. Kalau
mereka menikah itu pas. Hasan ganteng, Nina cantik.
Sama-sama aktivis. Sama-sama cerdas dan bisa
diandalkan.
Setelah Zahrana melakukan kroscek pada Bu Nyai,
memang penjual kerupuk yang masih muda itulah yang
dimaksud Pak Kiai. Umurnya 29 tahun. Jadi lebih muda
empat tahun dari Zahrana. Setelah memikir dan
menimbang tiga hari lamanya Zahrana merasa cocok.
Ayah dan ibu Zahrana pun cocok.
Barulah setelah itu Pak Kiai dan Bu Nyai mempertemukan
dua keluarga. Mulanya si Rahmad merasa
minder. Tapi Pak Kiai berhasil meyakinkan Rahmad
untuk tidak minder. Pada Rahmad Pak Kiai berkata,
"Zahrana ini, meskipun berpendidikan tinggi tapi ia
rendah hati. Yang jadi pertimbangan Zahrana dalam
mencari suami bukan materi, status, strata, kedudukan
sosial, pendidikan dan lain sebagainya. Yang jadi
pertimbangan Zahrana adalah agama, iman dan akhlak.
Insya Allah, ia gadis salehah yang mampu menghormati
suaminya. Jadi kamu jangan minder!"
Akhirnya Rahmad juga menyatakan cocok. Jadilah
dua keluarga itu cocok. Saat musyawarah dua keluarga
itu, Zahrana mengutarakan keinginannya untuk
mempercepat pernikahannya. Usul Zahrana diterima
dengan penuh semangat oleh dua keluarga.
"Semakin cepat semakin baik. Insya Allah semakin
cepat juga semakin barakah!" Demikian Pak Kiai
berkomentar.
Dan ditetapkanlah hari H pernikahan Rahmad
dengan Zahrana dua minggu setelah pertemuan itu. Dua
keluarga itu langsung didera kesibukan menyiapkan
pesta pernikahan itu. Karena Zahrana anak tunggal, Pak
Munajat ingin semua teman lama dan saudara diundang.
Dengan kerja keras, dalam waktu relatif singkat
undangan pernikahan tersebar. Zahrana mengundang
semua temannya. Yang tidak bisa dikirimi undangan
diberitahu lewat email dan SMS . Ia juga mengundang
mahasiswanya yang ia kenal. Mereka ia undang lewat
SMS. Para mahasiswanya mengirim balasan dengan
nada sangat gembira dan memastikan mereka datang.
Namun dua orang mahasiswa yang ia harapkan datang,
yaitu Nina dan Hasan malah tidak bisa datang.
Nina mengirim balasan:
"Trm ksh Bu atas undangannya. Smg prnikhnnya
barakah. Maaf sy tdak bisa datang sbb pada hari yang
sama saya jg akan melangsungkn akad nikah di Jkt.
Saling mendoakan ya Bu. Nina."
Ia bahagia, Nina langsung menikah begitu selesai S.l.
Tapi sedikit kecewa karena Nina tidak menikah dengan
Hasan. Seperti yang ia idealkan. Ia langsung sadar, ideal
di mata manusia itu berbeda dengan ideal di mata Allah
Swt.
Sementara Hasan mengirim balasan,
"Smg prnkhan Ibu pnh barakah. Maaf sy tdk bs
datang Bu. Sbb hari itu saya hams mengurus beasiswa
S.2 USM (Universiti Sains Malaysia). Motion doanya."
Kabar yang membuatnya bahagia. Mahasiswa
penuh dedikasi seperti Hasan memang pantas mendapatkan
beasiswa. Dalam hati ia berdoa semoga semua
mahasiswanya berhasil dan sukses.
Tak ketinggalan ia juga mengundang temantemannya
sesama dosen waktu mengajar di kampus
Fakultas Teknik. Semua ia undang termasuk Bu Merlin.
Hanya Pak Karman yang tidak. Ia tak ingin hari
bahagianya rusak dengan melihat bandot tua yang tidak
ia suka itu.
Namun mau tidak mau Pak Karman tahu juga kabar
itu. Dan ia juga tahu bahwa hanya ia seorang di kampus
yang tidak diundang. Hal itu membuatnya marah dan
geram.
"Jangan sebut aku ini Karman jika tidak bisa
memberi pelajaran pahit pada perempuan tengik itu!"
Geramnya sambil memukul meja di ruang kerjanya.

***

Hari pernikahan Zahrana semakin dekat. Zahrana
telah memilih gaun pengantinnya. Gaun pengantin
Muslimah hijau muda yang sangat anggun. la memang
suka warna hijau muda. Gaun pengantin itu ia beli dari
butik Muslimah terkemuka di Solo.
Sore itu, ia mencoba gaun itu di kamarnya. Sambil
memandang wajahnya ke cermin ia berkata,
"Akhirnya aku akan jadi pengantin juga. Aku akan
punya suami. Aku akan hidup membina rumah tangga
layaknya yang lain."

Hatinya berbunga-bunga. la bahagia. Jika boleh
meminta ia masih ingin meminta akad nikah dan
walimatul ursy-nya. dipercepat lagi saja. Ia ingin segera
mengatakan pada dunia bahwa ia juga berhak hidup
wajar seperti yang lainnya. Hidup berkeluarga. Memiliki
suami yang baik dan setia. Dan kelak memiliki anakanak
yang menjadi penyejuk jiwa.
Tiba-tiba hp-nya. berdering. Satu SMS masuk,
"Apa kabar perawan tua? Jika kau telah beli gaun
pengantin. Sebaiknya kaukembalikan saja. Kau tak akan
memakainya di hari pernikahan yang telah kautentukan.
Kau masih akan lama menyandang statusmu sebagai
perawan tua. Bukankah jadi perawan tua itu indah. Tiap
saat dilamar banyak orang dan bisa dengan semenamena
menolaknya. Kenapa kau tidak menikmatinya saja?
Kenapa tergesa-gesa? Demi kebaikanmu sendiri,
sebaiknya kaukembalikan saja gaun pengantinmu itu.
Jadilah perawan tua selamanya."
Ia kaget. SMS berisi kata-kata teror itu muncul lagi.
Entah kenapa, kali ini ia tidak setenang dulu menghadapai
SMS teror itu. Kali ini ia sangat marah. Rasanya
ia ingin membunuh orang yang mengirim SMS kurang
ajar itu. Dengan sangat geram ia membalas,
"Semoga laknat Allah mengenaimu hai iblis tua!
Semoga kau menemui ajalmu dalam keadaan hina di
mata manusia!"
* * *
Persiapan perhelatan akad nikah dan walimatul ursy
di rumah Zahrana nyaris sempurna. Besok acara
pernikahan itu akan berlangsung. Rumah itu kini ramai
dengan orang. Anak-anak kecil berlarian main kejarkejaran.
Pengeras suara telah dipasang. Lagu-lagu khas
pesta pernikahan dinyalakan. Sore itu syair lagu dari
group kasidah Nasyida Ria berkumandang,
Duhai senangnya pengantin baru.
Duduk bersanding bersenda gurau.
Zahrana tersenyum. Besok ia akan mengalaminya.
Duduk bersanding dengan suaminya. Zahrana ingin
membantu kaum ibu di dapur menyiapkan segala
sesuatu. Tapi mereka meminta Zahrana istirahat saja.
Maka setelah shalat Isya ia langsung tidur, agar besok ia
benar-benar fresh dan segar.
Lagu-lagu bahagia masih mengalun. Di luar
kamarnya kesibukan terus berjalan sebagaimana
mestinya. Anak-anak kecil tertawa-tertawa bahagia.
Mereka berlarian sambil memegang kue di tangannya.
Zahrana tidur dalam kebahagiaan tiada terkira. Lagu
yang terakhir ia dengar adalah alunan suara Nasyida
Ria,
Duhai senangnya pengantin baru.
Duduk bersanding bersenda gurau.
Ia benar-benar tidur pulas dan nyenyak. Jam
setengah tiga malam ia dibangunkan. Tidur bahagianya
hilang. Ia kaget ada keributan. Ibunya menangis
menjerit-jerit seperti orang kesurupan. Bapaknya terpekur
di kursi seperti patung. Linalah yang membangunkannya.
"Ada apa ini Lin?" tanyanya heran. Ada kecemasan
luar biasa yang tiba-tiba masuk dalam hatinya.
Lina yang ia tanya malah menangis.
"Rahmad Rana? Rahmad calon suamimu Rana!"
"Ada apa dengan Rahmad?"
Lina tidak menjawab malah semakin keras terisakisak.
Paman Rahmad yang ternyata ada di situ menjawab,
"Rahmad telah tiada, Anakku! Rahmad meninggal
dunia!"
"Apa!!?" Ia kaget bagai tersengat listrik beribu-ribu
volt.
"Rahmad mati tertabrak kereta api!" lanjut Paman
Rahmad.
"Oh tidak! Tidak! Tidaaak!" Zahrana menjerit
histeris. Jeritannya menyayat hati siapa saja yang
mendengarnya. Setelah itu ia pingsan seketika.
Semua yang ada di rumah itu terpukul. Para
tetangga Zahrana yang mengetahui apa yang sesungguhnya
terjadi ikut sedih dan meneteskan airmata.
Para tetangga itu lalu bertanya satu-sama-lain,
"Kenapa ini bisa terjadi? Bagaimana Rahmad bisa
tertabrak kereta api? Di malam menjelang akad nikah,
bukankah sebaiknya ia di rumah saja istirahat? Kenapa
bisa sampai tertabrak kereta api? Apa yang ia lakukan
sebenarnya?"
Paman Rahmad menjelaskan,
"Habis shalat Maghrib tadi ada yang menelpon
hpnya. Katanya teman lama ingin bertemu di Pasar
Mranggen. Rahmad minta temannya itu datang ke
rumah saja. Tapi temannya itu mengatakan tidak bisa.
Temannya itu memaksa Rahmad pergi menemuinya.
Karena berkaitan dengan bisnis yang sangat pen ting. Dan
Rahmad akan diajak sedikit mengetahui prospeknya.
Akhirnya Rahmad pergi. Sekalian beli peci baru.
Sebenarnya keluarga melarang, tapi Rahmad memaksa
pergi. Ia memaksa pergi sendirian. Saudara sepupunya
mau ikut bersamanya tapi dilarangnya dengan alasan
tenaga saudara sepupunya itu sangat dibutuhkan di
rumah.
Sampai jam sepuluh malam Rahmad belum juga
pulang. Sebagian orang cemas, sebagian yang lain
marah, Rahmad tidak segera pulang malah begadang
dengan temannya yang tak dijelaskan siapa.
Tepat tengah malam tadi dua orang polisi datang.
Mereka memberitahu ada mayat tertabrak kereta api,
dan dari KTP di dompetnya diketahui bernama Rahmad.
Sebagian orang memastikan ke tempat kecelakaan. Dan
benar mayat yang berlumuran darah itu memang
Rahmad."
Mendengar cerita itu semua diam. Semua membisu.
Semua larut dalam kesedihan yang dalam. Zahrana
masih pingsan.
***
Pagi harinya bukan pesta pernikahan yang digelar
tapi upacara belasungkawa kematian. Tak ada lagu
bahagia. Tak ada senyum dan canda. Tak ada gelak tawa.
Yang ada adalah mata yang berkaca-kaca dan rinai tangis
dalam jiwa.
Zahrana belum bisa menerima apa yang terjadi. la
masih pingsan berkali-kali. Lina berinisiatif membawa
Zahrana ke rumah sakit. Zahrana harus dijauhkan dari
suasana yang masih diselimuti sedih itu. Zahrana harus
dijauhkan dari rumahnya, di mana ia siap melangsungkan
akad nikah, namun tiba-tiba menciptakan trauma
baginya.
Lina membawa Zahrana yang masih pingsan ke RS.
Roemani. Lina memilihkan kamar VIP agar Zahrana bisa
beristirahat dengan nyaman. Menjelang Zuhur Zahrana
siuman. Lina ada di sampingnya menenangkan. Setelah
minum air putih tiga teguk Zahrana menangis.
"Lebih baik aku mati saja Lin. Aku nyaris tidak
kuat!" katanya dalam pelukan Lina dengan terisak-isak.
"Sebut nama Allah ya Rana! Sebut nama Allah!
Ingatlah Allah! Bersabarlah! Mintalah kepada Allah agar
musibah ini diberi ganti yang lebih baik." Lina mencoba
menguatkan.
"Tapi aku bisa gila Lin. Aku bisa gila! Aku shock!
Daripada aku gila lebih baik aku mati saja!"
"Tidak, kau tidak akan gila. Kau akan baik-baik saja.
Percayalah ini ujian dari Allah untuk memilihmu menjadi
kekasih-Nya."
"Tak tahu aku harus bagaimana Lin."
"Sudahlah kau istirahat dulu. Tubuhmu sangat
lemah. Banyaklah berzikir. Dengan banyak berzikir hati
akan tenang!"
Dengan setia Lina menemani Zahrana. Segala usaha
ia kerahkan untuk menghibur teman karibnya itu.
"Anakmu bagaimana Lin, kalau kau di sini?" tanya
Zahrana.
"Tenang sudah ada yang mengurus. Anakku sedang
bersama kakek dan neneknya di Ungaran."
Tiba-tiba airmata Zahrana kembali keluar.
"Bahagianya punya anak. Kau beruntung Lin.
Punya suami baik. Anak lucu-lucu. Keluarga besar yang
penuh kasih sayang. Sementara aku. Jangankan anak.
Suami saja tidak punya. Baru mau punya sudah pergi...."
Kata Zahrana sambil menangis memandang langit-langit
kamar rumah sakit.
"Sudahlah Rana. Sudahlah. Hanya belum tiba
saatnya saja. Nanti kalau tiba saatnya kau insya Allah
akan memiliki yang lebih baik dari yang aku miliki."
"Entahlah Lin, harapanku sudah pupus. Aku merasa
tidak bergairah hidup lagi."
"Tidak Rana. Kau tidak boleh pupus harapan.
Ingatlah Allah Mahaluas kasih sayang-Nya. Percayalah
ini cuma ujian kecil. Masih banyak hamba
Allah di muka bumi ini yang diuji dengan ujian yang
jauh lebih besar dari yang kaualami. Ayolah Rana,
kau harus tabah! Kau harus tegar! Kau harus kuat!
Kau harus terus maju! Kau tak boleh menyerah. Putus
asa berarti kau menyerahkan dirimu dalam perangkap
setan!"
"Yah doakan aku ya Lin. Semoga aku kuat. Tapi
bagiku ini sangat berat!"
"Aku tahu ini berat, tapi aku yakin kau mampu
menghadapinya Rana. Aku yakin."
"Aku beruntung punya teman sepertimu Lina.
Terima kasih ya Lin...Kau baik sekali!" Lirih Zahrana
dengan mata berlinang-linang.
"Aku juga sangat beruntung punya teman sepertimu
Rana. Aku banyak belajar kesabaran dan ketegaran justru
darimu. Aku selalu berdoa agar kau bahagia."
Pintu diketuk. Seorang dokter berjilbab masuk.
Dengan ramah dokter setengah baya itu memeriksa
kondisi Zahrana. Semua keluhan Zahrana ia dengarkan
dengan penuh perhatian. Sesekali dokter itu menghiburnya
dengan perkataan yang lembut dan menyejukkan.
Senyumnya mengalirkan kesembuhan.
"Jadi, ibu ini Ibu Zahrana yang pengajar di Fakultas
Teknik Universitas Mangunkarsa itu?"
Zahrana mengangguk.
"Berarti ibu kenal dengan anak saya ya?"
"Siapa nama anak Bu Dokter?"
"Namanya Hasan. Hasan Baktinusa."
"O kenal. Bahkan sangat kenal. Selamat ya Bu atas
diwisudanya Hasan sebagai wisudawan terbaik. Salam
buat Hasan. Semoga urusan beasiswanya lancar."
"Ya nanti saya sampaikan. Hasan sering sekali cerita
tentang Bu Zahrana. Terima kasih telah banyak
membantu anak saya."
"Sama-sama, Bu."
Pertemuan dengan dokter berjilbab yang ternyata
ibundanya Hasan itu membuatnya seolah bisa bernafas.
Dokter berjilbab itu juga bisa menyegarkannya dengan
sedikit cerita masa mudanya yang sebenarnya mirip
dengan Zahrana. Bu dokter bernama Zulaikha, biasa
dipanggil Bu Dokter Zul itu ternyata juga menikah dalam
usia yang sangat terlambat.
"Yang sudah terjadi biarlah berlalu. Diratapi seperti
apapun tak akan kembali. Jodoh itu terkadang dikejarkejar
tidak tertangkap. Tapi terkadang tanpa dikejar
datang sendiri. Yang paling penting adalah dekat dengan
Allah dalam keadaan susah dan bahagia. Senang dan
sedih."
Zahrana seperti mendapatkan suntikan darah segar.
Daya hidupnya tumbuh kembali. Dalam hati dia berkata,
"Ya benar. Yang sudah terjadi biarlah berlalu. Diratapi
seperti apapun tak akan kembali."
Sebelum pergi Bu Dokter itu berkata, "Ada nasihat
sangat bagus sekali dari Anton Chekov."
"Apa itu Bu?" tanya Zahrana pelan.
"Anton Chekov pernah menulis, 'Suatu saat kamu
perlu untuk tidak memikirkan kesuksesan dan kegagalan.
Jangan biarkan hal itu mengganggu dirimu!' ."
"Nasihat yang baik sekali Bu."
"Ya. Tidak ada salahnya untuk memperkaya jiwa
kaubaca juga karya-karya sastra."
"Terima kasih Bu atas semuanya."
* * *
Derita Zahrana ternyata tidak cukup sampai di situ.
Tanpa sepengetahuannya, di rumahnya terjadi musibah
kedua. Pak Munajat, ayahnya, yang memang telah renta
tidak kuat menahan tekanan batin. Ia terkena serangan
jantung. Dengan cepat ia dilarikan ke rumah sakit.
Namun tak tertolong. Nyawanya melayang di perjalanan.
Hari itu ia meninggal menyusul calon menantunya.
Berita kematian Pak Munajat tidak disampaikan
kepada Zahrana. Zahrana baru tahu setelah ia pulang
dari rumah sakit dengan jiwa yang telah kukuh.
Mengetahui ayahnya telah tiada ia menangis, namun
tidak sampai pingsan. Lengkap sudah penderitaan
Zahrana.
Berita pernikahan yang tidak jadi karena pengantin
lelakinya tertabrak kereta api itu dimuat koran
terkemuka Jawa Tengah, Suara Mahardika. Kematian
Rahmad yang mengenaskan masih diselidiki polisi. Polisi
menyelidiki saksi-saksi. Polisi mencurigai orang yang
menelpon Rahmad. Orang itu belum juga ditemukan
dan masih dalam pencarian.
Beberapa hari setelah itu teman-temannya berdatangan
mengucapkan bela sungkawa. Juga temanteman
dosen Fakultas Teknik. Hampir semuanya datang.
Termasuk Bu Merlin dan Pak Karman. Zahrana sangat
kaget ketika Pak Karman datang. Di hadapan Zahrana
Pak Karman berkata pelan sekali,
"Saya ikut berduka. Semoga almarhum berdua
diterima di sisi-Nya. Saya berharap semoga gaun
pengantinmu benar-benar telah kaukembalikan ke Solo!"
Zahrana tersentak. Kata-kata Pak Karman bagai
aliran listrik yang menyengatnya. Kata-kata itu
menguatkan keyakinannya bahwa yang menterornya
selama ini adalah Pak Karman. Dan bagaimana bisa Pak
Karman tahu ia membeli gaun pengantin itu dari Solo.
Tiba-tiba firasatnya mengatakan kematian calon
suaminya ada hubunganya dengan SMS terakhir Pak
Karman. Dan pada hakikatnya, kata-kata Pak Karman
yang baru saja ia dengar adalah satu bentuk teror dahsyat
yang hendak melumpuhkannya saat itu. Tiba-tiba
kekuatannya bangkit. Ia merasa tidak boleh terpancing.
Ia harus bisa mengendalikan diri. Ia harus menang. Ia
harus tenang.
"Terima kasih berkenan datang Pak." Jawabnya
dengan pura-pura tidak memperhatikan perkataan Pak
Karman.

***

Entah kenapa firasat Zahrana terus mengatakan
bahwa Pak Karman ada di balik kematian calon
suaminya. la ingin lapor polisi, jangan-jangan orang
misterius yang menelpon calon suaminya sebelum
kecelakaan itu adalah Pak Karman, atau suruhannya.
Tapi ia tidak punya bukti. la bingung harus berbuat apa.
la diskusikan kebingungannya itu pada Lina. Hanya Lina
yang kini bisa diajaknya bicara.
"Aku yakin sekali Lin. Iblis tua itu ada di balik
kematian Mas Rahmad. Aku yakin!" kata Zahrana
berapi-api. Lantas ia menunjukkan data-data yang
menguatkan dugaannya itu. Lina menanggapinya
dengan kepala dingin,
"Sudahlah Rana. Jangan menambah rumit masalah. Jangan
merepotkan diri sendiri. Jangan menuduh tanpa bukti!
Salah-salah kau sendiri yang tertuduh nanti!"
"Data-data tadi. SMS saat aku mencoba gaun
pengantin. Perkataannya saat mengucapkan bela sungkawa.
Dan dendamnya kepadaku sehingga ingin memecatku,
tidak bisa dianggap sebagai bukti?" seru Zahrana.
"Aku bukan pakar hukum Rana. Tapi sebaiknya kau
fokus pada yang lain saja. Diikhlaskan saja. Orang yang
ikhlas itu pasti menang. Karena orang yang ikhlas itu
selalu disertai Allah." Sahut Lina pelan. Ia lalu mengambil
koran dari tasnya.
"Apalagi polisi sudah mengumumkan bahwa
kematian Rahmad murni karena kecelakaan. Coba
kaubaca ini baca!" lanjut Lina sambil menyodorkan
koran Suara Mahardika.
Zahrana mengambil koran dari tangan Lina. Dan
membaca berita yang dimaksud Lina. Ia menghela nafas
panjang. Ada rasa kecewa dalam tarikan nafasnya. Lina
menangkapnya. Lina berusaha menghibur,
"Sudahlah Rana, sabarkan dirimu. Kuatkan imanmu.
Ini ujian bagimu dari Allah, apakah kau jadi hamba-
Nya yang pilihan apa tidak. Kata Rasulullah, semua
perkara bagi orang Mukmin itu baik. Jika dapat nikmat
bersyukur, dan jika dapat musibah bersabar. Semoga
musibah ini jadi pahala." Lanjut Lina.
"Sebaiknya kautenangkan diri. Nanti ikhtiar lagi."
Zahrana mengangguk. Dalam hati Zahrana bertekad
untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah.
Ia teringat perkataan Bu Nyai saat memberikan ucapan
bela sungkawa,
"Kita semua milik Allah dan akan kembali kepada
Allah. Kita semua tunduk pada takdir-Nya. Yang Paling
berkuasa di atas segalanya adalah Allah Swt."
Sejak itu, Zahrana nyaris tidak pernah meninggalkan
shalat malam. Ia labuhkan segala keluhkesah
dan deritanya kepada Yang Maha Menciptakan.
Ia pasrahkan dirinya secara total kepada Allah. Dalam
keheningan malam ia berdoa,
"Ya Rabbi, ikhtiar sudah hamba lakukan, sekarang
kepada-Mu hamba kembalikan semua
urusan. Ya Rabbi, aku berlindung kepada-Mu dari
semua jenis kejahatan yang terjadi di atas muka bumi
ini. Ya Rabbi, aku memohon kepada-Mu segala
kebaikan yang Engkau ketahui. Dan aku berlindung
kepada-Mu dari segala hal buruk yang Engkau
ketahui."
* * *
Bulan Ramadhan datang. Zahrana semakin menikmati
ibadahnya. Selesai Tahajjud, Zahrana menyiapkan
sahur. Ibunya masih tidur. Begitu semua siap, Zahrana
membangunkan ibunya dengan penuh kelembutan.
Sang ibu lalu cuci muka, kemudian makan sahur.
Rumah itu terasa begitu sunyi. Hanya Zahrana dan
ibunya yang duduk di meja makan itu.
"Ramadhan tahun lalu, kita masih makan sahur
bersama ayahmu ya Nak."
"Iya Bu. Sudahlah Bu jangan diingat itu lagi."
"Apakah aku masih berkesampatan melihat kau
duduk di pelaminan ya Nak."
"Sudahlah Bu. Kita serahkan semuanya kepada Allah.
Jika Allah menghendaki apapun bisa terjadi."
Selesai sahur Zahrana membaca Al-Quran sementara
ibunya shalat. Begitu azan Subuh berkumandang
mereka berdua pergi ke masjid. Selain untuk shalat
Subuh berjamaah mereka juga ingin mendengarkan
Kuliah Subuh yang diadakan selama Bulan Suci
Ramadhan.
Habis dari masjid Zahrana mengajak ibunya
berjalan-jalan menghirup udara pagi keliling komplek
perumahan. Mereka berdua masuk rumah ketika
matahari sudah terang bersinar di ufuk. Zahrana
langsung mandi dan bersiap-siap mengajar.
Jam tujuh kurang sepuluh menit ia sudah sampai di
kantor STM Al Fatah. Waktu sepuluh menit sebelum bel
berbunyi ia gunakan untuk membaca koran. Ia penasaran
pada sebuah judul berita: KARENABERBUAT CABUL,
SEORANG DEKAN MATI DIBUNUH DI RUANG
KERJANYA.
"Semarang - Sepandai-pandai orang menyimpan
bangkai, akhirnya kecium juga. Peribahasa ini agaknya
layak untuk S (55 tahun), Dekan Fakultas Teknik
Universitas Mangunkarsa Semarang. Perilaku cabulnya
kepada mahasiswi yang selama ini disembunyikannya
akhirnya terkuak. Ia tewas mengenaskan di ruang
kerjanya ditikam oleh H (26 tahun) mahasiswa Fakultas
Teknik yang marah karena isterinya bernama M (24
tahun) diperlakukan tidak senonoh oleh dekan jebolan
universitas terkemuka dari Amerika Serikat itu. Dua
mahasiswa suami isteri itu, H dan M kini ditahan pihak
berwajib untuk penyelidikan lebih lanjut...."
Zahrana berkata pelan dalam hati, "Becik ketitik olo
kethoro!"2 Ia lalu bertakbir dalam hati. Ia merasa doanya
dikabulkan oleh Allah. Yang jahat itu akhirnya mendapatkan
balasannya sendiri.
Setelah itu ia masuk kelas dengan penuh semangat.
Anak-anak didiknya ia ajak ke perpustakaan. Ia
menugaskan kepada mereka untuk membaca buku yang
berkenaan dengan puasa. Puasa dan hubungannya
dengan kesabaran. Seorang siswa yang kritis protes,
"Kok tugasnya membaca buku tentang puasa Bu.
Memang pelajaran kita ini pelajaran agama. Pelajaran
kita kan tentang menggambar teknik listrik Bu?"
Dengan tersenyum Zahrana menjawab,
"Justru itulah karena dalam menggambar teknik
listrik memerlukan kesabaran yang tinggi. Maka ibu
ingin kalian memiliki ruh kesabaran itu. Mumpung kita
masuk bulan puasa. Ayo kita kaji hubungan puasa
dengan kesabaran. Dan hubungan puasa dengan
penghematan. Dan juga hubungan puasa dengan prestasi
umat Islam. Kita ke perpustakaan selama dua jam
pelajaran. Kalian membaca yang serius. Hasil bacaan
kalian, kalian presentasikan satu per satu minggu depan."
Anak-anak siswa kelas satu itu sangat gembira.
Sebab diajak oleh guru masuk ke perpustakaan yang
2 Peribahasa Jawa, artinya: perbuatan baik akan diketahui, perbuatan buruk
juga akan tampak.
jarang mereka dapatkan. Bagi mereka, cara Bu Zahrana
mengajar itu berbeda dengan guru-guru yang lain. Selalu
ada hal yang baru. Mata pelajaran menggambar teknik
listrik di tangan Bu Zahrana jadi pelajaran yang sangat
mengasyikkan. Bisa masuk ke banyak hal tanpa
kehilangan fokus utama pelajaran.
Sore itu setelah shalat Ashar Zahrana pergi ke warung
untuk membeli kelapa, gula merah, dan tepung terigu.
la ingin membuat kolak untuk buka puasa. Juga
membuat mendoan dan bakwan. Ibunya ternyata sudah
menyiapkan es degan. Sudah dimasukkan di lemari es
sejak siang.
Pulang dari warung ia agak terkejut, sebab ada mobil
sedan tepat di depan rumahnya. Ia menduga-duga siapa
yang datang. Setelah masuk ia tahu kalau yang datang
ternyata Bu Dokter Zulaikha, ibundanya Hasan.
"Dari mana Bu Zahrana?" tanya Bu Zul.
"Dari warung Bu Zul, ini beli bahan-bahan untuk
bikin kolak. Sendirian ya Bu?"
Iya.
"Hasan apa kabarnya? Urusan beasiswanya ke
Malaysia beres semua?"
"Alhamdulillah Hasan baik-baik saja. Dia titip salam.
Dia tadi masih sibuk nulis-nulis entah nulis apa."
"Senang ibu berkenan dolan ke sini. Ini mampir atau
memang menyengaja ke sini?" tanya Zahrana santai.
"Menyengaja ke sini em..."
Ibunda Zahrana yang sedari tadi diam menyela,
"Nak, Bu Zul ini datang karena ada keperluan
penting denganmu. Katanya ada hal serius yang ingin
beliau konsultasikan denganmu. Sini biar ibu yang bikin
kolak, kau bisa bincang-bincang dengan beliau."
Bu Zul langsung menimpal, "Maaf jika kedatangan
saya mengganggu."
"O nggak apa-apa Bu," sahut Ibunda Zahrana cepat,
"saya tinggal ke belakang dulu ya Bu. Silakan bicara
dengan Zahrana," lanjutnya lalu pergi ke arah dapur.
Zahrana diam, Bu Zul pun diam. Suasana hening
sesaat.
"Eh..konsultasi apa ya Bu?" Zahrana memecah
keheningan.
"Eh ini. Tentang Hasan, anak saya."
"Ada apa dengan Hasan, Bu?"
"Sebelumnya maaf ya Bu, saya tidak bermaksud
menyinggung siapa-siapa lho. Karena saya tahu, ibu
termasuk yang didengar omongannya oleh Hasan,
maka saya konsultasi sama Bu Zahrana. Begini, dua
hari yang lalu Hasan minta nikah Bu. Menurut ibu
bagaimana? Padahal dia kan mau kuliah di Malaysia
Bu."
Zahrana mengerutkan dahi,
"Kalau menurut saya pribadi tidak ada salahnya
Hasan menikah baru ke Malaysia. Kalau bisa isterinya
dibawa, kalau tidak bisa ya tidak apa-apa isterinya
ditinggal di Indonesia. Toh Malaysia-Indonesia itu dekat.
Sekarang tiket pesawat juga murah."
"Apa menurut Ibu, Hasan sudah layak menikah?
Sudah layak punya isteri? Dan bisa bertanggung jawab
menghidupi anak jika punya anak?"
"Pendapat saya ini sangat subjektif dari saya Bu.
Menurut saya Hasan sudah sangat layak menikah.
Selama saya tahu dia di kampus, dia bisa diandalkan
tanggung jawab dan kepemimpinannya. Kenapa Ibu
masih ragu dengan anak sendiri?"
"Saya tidak ragu Bu. Tapi saya mencari kemantapan.
Biar mantap jika saya melepas Hasan ke dunia baru yang
penuh perjuangan dan aral melintang."
"Mantap saja Bu. Menikah dini bagi orang seperti
Hasan itu baik. Saya saja menyesal tidak menikah dini
dulu."
"Itulah kenapa saya kemari. Selain tentang diri
Hasan, saya ingin berdiskusi pada ibu tentang calon yang
diajukan Hasan."
"Semoga saja saya kenal dengan calon Hasan itu.
Dia kuliah sama dengan Hasan di Fakultas Teknik?"
"Tidak Bu. Saya langsung saja ya Bu. Maaf
sebelumnya, Hasan meminta kepada saya untuk
melamar Bu Zahrana. Calon yang diajukan Hasan, anak
saya itu Ibu."
Zahrana kaget bagai disambar Halilintar.
"S...saya Bu?!"
"Iya. Ibu. Anak saya ingin menikahi ibu!"
"Maaf, Bu. Mungkin Hasan cuma bercanda. Saya
tidak pernah berlaku yang tidak-tidak sama Hasan Bu,
sungguh." Jawab Zahrana dengan nada takut dan kuatir.
la kuatir jika Bu Zul itu datang untuk membuat
perhitungan dengannya. Takut kalau ia dianggap
berhubungan dengan Hasan.
"Nggak Bu, Hasan tidak bercanda. Anakku sangat
serius dalam hal ini."
"Kalau begitu Hasan salah pilih, Bu."
Bu Zul malah tersenyum,
"Bu Zahrana kok kelihatannya takut ada apa tho, Bu?"
"Ibu harus percaya pada saya Bu. Saya tidak punya
hubungan apapun dengan Hasan kecuali dosen dengan
muridnya Bu. Sungguh Bu!?"
Bu Dokter Zul itu geleng-geleng kepala dan
tersenyum. Dia langsung paham maksud Zahrana.
"Bu Zahrana, saya tidak pernah menuduh begitu.
Saya percaya pada ibu. Juga percaya pada anak saya.
Saya datang kemari untuk menunaikan janji saya pada
anak saya itu. Saya berjanji akan membantunya
menyunting gadis manapun yang ingin dinikahinya
selama akhlak dan agamanya bagus. Dan ketika Hasan
ingin menyunting Bu Zahrana, saya langsung setuju.
Sebab saya sudah tahu semuanya tentang ibu dari teman
ibu, yaitu Bu Lina. Saya berharap. Dan sangat berharap
Bu Zahrana tidak menolak pinangan ini. Ini pinangan
serius tapi belum resmi. Jika Bu Zahrana serius nanti saya
akan meminang secara resmi dengan membawa Hasan
dan ayahnya juga beberapa anggota keluarga."
Zahrana tidak tahu harus menjawab apa. Apa yang
disampaikan Bu Zul itu sangat jelas ia dengar dan sangat
jelas maksudnya. Tak ada yang tersembunyi lagi.
"Ibu sudah tahu say a tapi Hasan belum tahu saya Bu."
"Dia lebih tahu dari saya tentang diri Bu Zahrana.
Apa yang masih membuat Bu Zahrana ragu."
"Saya masih belum bisa percaya Bu. Ini hal gila.
Mahasiswa melamar dosennya. Apa kata dunia?"
"Harus bagaimana saya agar ibu percaya. Sumpah
demi Allah? Baiklah saya bersumpah demi Allah semua
yang saya sampaikan benar. Apa lagi? Hal gila? Tidak
Bu, tidak gila. Melangkah untuk mengikuti sunah Rasul
itu bukan ide gila. Itu ide baik. Dan mahasiswa meminang
dosen, apakah ada dalil yang mengharamkannya?"
"Saya tidak tahu harus bicara apa lagi."
"Berarti menerima. Tidak bicara berarti diam. Diam
tanda menerima."
"Saya ini lebih tua dari Hasan Bu. Dia cocoknya jadi
adik saya."
"Syariat tidak menentukan batasan umur. Ibu
memang lebih tua. Tapi tidak terpaut jauh. Cuma empat
tahun. Hasan umurnya 29. Mukanya memang baby
face. Bagi saya sendiri tidak masalah. Toh suami saya
juga lebih muda dua tahun dari saya."
"Saya belum bisa menerima Bu?"
"Kenapa? Kata ibu tadi Hasan sudah pantas menikah
dan memiliki isteri. Apa lagi? Apa ada dalam diri Hasan
suatu cacat yang menurut ibu layak ditolak lamarannya?"
Zahrana diam. la tidak tahu harus bagaimana. la
masih belum tahu apa yang terjadi. Hasan melamarnya?
Bagaimana mungkin? Tapi ibunya sedemikian serius. Apa
yang harus ia putuskan. Zahrana tetap diam.
"Diam berarti menerima. Saya pamit Bu, mana
ibunda tadi?"
Zahrana tersentak mendengar Bu Zul mau pamit. Ia
berdiri mengikuti Bu Zul yang sudah berdiri.
"Ibu benar-benar serius?"
"Iya."
"Hasan juga benar-benar serius?"
"Iya."
"Kalian sudah tahu kekuranganku dan mau menerimaku?"
"Iya. Tak ada manusia yang sempurna."
"Kalau begitu saya terima, tapi dengan syarat."
"Apa syaratnya?"
"Akad nikahnya nanti malam bakda shalat Tarawih
di masjid. Biar disaksikan oleh seluruh jamaah masjid.
Maharnya seadanya saja."
Kini gantian Bu Zul yang tersentak kaget. Ia tidak
menduga Bu Zahrana akan mensyaratkan begitu.
"Apa nggak sebaiknya akadnya setelah Idul Fitri
saja."
"Tidak. Ibu sudah tahu kan cerita saya selama ini.
Apa ibu ingin saya mati kaku gara-gara saya tidak jadi
nikah lagi. Saya tidak ragu dengan keseriusan ini. Saya
hanya kuatir ada hal-hal di luar kekuasaan kita yang
membatalkan rencana itu. Bagi saya lebih baik ya nanti
malam, atau tidak sama sekali."
Bu Zulaikha memandang wajah Zahrana lekat-lekat.
Wajah yang teduh, namun sangat berkarakter.
"Baiklah. Dalam hal ini saya tidak memutuskan
sendiri. Saya akan bicara sama anak dan keluarga. Saya
pamit dulu. Setelah Maghrib nanti saya telpon."
Dokter berjilbab itu pulang setelah bersalaman
dengan Zahrana dan ibunya. Zahrana memandang
sedan dokter itu hingga hilang di tikungan. Ada
kebahagiaan menyusup dalam hatinya. Tapi juga ada
kecemasan. la memang lagi bahagia. Namun untuk
membentengi diri agar tidak kecewa lagi setelah
kebahagiaan di depan mata, ia menganggap dialognya
dengan Bu Zul tadi hanya main-main. Dialog latihan
orang bermain drama atau sandiwara.
* * *
Azan Maghrib berkumandang. Tanda waktu buka
puasa tiba. Zahrana meneguk kolak dan makan
mendoan. Ada kenikmatan luar biasa saat buka.
Kenikmatan yang susah diungkapkan dengan kata-kata.
Hanya orang-orang yang berpuasa saja yang bisa
merasakannya. Pembicaraan dengan Bu Zul itu tidak
Zahrana sampaikan kepada ibunya. Ia tak ingin ibunya
kecewa jika yang diharapkan tak terjadi lagi.
Setelah shalat Maghrib Zahrana mendapat telpon
dari Bu Zul,
"Bu Zahrana. Mengenai keputusan syarat yang Bu
Zahrana ajukan, ini ibu langsung dengar sendiri suara
Hasan ya.."
Suara di hand phone Zahrana lalu berubah,
"Bu Zahrana ini Hasan. Saya setuju dengan syarat
ibu. Ibu siapkan wali dan saksinya saya akan siapkan
maharnya dan penghulunya. Kami sekeluarga insya
Allah berangkat sekarang, dan kami shalat Isya di masjid
dekat rumah Ibu."
"Kau serius Hasan?"
"Iya Bu."
"Kau bisa mencintaiku?"
"Iya Bu."
"Kalau begitu jangan lagi kaupanggil aku Ibu.
Panggil aku, Dik. Dik Zahrana. Coba kau bisa nggak?"
Zahrana merasa tak perlu malu.
"Saya coba...Dik Zahrana, tunggu aku di masjid."
Mata Zahrana berkaca-kaca mendengarnya. Ribuan
hamdalah menyesak dalam dada.
"Te..terima kasih. Kita bertemu di masjid, insya
Allah."
Sambungan ditutup.
Zahrana menangis tersedu-sedu. Melihat hal itu sang
ibu bingung dan bertanya-tanya pada Zahrana. Dengan
terisak-isak Zahrana menjelaskan apa yang terjadi. Sang
ibu turut menangis. Zahrana lalu sujud syukur. Dalam
sujudnya Zahrana memohon kepada Allah agar akad
nikah itu benar-benar terjadi. Tidak sekadar angan-angan
dan mimpi.
Dan pada malam kedua di Bulan Suci Ramadhan
itu, apa yang diharapkan Zahrana terjadi. Akad nikah
setelah shalat tarawih disaksikan oleh jamaah yang
membludak. Sebagian besar adalah tetangga Zahrana.
Mereka turut terharu. Saat akad nikah ibu Zahrana
menangis tersedu-sedu. Beberapa ibu-ibu juga menangis.
Malam itu Zahrana sangat bahagia. Hasan juga
merasakan hal yang sama. Usai akad nikah Hasan
mengajak Zahrana naik mobilnya menuju hotel
termewah di tengah Kota Semarang. Di dalam hotel,
dengan penuh kekhusyukan Zahrana menunaikan
ibadahnya sebagai seorang isteri. Ibadah yang sudah
lama ia tunggu-tunggu bersama seorang suami.
Di mata Hasan, Zahrana yang tampak manis
dengan jilbab putihnya ternyata jauh lebih manis ketika
rambutnya terurai. Hanya dia yang tahu seperti apa
manisnya Zahrana. Mereka berdua saling mengagumi,
saling mencintai dan saling menghormati.
Kebahagiaan Zahrana malam itu menghapus semua
derita yang dialaminya. Tasbih selalu mengiringi tarikan
naf asnya. Ia semakin yakin, bahwa Allah bersama orangorang
yang sabar dan ihsan. Malam itu, benar-benar
malam kesaksian Zahrana atas Tasbih, Tahmid dan Takbir
Cinta yang didendangkan Allah 'Azza wa Jalla kepadanya.
Subhaanallaah wal hamdulillaah, wa laailaahaillallaahu
wallaahu akbar!


Candiwesi-Salatiga-Pesantren Basmala-Semarang,
Ahad 30 Juli 2006 Pukul 15:51